Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

​Bab 13: Gema dari Kehampaan


Guncangan itu tidak terasa seperti tabrakan fisik biasa. Saat moncong Skyward Grace menghantam pusat pusaran energi hitam tersebut, dunia seolah terlipat ke dalam. Suara logam yang berderit digantikan oleh dengungan rendah yang menggetarkan tulang, sebuah harmoni frekuensi yang dipaksakan oleh koin peninggalan Void Bringers.

​Ledakan Frekuensi 

​"Bertahanlah!" teriak Kepin, tangannya mencengkeram tuas kendali hingga buku jarinya memutih.

​Cahaya ungu pekat meledak dari titik kontak, menyapu rantai-rantai bayangan yang melilit kapal. Makhluk-makhluk Void Assassins yang tadinya tak kasat mata kini menjerit—suara mereka seperti gesekan kaca di dalam kepala. Tubuh-tubuh transparan mereka mulai retak, hancur menjadi partikel debu perak sebelum akhirnya lenyap tertelan resonansi.

​Kapal itu terlempar keluar dari pusaran, meluncur tak terkendali melewati awan debu Marrow Desolation. Joran terjerembap ke lantai dek, pedangnya berdenting keras saat ia berusaha menahan gravitasi yang mendadak kacau.

​Pendaratan di Padang Tulang 

​Sesaat kemudian, keheningan yang memekakkan telinga menyelimuti kokpit. Skyward Grace menghantam permukaan tanah dengan dentuman keras, membajak hamparan tulang raksasa yang kering hingga menciptakan parit panjang. Debu putih mengepul hebat, menutupi pandangan dari jendela kokpit.

​Status Mesin: Mati total. ​Sistem Aether: Tidak merespons. ​Oksigen Cadangan: 85%. 

​Kepin terbatuk, mengibaskan asap tipis yang muncul dari konsol kontrol yang terbakar. "Lyria? Joran? Kalian masih di sana?"

​Lyria bangkit perlahan, wajahnya yang pucat kini tampak sedikit lebih tenang meski tangannya masih gemetar. "Energi kehampaan di area ini sudah stabil... untuk sementara. Resonansi tadi berhasil memutus siklus pemanggilan mereka."

​Joran berdiri dengan sisa tenaganya, menyarungkan kembali pedang ungunya. Ia menatap ke luar jendela yang retak. Di hadapan mereka, hamparan Padang Tulang membentang luas di bawah langit merah yang temaram. Di kejauhan, sebuah struktur kuno yang menyerupai menara bengkok terlihat menjulang, memancarkan aura dingin yang sama dengan koin yang tadi mereka gunakan.

​Rahasia yang Menunggu 

"Kita tidak jatuh di sini secara kebetulan," bisik Joran sambil menunjuk ke arah menara tersebut. "Koin itu... ia tidak hanya menghancurkan musuh. Ia membimbing kita pulang ke tempat asalnya."

​Kepin menarik napas dalam, merasakan udara dingin yang mulai menyusup ke dalam kabin. Mereka memang selamat dari pertempuran di udara, namun tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai di permukaan Marrow Desolation.