Penulis: SYARIF HIDAYATULLAH PUTRA A.

BAB 1: Gema dari Balik Nisan


Langit di atas Lembah Aridorn tidak pernah benar-benar terang. Kabut kelabu selalu menggantung, seolah menahan sinar matahari agar tidak menyentuh tanah yang sudah lama mati itu. Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar suara gesekan logam yang berat.

​Kepin berdiri di depan sebuah makam kuno yang sudah tertutup lumut hitam. Jubahnya yang compang-camping tertiup angin dingin, menyingkapkan rajah-rajah biru pucat yang bercahaya redup di lengannya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah tongkat kayu hitam dengan kristal zamrud yang berdenyut, seirama dengan detak jantungnya yang melambat.

​"Sudah waktunya," bisik Kepin. Suaranya serak, seolah sudah bertahun-tahun tidak digunakan untuk bicara.

​Ia menancapkan ujung tongkatnya ke tanah. Seketika, lingkaran cahaya hijau pudar muncul di bawah kakinya, membentuk pola-pola rumit yang membakar rumput kering di sekitarnya. Kepin memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada energi yang mengalir di bawah lapisan tanah—energi dari mereka yang telah dilupakan.

​“Surgite... Surgite...”

​Mantra itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah perintah. Tanah di depan Kepin mulai bergetar. Retakan-retakan kecil muncul, mengeluarkan uap dingin yang berbau tanah basah dan besi karat. Sebuah tangan tulang yang kering tiba-tiba menembus permukaan tanah, mencengkeram udara dengan kaku.

​Satu per satu, kerangka-kerangka dengan sisa-sisa zirah yang hancur bangkit dari tidur panjang mereka. Mata mereka yang kosong kini menyala dengan api hijau yang sama dengan kristal di tongkat Kepin. Mereka tidak memiliki kehendak; mereka hanya memiliki kepatuhan.

​Kepin menatap pasukan kecilnya dengan tatapan datar. Tidak ada rasa bangga, hanya kelelahan yang mendalam. Menjadi seorang Necromancer bukan tentang penguasaan atas kematian, melainkan tentang beban untuk mendengar bisikan mereka yang tidak bisa beristirahat.

​"Cari gerbang kota," perintah Kepin sambil melangkah maju, diikuti oleh bunyi gemeletuk tulang yang beradu. "Katakan pada mereka bahwa sang pembuang telah kembali untuk mengambil apa yang menjadi haknya."

​Di balik kabut, menara-menara kota yang megah mulai terlihat. Kepin tahu, malam ini sejarah akan ditulis ulang dengan tinta yang diambil dari kegelapan.