Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 15: Simfoni Logam Tua


​Sosok-sosok berbaju zirah itu bergerak dengan kaku, seolah sendi-sendi mereka telah menyatu dengan karat selama satu dekade. Namun, kecepatan mereka saat menyerang sangat kontradiktif dengan penampilan mereka yang rapuh.

​Pertempuran di Antara Kerangka 

"Jangan biarkan mereka mengepung kita!" teriak Joran. Ia melompat maju, pedangnya menebas udara dan menciptakan busur cahaya ungu yang membelah kabit.

​Dua sosok zirah terlempar ke belakang, namun mereka tidak jatuh. Alih-alih darah, asap biru elektrik menyembur dari celah zirah yang pecah, dan bagian-bagian tubuh mereka mulai menyatu kembali seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata.

​Kepin tidak tinggal diam. Ia melemparkan sebuah Pulse Grenade ke kerumunan musuh.

​STATUS SENJATA: EMP Aktif.

OUTPUT: 1.2 Gigawatt (Singkat).

​Ledakan itu melumpuhkan sistem saraf mekanis para penjaga zirah tersebut selama beberapa detik. "Joran, mereka bukan manusia lagi! Mereka adalah automaton yang digerakkan oleh frekuensi menara!"

​Rahasia di Balik Jurnal 

​Di tengah kekacauan, Lyria terus membolak-balik halaman jurnal yang ia temukan. Matanya bergerak cepat, mencari cara untuk menghentikan serangan tanpa akhir ini.

"Kepin! Joran! Mereka tidak menyerang kita karena insting!" seru Lyria di tengah denting logam. "Jurnal ini mengatakan bahwa setiap pergerakan di padang ini adalah bagian dari 'Simfoni'. Kita harus mengganggu konduktornya!"

​Ia menunjuk ke arah menara bengkok yang kini berdenyut semakin cepat. Setiap kali menara itu memancarkan cahaya biru, para penjaga zirah itu bergerak lebih sinkron, seolah-olah mereka adalah instrumen dalam sebuah orkestra kematian.

​Pelarian yang Nekat 

"Kita tidak bisa memenangkan pertarungan ini di sini," ujar Joran, napasnya mulai tersengal. "Kepin, apakah pemindaimu bisa melacak titik buta dari frekuensi itu?"

​Kepin mengutak-atik perangkat di lengannya. "Jika kita bisa masuk ke dalam struktur menara, dinding-dindingnya yang terbuat dari Marrow-Stone akan bertindak sebagai isolator. Tapi kita harus menembus barisan depan mereka sekarang!"

​Dengan satu koordinasi yang cepat, Kepin menyetel alat pemindainya ke mode Overload, menciptakan distorsi suara yang memekakkan telinga. Para penjaga zirah itu tersentak, tangan-tangan mereka menutupi bagian kepala zirah yang kosong.

​"Lari!"

​Mereka bertiga meluncur melewati kamp yang hancur, berlari sekuat tenaga menuju dasar menara yang menjulang. Di belakang mereka, kabut ungu mulai berputar menjadi pusaran besar, dan suara tawa parau yang tidak manusiawi mulai bergema dari arah menara—sebuah sambutan bagi tamu yang tak diundang.