Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 20: Labirin Tulang dan Besi


​Sensasi jatuh itu terasa abadi. Angin dingin menderu melewati telinga mereka saat mereka meluncur di dalam terowongan pembuangan yang sempit dan berliku. Dinding-dindingnya bukan lagi logam halus, melainkan perpaduan antara akar mesin dan fosil purba yang mencuat tajam.

​Dasar yang Kelam 

​Brak!

​Mereka mendarat di atas tumpukan material lunak yang ternyata adalah tumpukan kabel-kabel tua dan debu organik. Cahaya di dalam sini sangat minim, hanya berasal dari sisa-sisa pendaran perangkat Kepin yang retak.

​"Semua... masih utuh?" tanya Kepin sambil meraba dadanya, memastikan pemindai data itu masih ada di sana.

"Hanya beberapa memar," sahut Lyria, suaranya bergema di ruang bawah tanah yang luas. "Tapi sinyal Sang Arsitek... aku masih bisa merasakannya. Dia tidak hancur bersama Warden itu. Dia adalah menara ini sendiri."

​Joran berdiri, menyalakan suar cahaya kecil. Cahaya itu mengungkapkan pemandangan yang mengerikan: mereka berada di Kamar Pembakaran Esensi. Di sekeliling mereka, ribuan tabung kaca berisi cairan biru kental berjejer, masing-masing menyimpan sisa-sisa kehidupan yang belum sempat "diunduh" oleh menara.

​Gema Sang Arsitek 

"Kalian pikir kalian telah menyelamatkan mereka?"

​Suara Sang Arsitek kembali terdengar, kali ini berasal dari setiap kabel yang menjuntai di langit-langit. Suaranya tidak lagi marah, melainkan terdengar geli.

"Kalian hanya memindahkan narapidana dari satu penjara ke penjara lain. Data yang kalian bawa itu... mereka bukan lagi manusia. Mereka adalah kepingan instrumenku. Dan sekarang, kalian telah membawa 'kunci' itu langsung ke jantung rumahku."

​Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Tabung-tabung kaca itu mulai pecah satu per satu. Cairan biru di dalamnya meluap, berkumpul menjadi satu massa cair yang mulai membentuk sosok raksasa di tengah ruangan.

​Jalan Keluar yang Mustahil 

​"Kepin, lihat!" Lyria menunjuk ke ujung ruangan. "Ada rel kereta tambang tua yang mengarah keluar dari bawah tanah ini! Itu pasti jalur logistik kuno!"

​"Joran, tahan massa itu!" perintah Kepin. "Aku butuh waktu untuk menyabotase gerbang otomatis di jalur itu!"

​Joran menghunuskan pedangnya yang kini hanya bersinar redup. "Cepatlah! Aku tidak yakin bisa menebas cairan yang bisa berpikir!"

​Massa biru itu mulai membentuk tentakel-tentakel besar yang bergerak seperti konduktor orkestra. Setiap ayunannya menciptakan gelombang tekanan udara yang menghancurkan tabung-tabung di sekitarnya. Sementara itu, di ujung jalur rel, sebuah pintu baja berat mulai bergeser menutup secara otomatis karena protokol darurat menara.