Penulis: MUHAMMAD BARQI LAUQUN MAHFUD

ASAL USUL CANDI DERMO WONOAYU


 

Di zaman akhir Majapahit, di Desa Candinegoro hiduplah seorang gadis bernama Dermo Ayu. Ia anak seorang penjaga pelabuhan Terung, cantik dan terkenal sangat setia.

 

Dermo Ayu punya kekasih seorang prajurit muda Majapahit bernama Raden Bagus. Sebelum berangkat perang mengawal Raja Hayam Wuruk ke ujung timur, Raden Bagus berjanji di sebuah gapura bata merah:

 

Tunggulah aku di gapura ini. Jika aku kembali, gapura ini jadi saksi kita menikah. Jika aku tak kembali, anggap saja gapura ini adalah rumahku untukmu.

 

Bertahun-tahun Dermo Ayu menunggu di gapura itu. Setiap kapal lewat di sungai Brantas ia datangi, setiap prajurit pulang ia tanyai. Tapi Raden Bagus tak pernah kembali. Konon ia gugur di medan perang.

 

Warga kasihan melihat Dermo Ayu yang tak mau menikah dengan siapapun dan terus duduk di gapura dari pagi sampai malam, menatap jalan ke arah timur.

 

Suatu malam hujan deras, Dermo Ayu tertidur di bawah gapura karena kelelahan menunggu. Petir menyambar, gapura yang tadinya kokoh itu perlahan menutup, menyelimuti tubuhnya.

 

Pagi harinya warga mencari Dermo Ayu, tapi yang tersisa hanya gapura bata merah yang berdiri sendiri di tengah sawah. Di dinding bata itu, jika diperhatikan, ada ukiran yang mirip siluet seorang gadis yang sedang menunggu.

 

Sejak itu warga menamakan gapura itu Candi Dermo dari nama gadis yang setia menunggu. Katanya, sampai sekarang kalau ada yang datang dengan hati tulus dan menunggu di bawah gapuranya, keinginan setianya akan dikabulkan.