Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 22: Cahaya Palsu di Ujung Terowongan


Kereta tambang itu melesat seperti peluru di dalam kegelapan, menciptakan suara jeritan logam yang memekakkan telinga. Di belakang mereka, banjir cairan biru esensi itu hanya berjarak beberapa meter, mengeluarkan suara seperti ribuan bisikan yang menuntut untuk dikembalikan.

​Keluar dari Perut Bumi 

​Cahaya putih di ujung terowongan semakin membesar, menyilaukan mata mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan. Dengan satu sentakan terakhir, kereta itu terlontar keluar dari mulut terowongan—namun mereka tidak mendarat di dataran tulang yang mereka kenal.

​Brak!

​Kereta itu menghantam tumpukan pasir kristal yang lembut, terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dalam posisi terbalik. Kepin terlempar keluar, memeluk pemindai data itu seolah-olah itu adalah nyawanya sendiri.

​Saat debu kristal mulai mengendap, mereka menyadari bahwa mereka berada di sebuah Oasis Tersembunyi di tengah kawah raksasa yang tidak terlihat dari permukaan. Di sini, langit tidak berwarna merah darah, melainkan ungu senja yang tenang. Di tengah oasis itu berdiri sebuah pohon raksasa yang terbuat dari serat optik dan kristal, akarnya bersinar dengan cahaya keemasan yang hangat.

​Perlindungan yang Tak Terduga 

​"Tempat apa ini?" bisik Lyria, berdiri dengan susah payah sambil menatap pohon kristal tersebut.

​Cairan biru Sang Arsitek yang mengejar mereka tiba-tiba berhenti di mulut terowongan. Massa cair itu bergejolak, seolah-olah ada dinding transparan yang menghalanginya untuk masuk ke area kawah ini. Sosok wajah-wajah di dalam cairan itu tampak ketakutan, lalu perlahan-lahan mundur kembali ke dalam kegelapan terowongan.

"Sesuatu di tempat ini menolak frekuensi Sang Arsitek," ujar Joran, ia menyarungkan pedangnya dan mendekati pohon itu. "Lihat akarnya... ini bukan mesin, tapi juga bukan tumbuhan alami."

​Frekuensi Murni 

​Kepin melihat ke pemindai di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak mereka mendarat di planet ini, indikator gangguan di layarnya menunjukkan angka 0.0%.

​STATUS SISTEM: > Interferensi Kehampaan: Tereliminasi.

Sinyal Sinkronisasi Ditemukan.

​Tiba-tiba, dari balik batang pohon kristal, muncul sebuah proyeksi hologram. Bukan sosok monster atau mesin, melainkan seorang wanita tua dengan pakaian jubah Gilda Penjelajah yang sudah sangat usang.

"Selamat datang, anak-anakku," suara hologram itu sangat lembut, jauh berbeda dengan suara Sang Arsitek yang tajam. "Kalian membawa beban yang berat di dalam kotak kecil itu. Aku telah menunggu seseorang yang cukup berani untuk mencuri 'instrumen' milik Sang Dirigen."

​Lyria melangkah maju, "Siapa kau? Dan kenapa Sang Arsitek tidak bisa masuk ke sini?"

"Aku adalah sisa ingatan dari Kapten Elara, pemimpin ekspedisi pertama," jawab hologram itu. "Dan tempat ini... ini adalah Ruang Kedap. Ini adalah satu-satunya tempat di planet ini di mana frekuensi asli kehidupan masih tersimpan. Tapi waktu kita tidak banyak. Sang Arsitek tidak bisa masuk, tapi dia bisa menghancurkan kawah ini dari luar."