Gerbang kota Oakhaven berdiri angkuh di hadapan Kepin. Obor-obor di dinding benteng bergoyang tertiup angin, memantulkan cahaya kuning yang kontras dengan pendar hijau pucat dari pasukan tulang di belakangnya. Kepin berhenti sepuluh langkah sebelum jembatan angkat. Kenangan pahit mulai merayap masuk ke benaknya, lebih dingin daripada uap kematian yang ia kendalikan.
Sepuluh tahun yang lalu, di tempat ini juga, Kepin dilempari batu dan dicaci maki. Mereka menyebutnya "pembawa kutukan" hanya karena ia bisa mendengar suara-suara dari tanah yang tak didengar orang lain. Mereka mengusirnya ke lembah mati, berharap ia akan membusuk di sana.
"Siapa di sana?!" teriak seorang penjaga dari atas benteng. Suaranya gemetar saat matanya menangkap siluet barisan kerangka yang berdiri kaku di balik kabut.
Kepin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Kristal zamrud itu memancarkan gelombang energi yang menyapu tanah.
Braakk!
Jembatan angkat yang berat itu terbanting jatuh, menghantam tanah dengan suara yang memekakkan telinga. Kepin melangkah maju, langkahnya tenang namun pasti. Kerangka-kerangkanya mengikuti, setiap langkah mereka menimbulkan bunyi tulang yang beradu, menciptakan irama kematian yang mencekam.
"Penyihir! Panggil Kapten Joran!" teriak penjaga itu lagi, suaranya pecah karena panik.
Kepin menatap ke arah menara utama kota. Di sana, di puncak tertinggi, tinggal orang yang paling ia benci: Wali Kota Valerius, pria yang menandatangani surat pembuangannya dan merampas satu-satunya harta yang ia miliki—sebuah liontin perak pemberian ibunya.
Tiba-tiba, sekelompok ksatria berbaju zirah lengkap keluar dari balik gerbang. Di depan mereka berdiri seorang pria berjanggut tebal dengan pedang besar yang bersinar keemasan. Itu adalah Joran, pria yang dulu dianggap Kepin sebagai pahlawan, sebelum ia ikut mengusirnya.
"Kepin?" Joran tertegun, matanya menatap tidak percaya pada sosok pemuda di balik jubah compang-camping itu. "Apa yang telah kau lakukan pada dirimu sendiri?"
"Aku hanya menjadi apa yang kalian katakan, Joran," sahut Kepin dingin. "Seorang Necromancer. Sekarang, berikan apa yang menjadi hakku, atau kota ini akan menjadi kuburan besar malam ini."
Joran mengangkat pedangnya, matanya menyiratkan kesedihan sekaligus tekad. "Aku tidak bisa membiarkanmu masuk, Nak. Kematian bukan jawaban atas ketidakadilan."
Kepin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Bagi kalian, kematian adalah akhir. Bagiku, itu hanyalah awal dari sebuah perintah."
Dengan satu hentakan tongkat ke tanah, Kepin memerintahkan pasukannya untuk maju. Pertempuran di gerbang Oakhaven pun dimulai.