Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 21: Pengorbanan Digital


Ruangan itu dipenuhi suara desis cairan biru yang mulai memadat menjadi bentuk yang mengerikan—sebuah entitas amorf dengan ribuan wajah yang timbul-tenggelam di permukaannya. Itulah manifestasi fisik dari ribuan kesadaran yang telah rusak oleh Sang Arsitek.

​Pilihan yang Menghancurkan 

​Kepin berlutut di depan konsol gerbang, jarinya menari di atas layar yang retak. "Sial! Protokol penguncian ini menggunakan enkripsi jiwa! Aku tidak bisa membukanya dengan kode standar!"

​Joran menebas tentakel cairan yang mencoba melilit kakinya. Cairan itu terbelah, namun segera menyatu kembali seperti air raksa. "Kepin! Pintunya tinggal terbuka tiga puluh sentimeter! Apa pun yang kau lakukan, lakukan sekarang!"

​Kepin melihat ke pemindai data di tangannya—wadah bagi ribuan jiwa yang baru saja ia selamatkan. Ia menyadari sesuatu yang pahit. "Enkripsi jiwa... hanya bisa dibuka dengan kunci yang setara."

​"Apa maksudmu?" Lyria bertanya, sambil menghindari semburan cairan asam dari Sang Arsitek.

"Aku harus melepaskan sebagian kecil data dari pemindai ini ke dalam sistem pintu," suara Kepin bergetar. "Aku harus mengorbankan beberapa kesadaran ini untuk bertindak sebagai 'umpan' agar sistem berpikir bahwa administrator sedang lewat."

​Suara-Suara yang Menghilang 

​Lyria tertegun. "Maksudmu... menghapus mereka? Setelah semua yang kita lalui untuk menyelamatkan mereka?"

​"Bukan menghapus," bantah Kepin dengan wajah pedih, "tapi membiarkan mereka menyatu dengan sistem ini selamanya agar kita bisa keluar. Jika tidak, kita semua—dan ribuan jiwa lainnya—akan berakhir di dalam perut makhluk itu!"

​Dengan berat hati, Kepin memilih segmen data yang paling tidak stabil. Saat ia mentransfer data tersebut ke konsol, terdengar jeritan elektronik yang menyayat hati dari pengeras suara. Gerbang baja itu mengerang, lalu perlahan-lahan terangkat kembali.

​Pelarian di Jalur Maut 

"Masuk ke kereta! Sekarang!"

​Mereka bertiga melompat ke atas kereta tambang tua yang berkarat. Kepin menghantam tuas penggeraknya dengan gagang pistolnya. Kereta itu tersentak, roda logamnya memercikkan api saat mulai meluncur di atas rel yang menurun tajam.

​Di belakang mereka, Sang Arsitek mengeluarkan raungan frekuensi rendah yang membuat dinding gua runtuh. Massa cair itu mengejar mereka, mengalir di sepanjang rel seperti banjir bandang berwarna biru elektrik.

"Dia tidak mengejar kita!" teriak Lyria sambil menunjuk ke arah belakang. "Dia mengejar pemindainya! Dia menginginkan sisa jiwanya kembali!"

​Kereta meluncur semakin cepat, memasuki terowongan sempit yang gelap gulita. Kepin mendekap pemindai itu erat-erat di dadanya. Di tengah kegelapan, ia menyadari satu hal: data yang tersisa di tangannya kini tidak lagi hanya sekadar kode, tapi telah menjadi beban moral yang akan menghantuinya selamanya.