Tekanan gravitasi itu terasa seperti ada gunung yang diletakkan di atas pundak mereka. Kepin terengah-engah, wajahnya ditekan ke lantai logam yang dingin, sementara Lyria berusaha mempertahankan koneksi datanya dengan tangan yang gemetar hebat.
Entitas dalam Mesin
Sosok Warden yang dirasuki itu melayang beberapa inci dari lantai. Asap hitam yang keluar dari sela-sela logamnya membentuk jubah bayangan yang berkibar meskipun tidak ada angin. Lensa matanya yang hitam pekat menatap koin Void Bringers yang masih tertancap di punggungnya.
"Koin itu..." suara Sang Arsitek terdengar seperti perpaduan ribuan nada yang sumbang. "Itu adalah bagian dari detak jantungku yang kalian curi dari kedalaman. Berikan kembali, dan aku mungkin akan membiarkan esensi kalian tetap utuh di dalam simfoni ini."
"Jangan... dengarkan... dia!" Joran menggeram. Dengan sisa tenaganya, ia menggunakan pedangnya sebagai penyangga untuk berdiri tegak, meski kakinya gemetar menahan tekanan gravitasi. "Dia hanya... parasit yang memakan ingatan orang mati!"
Serangan Balik Terakhir
Kepin melirik layar pemindainya yang terletak hanya beberapa senti dari wajahnya.
PROGRESS UNDUHAN: 89%
STATUS KOIN: OVERLOAD DETECTED
"Lyria! Jika aku membalikkan polaritas koinnya sekarang, itu akan menciptakan ledakan vakum!" bisik Kepin melalui interkom helmnya yang retak. "Itu akan menghentikan gravitasinya, tapi menara ini akan mulai runtuh!"
"Lakukan!" teriak Lyria. "Data hampir selesai!"
Kepin meraih sebuah tombol kecil di pergelangan tangannya—pemicu jarak jauh yang ia siapkan untuk keadaan darurat. Dengan satu tekanan jempol, ia memicu feedback frekuensi pada koin tersebut.
Kehancuran yang Indah
Bukannya meledak dengan api, koin itu justru meledak dengan kegelapan. Cahaya di dalam ruangan tersedot masuk ke satu titik di punggung sang Warden. Tekanan gravitasi mendadak hilang, membuat Joran dan Lyria terpental ke atas.
Sang Arsitek menjerit—sebuah frekuensi yang begitu tinggi hingga kaca-kaca di seluruh menara pecah berkeping-keping. Tubuh mekanis Warden itu mulai terkelupas, ditarik masuk ke dalam lubang hitam kecil yang diciptakan oleh koin tersebut.
"Sekarang! Lari ke arah poros tengah!" perintah Kepin sambil menyambar pemindai Lyria yang sudah menunjukkan angka 100%.
Mereka melompat ke arah lubang pembuangan udara di tengah poros mekanis tepat saat seluruh lantai aula mulai terangkat dan hancur tertelan pusaran vakum. Di bawah mereka, para penjaga zirah yang tadinya berlutut kini ikut tersedot ke dalam kehampaan, hancur menjadi serpihan debu atom.