Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

BAB 5: DEBU MENGENDAP


Setelah Badai, Keheningan Membawa jawaban Baru

Kehampaan Oakhaven

Matahari terbit di atas reruntuhan yang masih berasap.

Laporan Pasca Pertempuran

Sektor KotaStatus KerusakanKeberadaan PendudukAula Utama IstanaTotal (Runtuh ke Tanah) Dievakuasi ke Bawah TanahGerbang OakhavenBerat (Hancur oleh Tulang) Ksatria Tersisa BerjagaDistrik PemukimanSedang (Tersapu Kabut Merah) Ketakutan & Trauma

Menatap Ufuk Timur

Kepin berdiri di atas menara yang terpangkas setengah. Debu abu-abu menyelimuti jubahnya yang compang-camping. Di hadapannya, fajar menyingsing, namun cahaya itu terasa asing bagi matanya yang terbiasa dengan kegelapan.

Rasa amarahnya telah habis, terserap bersama Sang Wraith ke dalam tanah. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang dingin.

Denyut Jiwa Sang Ibu

Katalisator Terlarang

Liontin perak itu kini meredup, namun permukaannya terasa hangat. Kepin menyadari bahwa benda ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah Phylactery—wadah jiwa—yang menahan esensi murni dari cinta ibunya untuk melindunginya dari korupsi sihir kematian.

Tanpa perlindungan ini, Kepin mungkin sudah lama kehilangan kemanusiaannya dan menjadi monster yang sama seperti Blood Wraith.

Dilema Sang Penyelamat

Ketakutan

Penduduk Oakhaven masih bersembunyi di balik pintu yang terkunci. Bagai mereka, Kepin tetaplah Necromancer yang membawa pasukan tengkorak.

Rasa Syukur

Beberapa ksatria yang selamat menundukkan kepala saat Kepin lewat. Mereka tahu siapa yang benar-benar berdiri melawan kutukan merah.

Ketidakpastian

Dewi keadilan seolah menutup mata. Oakhaven selamat, namun pahlawan mereka adalah musuh publik nomor satu.

Kata-Kata Kapten Joran

Dunia tidak akan pernah siap menerima kebenaran bahwa seorang Necromancer menyelamatkan kota suci ini. Jika kau tinggal, mereka akan membencimu. Jika kau pergi, mereka akan melupakanmu. Pilihan mana yang akan kau ambil, Kepin?”

— Kapten Joran, Ksatria Oakhaven

Harga Sebuah Kemenangan

Pasukan Tulang yang Tersisa adalah 0