Guncangan di Langit
Ledakan bom energi mengguncang lambung Skyward Grace dengan suara dentuman metalik yang memekakkan telinga. Kapal udara itu miring tajam ke arah kiri, memaksa Kepin untuk mencengkeram tuas kemudi dengan buku jari yang memutih.
"Lyria! Aktifkan protokol Aether-Shield sekarang!" teriak Kepin di tengah deru angin yang masuk melalui celah dinding kapal yang retak.
Lyria, yang masih menstabilkan diri di depan konsol pemantau, dengan cepat memasukkan kode frekuensi. "Sihir pelindung kita tidak berguna, Kepin! Mereka menggunakan partikel antimana. Aku harus membalikkan polaritas kristal gravitasi untuk menciptakan tolakan fisik!"
Di luar jendela kokpit, pemandangan berubah mencekam. Rantai-rantai bayangan yang melilit mesin kapal mulai mengeluarkan asap hitam pekat. Sosok-sosok tanpa wajah—Void Assassins—bergerak dengan kecepatan yang menentang hukum fisika, merayap di dinding luar kapal seolah-olah gravitasi hanyalah saran semata.
Duel di Dek Atas
Satu sosok Void Assassin berhasil menembus kaca dek observasi. Kapten Joran langsung menyambutnya dengan tebasan pedang plasma, namun pedangnya hanya menembus tubuh bayangan itu seperti memotong kabut.
"Sial! Mereka benar-benar imaterial!" kutuk Joran. Ia melompat mundur saat sang pembunuh mengayunkan belati yang terbuat dari kegelapan murni.
Lyria berteriak dari ruang kendali, "Kapten! Gunakan frekuensi resonansi dari Resonance Seeker! Hanya energi yang sepadan dengan kekosongan yang bisa menyentuh mereka!"
Mendengar itu, Kepin melepaskan satu tangan dari kemudi dan melemparkan koin perak peninggalan The Void Bringers yang tadi ia pegang ke arah Joran. "Gunakan energinya, Joran!"
Begitu Joran menangkap koin tersebut, pedangnya berpendar dengan cahaya ungu redup yang bergetar hebat. Tebasan berikutnya tidak lagi menembus kabut; kali ini, pedang itu berbenturan dengan suara denting baja yang nyata. Sang pembunuh terhempas, tubuh bayangannya mulai retak sebelum akhirnya pecah menjadi debu hampa.
Mendekati Padang Tulang
"Kita masuk ke zona merah!" seru Lyria. Di layar radar, titik-titik merah yang mewakili musuh kini jumlahnya puluhan, mengepung Skyward Grace dari segala arah.
Di bawah mereka, hamparan putih Marrow Desolation (Padang Tulang) mulai terlihat jelas. Jutaan tulang belulang raksasa yang sudah membatu membentuk labirin alami yang mengerikan. Di tengah-tengah padang itu, sebuah pusaran energi hitam—pintu masuk menuju dimensi kekosongan—berputar dengan ganas.
"Dua pilihan, Kepin!" Lyria menoleh dengan wajah pucat. "Kita mendarat darurat di tengah serangan ini, atau kita hancur di udara!"
Kepin melihat ke arah pusaran di bawah, lalu ke arah rantai bayangan yang semakin kuat melilit mesin kapal. Matanya berkilat penuh tekad.
"Kita tidak akan mendarat," ujar Kepin mantap. "Kita akan menabrakkan kapal ini tepat ke jantung frekuensi mereka. Bersiaplah untuk impak!"
Dengan satu sentakan kuat, Kepin mendorong tuas akselerasi ke titik maksimal. Skyward Grace menukik tajam, meluncur seperti meteor perak menuju putihnya Padang Tulang, membawa mereka menuju takdir yang sudah digariskan oleh para pembawa kehampaan.