Kegelapan di dalam hanggar itu tidak murni hitam; itu adalah kegelapan yang bernapas. Saat Skyward Grace mendarat dengan dentuman magnetik yang pelan, lampu darurat interior kapal menyala redup, memberikan rona kemerahan pada wajah Kepin dan Joran yang masih melayang karena hilangnya gravitasi buatan.
Sambutan Tak Kasat Mata
"Joran, aktifkan sepatu magnetikmu," bisik Kepin. Suaranya terdengar sangat kecil di dalam kabin yang kedap.
Mereka melangkah keluar dari palka kapal, mendarat di lantai hanggar yang terbuat dari bahan seperti kaca hitam yang sangat halus. Anehnya, meskipun sistem kapal mati, di dalam stasiun ini terdapat oksigen yang cukup dan suhu yang stabil.
Di depan mereka, sesosok bayangan mulai terbentuk dari butiran debu perak yang melayang. Bayangan itu tidak memiliki wajah tetap, melainkan terus berubah bentuk mengikuti pantulan ingatan dari pikiran Kepin dan Joran.
"Selamat datang, para pencari frekuensi," suara itu bergema langsung di dalam kesadaran mereka, tanpa melalui udara. "Kalian membawa Kunci yang telah lama hilang. Kunci yang seharusnya mengakhiri siklus ini, atau justru mempercepatnya."
Ruang Singgasana Kesunyian
Bayangan itu menuntun mereka menyusuri lorong panjang yang dindingnya memajang ribuan kristal penyimpanan mirip dengan yang ada di oasis Lyria. Namun, kristal di sini tidak berwarna emas; mereka berwarna bening, kosong dari esensi apa pun.
"Tempat apa ini?" tanya Joran, tangannya tetap siaga di gagang pedang, meski ia tahu senjatanya mungkin tak berguna di sini.
"Ini adalah Perpustakaan Kesunyian," jawab entitas itu. "Tempat di mana jiwa-jiwa yang telah 'dibersihkan' oleh dua belas menara dikumpulkan. Sebelum mereka diubah menjadi bahan bakar bagi Jaring Kesunyian, mereka disimpan di sini dalam keadaan murni... tanpa ingatan, tanpa rasa sakit."
Kepin menghentikan langkahnya. Ia melihat koin di tangannya yang sekarang bersinar putih terang. "Jadi, Sang Arsitek hanyalah seorang pengumpul? Siapa yang sebenarnya mengonsumsi semua energi ini?"
Penguasa di Balik Tirai
Mereka tiba di sebuah ruangan bundar yang sangat luas di pusat stasiun. Di tengah ruangan, terdapat sebuah singgasana yang terbuat dari jalinan kabel saraf organik dan logam kuno. Di atas singgasana itu, duduk sesosok makhluk yang tampak sangat rapuh, hampir transparan, dengan ribuan kabel terhubung ke punggungnya.
"Aku adalah Dirigen Terakhir," makhluk itu membuka matanya, yang ternyata adalah dua lubang hitam kecil yang memancarkan kekosongan. "Dan aku sudah menunggu kalian untuk memberikan koin itu, agar aku bisa mematikan mesin ini... atau menyalakannya untuk terakhir kali."
Kepin menyadari sesuatu yang mengerikan. Stasiun ini bukan sekadar pusat kendali; ini adalah sebuah instrumen musik raksasa yang siap memainkan nada terakhir bagi seluruh galaksi.
"Jika aku memberikan koin ini padamu," suara Kepin bergetar, "apa yang akan terjadi dengan Lyria dan jiwa-jiwa di oasis?"