Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 24: Sinkronisasi Terakhir


Langit di atas kawah bukan lagi berwarna ungu tenang. Retakan-retakan hitam mulai menjalar, dan serpihan Marrow-Stone yang terbakar mulai berjatuhan seperti hujan api. Sang Arsitek tidak lagi mencoba masuk; ia mencoba mengubur oasis ini hidup-hidup.

​Perpisahan di Akar Cahaya 

​"Kepin, berikan pemindainya," ujar Lyria dengan suara yang sangat tenang di tengah gemuruh kehancuran. "Ini bukan tentang kematian. Ini tentang menjadi sesuatu yang lebih besar. Aku akan menjadi dirigen baru untuk mereka."

​Kepin merasakan jemarinya gemetar. Ia melihat wajah Joran yang terpaku, menatap langit yang runtuh dengan rahang mengeras. "Lyria... jika aku menyerahkan ini, aku tidak akan pernah bisa mendengar suaramu lagi di interkom kapal."

​"Kau akan mendengarku," Lyria tersenyum lembut, air mata mengalir di pipinya yang mulai berpendar cahaya keemasan. "Setiap kali kau menatap bintang yang bersinar paling terang, atau mendengar deru angin yang harmonis... itu adalah aku yang sedang mengatur simfoni ini."

​Dengan berat hati, Kepin menyerahkan perangkat pemindai itu. Saat tangan mereka bersentuhan, sebuah kejutan statis yang hangat merambat ke seluruh tubuh Kepin—sebuah memori singkat tentang tawa mereka di kantin akademi sebelum semua kegilaan ini dimulai.

​Proses Transfusi 

​Lyria melangkah ke celah di batang pohon kristal. Saat ia memasukkan pemindai ke dalam slot organik pohon tersebut, kabel-kabel cahaya mulai melilit tubuhnya. Cahaya biru esensi yang tersisa di tubuhnya perlahan berubah menjadi emas murni.

​SINKRONISASI JIWA:

[||||||||||] 100%

STATUS MODERATOR: AKTIF (LYRIA-01)

​"Pergilah!" suara Lyria kini bergema dari pohon itu sendiri, berlapis dengan ribuan suara lain yang kini terdengar damai. "Gunakan energi ledakan sinkronisasi ini untuk melontarkan kalian kembali ke permukaan! Kapal kalian sudah menunggu!"

​Sebuah gelombang kejut berwarna emas meledak dari pusat pohon, menyapu seluruh kawah. Gelombang itu tidak menghancurkan, melainkan mengangkat Kepin dan Joran ke atas, membungkus mereka dalam gelembung pelindung yang menembus hujan meteor tulang.

​Kembali ke Langit Merah 

​Dari ketinggian, Kepin melihat oasis itu untuk terakhir kalinya. Kawah itu kini tertutup sepenuhnya oleh runtuhan, namun di bawah tumpukan tulang yang mati itu, sebuah cahaya emas tetap bersinar terang—sebuah jantung yang berdenyut di tengah planet yang sekarat.

​Mereka mendarat dengan keras di dekat Skyward Grace yang masih berasap. Sistem kapal tiba-tiba menyala sendiri. Lampu kokpit berkedip hijau, dan layar kendali menampilkan satu pesan terakhir:

​"Safe travels, Captain. Simfoni kita belum berakhir."

​Joran membantu Kepin berdiri. Mereka menatap menara Sang Arsitek di kejauhan yang kini tampak redup, seolah-olah ia baru saja kehilangan sumber kekuatannya yang paling berharga.