Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 25: Pelarian dari Cakrawala Merah


​Skyward Grace mengerang saat mesin Aether-nya dipaksa bekerja melampaui batas normal. Kabin yang biasanya penuh dengan candaan Lyria kini terasa dingin dan sunyi, hanya menyisakan suara napas Kepin yang berat dan deru statis dari sistem komunikasi yang rusak.

​Kemarahan Sang Arsitek 

​Di luar jendela kokpit, planet ini seolah sedang merobek dirinya sendiri. Tanpa kontrol atas jiwa-jiwa yang telah diamankan oleh Lyria, Sang Arsitek kehilangan keanggunannya. Tanah di bawah mereka meledak, mengeluarkan pilar-pilar energi hitam yang mencoba menggapai badan kapal seperti tentakel raksasa.

​"Kepin! Tekanan udara di sektor empat turun drastis!" Joran berteriak dari kursi co-pilot, tangannya sibuk menyeimbangkan distribusi energi. "Jika kita tidak mencapai atmosfer dalam dua menit, kapal ini akan hancur tertekan gravitasi liar!"

​"Aku tahu!" Kepin menarik tuas akselerasi hingga mentok. "Dia mencoba menarik kita kembali!"

​Menara bengkok di kejauhan kini mulai runtuh, namun dari reruntuhannya muncul pusaran badai elektromagnetik yang masif. Sang Arsitek mengeluarkan raungan terakhir melalui frekuensi radio—sebuah jeritan digital yang menyakitkan.

​Harapan dalam Kode 

​Tiba-tiba, layar navigasi yang tadinya buram menampilkan sebuah rute penerbangan yang sangat presisi. Titik-titik cahaya emas muncul di peta, menunjukkan celah di antara badai energi hitam tersebut.

​"Itu rute keluar," bisik Kepin. "Lyria... dia sedang membimbing kita dari bawah sana."

​Kepin mengikuti titik-titik emas itu, memiringkan kapal dengan manuver yang ekstrem. Skyward Grace meluncur melewati dua pilar energi yang beradu, menciptakan ledakan cahaya yang membutakan. Panas yang dihasilkan mulai mengelupas cat luar kapal, namun mereka terus menanjak.

​Menuju Kehampaan yang Damai 

​Dengan satu hentakan terakhir yang membuat punggung mereka tertekan keras ke kursi, kapal itu menembus lapisan atmosfer planet Marrow Desolation. Suara gemuruh angin dan jeritan Sang Arsitek mendadak lenyap, digantikan oleh keheningan ruang angkasa yang hampa.

​Di bawah mereka, planet merah itu tampak seperti luka yang menganga di kegelapan, namun di satu titik kecil yang tersembunyi di balik kawah, cahaya emas masih berdenyut pelan.

​"Kita berhasil keluar," ujar Joran, ia melepaskan sabuk pengamannya dengan tangan yang gemetar.

​Kepin tidak menjawab. Ia hanya menatap layar komunikasi yang kosong. Di sudut layar, sebuah ikon kecil berbentuk pohon kristal muncul, berkedip sekali seolah memberi salam perpisahan, sebelum akhirnya sistem kapal kembali ke mode normal.

​"Kita harus melaporkan ini ke Gilda," kata Kepin akhirnya, suaranya terdengar jauh lebih dewasa. "Dunia harus tahu apa yang terjadi di sini. Dan mereka harus tahu... tentang penjaga yang kita tinggalkan."