Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

Bab 14: Sisa-Sisa Kehidupan


Langkah kaki mereka menimbulkan suara retakan kecil yang bergema di tengah kesunyian Marrow Desolation. Tanah yang mereka pijak bukanlah tanah biasa, melainkan hamparan fosil raksasa yang telah memutih selama berabad-abad. Udara di sini terasa berat, membawa aroma ozon dan logam tua yang menyengat.

​Di Bawah Bayang-Bayang Menara 

​Kepin memimpin di depan, membawa tas peralatan dan pemindai energi portabel yang layarnya terus berkedip merah. Di belakangnya, Joran tetap waspada dengan tangan yang tak pernah jauh dari gagang pedangnya, sementara Lyria berjalan sambil memegangi dadanya, mencoba mengatur napas yang terasa sesak.

"Jarak ke menara itu sekitar dua kilometer," ujar Kepin, matanya terpaku pada alat pemindai. "Tapi ada yang aneh. Sinyal resonansinya tidak stabil. Seolah-olah menara itu... bernapas."

​Tiba-tiba, pemindai Kepin mengeluarkan suara melengking tajam.

​Peringatan: Fluktuasi Energi Terdeteksi.

Level Dekat: 8.5 R-Scale.

Status: Berbahaya.

​Temuan Tak Terduga 

​Di balik sebuah lengkungan tulang rusuk raksasa yang menyerupai gerbang, mereka menemukan sesuatu yang membuat langkah mereka terhenti. Itu bukan sekadar reruntuhan, melainkan sebuah kamp penelitian kecil yang tampak terbengkalai. Tenda-tenda yang terbuat dari kulit binatang sintetis itu sudah sobek-sobek, dan beberapa kontainer logistik berlogo Gilda Penjelajah berserakan di tanah.

​"Mustahil," bisik Joran, ia melangkah mendekati salah satu kontainer. "Gilda tidak pernah mengirim ekspedisi ke wilayah zona merah ini sejak sepuluh tahun lalu."

​Lyria berlutut di depan sebuah meja kayu yang sudah lapuk. Di atasnya, terdapat sebuah jurnal kecil yang terbuka. Halamannya telah menguning, namun tulisannya masih bisa terbaca di bawah cahaya redup langit merah.

​Catatan Terakhir: "Frekuensi itu bukan serangan. Itu adalah panggilan. Kami pikir kami sedang meneliti fosil, tapi kami justru membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur. Jika ada yang menemukan ini, jangan mendekati menara saat bulan kedua terbit." ​Ancaman di Balik Kabut 

​Saat Lyria selesai membaca kalimat itu, sebuah getaran halus terasa di bawah kaki mereka. Kabut ungu tipis mulai merayap dari celah-celah tulang, menelan kamp tersebut dalam hitungan detik.

​Dari dalam kabut, terdengar suara langkah kaki yang berat dan terseret—suara yang tidak terdengar seperti manusia, namun juga bukan suara Void Assassins yang tadi menyerang mereka.

​"Kepin, Joran..." suara Lyria bergetar, "Lihat ke arah menara."

​Cahaya di puncak menara bengkok itu mendadak menyala terang, memancarkan gelombang kejut berwarna biru elektrik yang menyapu seluruh padang tulang. Di saat yang sama, sosok-sosok dengan baju zirah yang telah berkarat dan mata yang menyala biru dingin mulai bermunculan dari balik kabut, mengepung mereka.

"Sepertinya kita baru saja menemukan apa yang terjadi pada tim ekspedisi sepuluh tahun lalu," gumam Joran sambil mencabut pedangnya. Cahaya ungu dari pedangnya kini beradu dengan kabut yang semakin pekat.