Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

BAB 3: Puing dan Penyesalan


Denting logam bertemu tulang memenuhi udara malam. Kepin hanya berdiri diam di tengah kekacauan, jubahnya berkibar saat energi gelap terus mengalir dari tubuhnya untuk memperkuat pasukannya. Ia melihat Joran menebas satu per satu prajurit kerangkanya, namun bagi Kepin, kehilangan satu tulang hanyalah masalah teknis. Dengan satu jentikan jari, tulang-tulang yang berserakan itu kembali menyatu dan bangkit lagi.

​"Berhenti, Kepin! Ini bukan dirimu!" teriak Joran sambil terengah-engah. Pedang emasnya mulai meredup, terkikis oleh aura pembusukan yang dibawa oleh sihir Kepin.

"Diriku yang dulu sudah mati di lembah itu, Joran. Kalian yang membunuhnya," sahut Kepin. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah hatinya sudah membeku menjadi es.

​Kepin mengangkat tangan kirinya. Kabut hitam pekat keluar dari telapak tangannya, membentuk rantai-rantai bayangan yang langsung melilit kaki dan tangan para ksatria Oakhaven. Mereka terjatuh, terengah-engah karena oksigen di sekitar mereka seolah tersedot habis.

​Kepin berjalan melewati Joran yang berlutut karena tekanan sihirnya. Ia tidak membunuh pria itu. Kematian terlalu mudah bagi mereka yang telah mengkhianatinya. Ia ingin mereka melihat apa yang akan ia lakukan pada kota kebanggaan mereka.

​Langkah Kepin membawanya menuju Aula Utama. Pintu kayu ek raksasa itu hancur berkeping-keping saat pasukan tulang menghantamnya. Di dalam sana, bersembunyi di balik meja mahoni yang mewah, Wali Kota Valerius menggigil ketakutan.

​"Jangan... jangan mendekat! Aku bisa memberimu emas! Kekuasaan! Apa pun!" ratap Valerius dengan suara melengking.

​Kepin tidak butuh emas. Matanya tertuju pada sebuah kotak beludru di atas meja kerja sang wali kota. Dengan kekuatan pikiran, ia menarik kotak itu hingga melayang ke tangannya. Di dalamnya, terbaring sebuah liontin perak kusam dengan ukiran bunga matahari—satu-satunya kenangan yang tersisa dari ibunya.

​"Kau merampas ini dariku hanya karena kau pikir benda ini memiliki kekuatan sihir," kata Kepin sambil menggenggam liontin itu erat. "Padahal, ini hanyalah benda biasa. Yang memiliki sihir adalah rasa sakit yang kau tanam di hatiku."

​Tiba-tiba, bumi di bawah istana bergetar hebat. Bukan karena sihir Kepin. Sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih gelap sedang bergerak di bawah fondasi Oakhaven. Tanah di tengah aula retak, dan sebuah suara tawa parau bergema dari kegelapan yang tak berdasar.

​"Terima kasih, Necromancer muda," bisik suara itu. "Kekacauan yang kau bawa telah membangunkanku."

​Kepin mengerutkan kening. Ia merasakan energi yang sangat besar, sesuatu yang bahkan membuatnya merasa terancam. Dari dalam retakan itu, muncul kabut berwarna merah darah yang mulai menelan prajurit-prajurit tulang milik Kepin, mengubah mereka menjadi abu dalam sekejap.

​Sepertinya, Kepin bukan satu-satunya makhluk mengerikan yang ada di kota ini malam ini.