Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

BAB 6: Bisikan di Hutan Kelabu


Kepin melangkah masuk ke dalam Hutan Kelabu, sebuah wilayah yang jarang dipijak oleh manusia karena kabutnya yang abadi dan legenda tentang roh-roh yang tersesat. Tanpa pasukan tulang yang menjaganya, ia kini harus mengandalkan insting dan sisa-sisa energi di dalam tubuhnya yang perlahan mulai pulih.

​Pelajaran dari Alam Mati 

​Di dalam hutan ini, Kepin menyadari sesuatu yang baru. Selama ini ia berpikir bahwa Necromancy hanyalah soal membangkitkan mayat. Namun, di tempat yang dipenuhi dengan sisa-sisa kehidupan yang membusuk ini, ia mulai merasakan "aliran" yang berbeda.

​Energi Residual: Kepin belajar menyerap energi dari pohon-pohon yang sudah mati untuk memulihkan staminanya. ​Visi Spektral: Matanya mulai bisa melihat jejak-jejak ingatan yang tertinggal di udara—semacam rekaman masa lalu dari makhluk yang pernah hidup di sana. ​Pertemuan Tak Terduga 

​Saat ia beristirahat di bawah pohon ek raksasa yang kering, sesosok bayangan kecil mendekatinya. Bukan kerangka besar, melainkan seekor rubah hutan dengan bulu yang tampak seperti asap kelabu dan mata biru yang bersinar redup. Makhluk itu adalah Spirit Familiar, pelindung hutan yang seharusnya menyerang penyihir hitam.

​Namun, rubah itu tidak menyerang. Ia justru menjatuhkan sebuah gulungan kulit tua di depan kaki Kepin. Gulungan itu memiliki simbol yang sangat dikenal Kepin—simbol yang sama dengan yang terukir di belakang liontin ibunya.

​Rahasia Klan Valerius 

​Kepin membuka gulungan itu dan membaca barisan tulisan kuno yang mulai pudar. Ternyata, keluarga ibunya bukanlah warga biasa Oakhaven. Mereka adalah para "Penjaga Ambang Batas", kelompok penyihir yang bertugas memastikan keseimbangan antara dunia kehidupan dan kematian.

​Tugas mereka bukan untuk mengendalikan kematian demi kekuasaan, melainkan untuk mencegah makhluk seperti Blood Wraith bangkit. Ironisnya, Kepin yang dianggap "terkutuk" justru adalah keturunan terakhir dari para penjaga yang seharusnya dihormati oleh kota itu.

​Panggilan dari Kedalaman 

​Tiba-tiba, rubah itu melolong panjang. Dari kejauhan, di jantung Hutan Kelabu, Kepin melihat cahaya ungu yang memancar ke langit. Ia merasakan tarikan yang sangat kuat pada liontin di lehernya.

​"Ada sesuatu yang menungguku di sana," bisik Kepin pada dirinya sendiri.

​Kepin berdiri, menggenggam tongkatnya yang kini tidak lagi memancarkan cahaya hijau yang kasar, melainkan pendar biru yang tenang dan terkendali. Perjalanannya bukan lagi tentang balas dendam, melainkan tentang mencari jati diri sebagai Penjaga Ambang Batas yang baru.

​Apa yang akan ditemui Kepin di Jantung Hutan?

Kepin sekarang memiliki pendamping baru: si Rubah Roh. Menurutmu, apa kekuatan spesial yang dimiliki rubah ini untuk membantu Kepin?