Pintu gerbang di bawah mulai melengkung. Dentuman logam yang beradu dengan logam terdengar seperti lonceng kematian yang semakin mendekat. Joran berdiri di depan pintu, menancapkan pedangnya ke celah lantai untuk menciptakan tumpuan kekuatan.
"Kepin! Pilih sekarang!" teriak Joran. "Satu menit lagi, dan kita akan menjadi bagian dari koleksi zirah berkarat di luar sana!"
Dilema di Ujung Jari
Kepin menatap panel inti kristal yang berdenyut tidak stabil. Di satu sisi, menghancurkan inti adalah jalan keluar tercepat. Di sisi lain, ribuan bisikan yang memenuhi ruangan itu terasa begitu nyata, memohon untuk tidak dihapuskan.
"Lyria, sambungkan pemindaimu ke port sekunder!" perintah Kepin tiba-tiba. Ia memutuskan untuk bertaruh. "Aku akan mencoba melakukan Neural Dump. Kita akan memindahkan data kesadaran mereka ke dalam memori cadangan Skyward Grace melalui relai nirkabel koin ini!"
"Tapi kapasitasnya tidak akan cukup untuk semua orang!" Lyria berseru sambil menyolokkan kabel dari perangkatnya ke konsol yang berasap.
"Kita ambil apa yang bisa kita selamatkan!"
Proses Penyelamatan
Kepin mulai mengetik kode-kode enkripsi dengan kecepatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Di layar pemindai, aliran data mulai mengalir—garis-garis kode emas yang mewakili ingatan, emosi, dan identitas para peneliti yang hilang.
PROGRESS UNDUHAN:
[|||||-----] 42%
STABILITAS INTI: KRITIS
Tiba-tiba, suara bisikan itu menjadi satu suara yang jelas di kepala mereka semua. "Terima kasih... tapi dia... dia tidak akan membiarkan kalian pergi..."
"Siapa?!" tanya Lyria panik.
Lensa merah Resonance Warden yang tadinya redup mendadak menyala kembali, tapi kali ini bukan warna merah atau biru. Warnanya hitam pekat, seolah-olah menyedot cahaya di sekitarnya. Makhluk itu bangkit berdiri, namun gerakannya tidak lagi kaku. Ia bergerak dengan keanggunan yang mengerikan.
Kehadiran Sang Arsitek
"Bukan robot," gumam Joran, bulu kuduknya berdiri. "Sesuatu... sedang merasuki mesin itu."
Warden itu mengangkat tangannya, dan gelombang gravitasi mendadak menekan mereka bertiga hingga berlutut di lantai. Tekanan itu begitu kuat hingga tulang rusuk Kepin terasa akan patah.
"Anak-anak kecil yang berisik," suara itu bergema bukan dari pengeras suara, melainkan langsung di dalam saraf mereka. "Kalian mencoba mencuri instrumen dari simfoniku?"
Pintu besar di belakang Joran akhirnya jebol. Namun, bukannya menyerang, para penjaga zirah di luar justru masuk dan berlutut serentak di hadapan Warden yang telah dirasuki tersebut.