Hologram Kapten Elara berkedip pelan, memancarkan cahaya keemasan yang terasa hangat di kulit mereka yang lebam. Di sekeliling mereka, pohon kristal itu berdengung rendah, sebuah frekuensi murni yang menetralkan sisa-sisa trauma dari menara Sang Arsitek.
Penjara Emas
"Pohon ini bukan sekadar pelindung," jelas Elara, jemarinya yang transparan menyentuh batang kristal yang bercahaya. "Ini adalah Server Organik. Jiwa-jiwa yang kalian bawa di dalam pemindai itu... mereka tidak bisa kembali ke tubuh fisik yang sudah hancur. Mereka membutuhkan ekosistem baru agar tidak lenyap menjadi data sampah."
Kepin mengangkat pemindai itu. "Maksudmu, kami harus mengunggah mereka ke dalam pohon ini?"
"Ya," jawab Elara tenang. "Namun, sistem ini memerlukan seorang Moderator. Seseorang yang bisa memisahkan kesadaran murni dari korupsi Sang Arsitek secara terus-menerus. Jika tidak, virus Sang Arsitek akan ikut terunggah dan menghancurkan oasis terakhir ini dari dalam."
Pengorbanan yang Nyata
Joran mengepalkan tangannya. "Seseorang harus tinggal di sini? Menjadi penjaga selamanya?"
Lyria menatap akar pohon yang bersinar. Sebagai seorang Aether-Seeker, ia bisa merasakan beban dari ribuan jiwa yang berdesakan di dalam pemindai Kepin. Ia tahu bahwa tanpa pengawasan yang tepat, jiwa-jiwa itu akan saling menghancurkan dalam kegilaan digital.
"Biar aku yang melakukannya," bisik Lyria.
"Tidak!" Kepin menyambar lengan Lyria. "Kita datang ke sini bersama-sama, kita pergi bersama-sama. Kita bisa mencari cara lain, Lyria. Pasti ada kode atau algoritma yang bisa menggantikan peran manusia!"
"Kepin, lihat tanganku," Lyria mengangkat tangannya yang mulai tampak sedikit transparan, efek dari paparan radiasi sonik di menara tadi. "Aku sudah terinfeksi frekuensi Sang Arsitek. Jika aku kembali ke kapal, aku hanya akan menjadi pelacak bagi dia untuk menemukan kalian. Tapi di sini... di dalam frekuensi pohon ini, aku bisa sembuh sambil menjaga mereka."
Keputusan Terakhir
Tiba-tiba, langit ungu di atas kawah mulai retak. Suara dentuman keras bergema dari luar—Sang Arsitek mulai menghujani kawah tersebut dengan meteor-meteor tulang dari permukaan.
"Waktu kalian habis," ujar Elara dengan nada mendesak. "Pilihannya adalah kehilangan semuanya sekarang, atau membiarkan satu orang menjaga masa depan bagi ribuan jiwa ini."
Kepin menatap Lyria, matanya berkaca-kaca. Di tangan satunya, ia memegang pemindai data, dan di tangan lainnya, ia memegang tangan sahabat yang telah menemaninya melintasi galaksi. Sementara itu, Joran bersiap dengan pedangnya, menatap ke langit yang mulai runtuh, menunggu perintah terakhir dari kaptennya.