Persiapkan Bekalmu
Di kelas 8B SMP Harapan Bangsa, hiduplah seorang siswa bernama Apid. Apid adalah anak yang aktif, ceria, dan selalu bersemangat. Bagi Apid dan teman-teman sebayanya, hidup ini terasa begitu panjang dan menyenangkan. Dunia ini seolah-olah milik mereka yang muda dan sehat. Pikirannya setiap hari hanya tentang bagaimana cara mendapatkan nilai bagus, bermain game sampai puas, berolahraga, dan bersenang-senang bersama teman-teman.
Topik tentang kematian? Bagi mereka itu adalah hal yang sangat tabu, terdengar menyeramkan, dan dianggap sebagai urusan orang tua, kakek, atau nenek mereka yang sudah renta. "Ah, mati itu urusan orang tua saja. Aku masih muda, badan sehat, kuat, masih punya banyak waktu puluhan tahun lagi," pikir Apid dengan santai setiap kali mendengar orang membicarakan kematian atau orang yang meninggal dunia. Baginya, hal itu mustahil terjadi pada orang seusianya. Masa muda terasa abadi.
Suatu hari, saat jam pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti berlangsung, Pak Hadi—guru yang dikenal sangat bijaksana, tenang, dan kata-katanya selalu menyentuh hati—membawa sebuah topik yang berbeda dari biasanya. Suasana kelas yang tadinya agak riuh perlahan menjadi hening seketika.
"Anak-anak," suara Pak Hadi lembut namun memiliki ketegasan yang membuat semua mata tertuju padanya. "Hari ini kita tidak akan membaca buku teks atau menghafal ayat dulu. Bapak ingin bertanya satu pertanyaan yang sangat penting. Siapa di antara kalian yang tahu persis kapan ajalnya akan datang? Siapa yang tahu, hari ini, besok, atau tahun depan adalah hari terakhir kalian di dunia ini?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Seluruh kelas menjadi sunyi senyap. Tidak ada satu pun siswa yang berani menjawab. Semua saling berpandangan, lalu menundukkan kepala.
"Benar," lanjut Pak Hadi pelan. "Tidak ada seorang pun yang tahu. Tidak ada jadwal pasti. Kematian itu tidak kenal usia, tidak memandang status, dan tidak peduli kamu masih anak-anak, remaja, dewasa, atau sudah tua. Ia bisa datang kapan saja, tanpa undangan, tanpa ketukan pintu, dan tidak bisa ditawar sedikit pun."
Apid yang duduk di bangku tengah merasa bulu kuduknya merinding. Dadanya terasa sesak mendengarnya. Ia berpikir dalam hati, "Masa iya sih Pak? Aku masih muda banget, badan juga masih kuat. Masa bisa mati mendadak?"
Seolah mampu membaca pikiran Apid dan teman-temannya, Pak Hadi tersenyum tipis lalu berkata, "Mungkin ada yang berpikir, 'Pak, aku masih muda, masih kuat, masih banyak waktu'. Tapi coba renungkanlah perumpamaan ini. Kehidupan dunia ini ibarat seseorang yang sedang menyiapkan diri untuk menempuh perjalanan jauh, sangat jauh, menuju negeri yang asing di seberang sana. Dan dalam perjalanan itu, dia tidak akan pernah bisa kembali lagi ke tempat asalnya selamanya."
"Nah, menurut kalian," tanya Pak Hadi, "Apa yang paling penting dia siapkan sebelum berangkat menempuh perjalanan panjang itu?"
"Bekal, Pak!" jawab beberapa siswa serentak.
"Betul sekali!" kata Pak Hadi dengan semangat. "Bekal itulah yang akan dia bawa sepenuhnya. Uang jutaan, rumah mewah, kendaraan bagus, jabatan tinggi, bahkan tubuh yang gagah perkasa dan sehat ini, semuanya tidak bisa dibawa. Yang bisa dibawa dan yang akan benar-benar menolongmu di sana hanyalah amal kebaikan, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan ketakwaan kepada Tuhan."
"Jadi, kapan sebaiknya kita menyiapkan bekal itu?" tanya Pak Hadi lagi. "Apakah menunggu saat sudah tua renta? Atau menunggu saat sudah terbaring sakit saja?"
Pak Hadi menggelengkan kepala kuat-kuat. "Salah besar, Nak. Kita menyiapkannya mulai dari SEKARANG. Mulai dari usia muda ini. Karena kita tidak pernah tahu, kapan kereta kematian itu akan datang menjemput. Jangan sampai saat pintunya terbuka tiba-tiba, kita justru tidak membawa apa-apa, atau malah membawa beban dosa dan kesalahan yang berat."
Kata-kata Pak Hadi itu bagaikan palu yang memukul keras kepala dan hati Apid. Sepulang sekolah, perjalanan pulang terasa berbeda. Suasana yang biasanya ramai terasa hening bagi Apid. Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar, mengunci pintu, dan duduk termenung di tepi kasur.
Pikirannya melayang-layang. Ia mulai membayangkan dengan serius. Bagaimana jika benar-benar ajalnya datang besok pagi? Atau bahkan malam ini? Apakah ia sudah siap?
Ia teringat kembali kehidupannya selama ini. Seringnya ia meninggalkan sholat karena alasan malas, mengantuk, atau sibuk bermain game. Ia teringat seringnya ia membentak orang tua, berkata kasar kepada teman, menyontek saat ujian, dan menyia-nyiakan waktu berharga dengan hal-hal yang sia-sia dan tidak mendatangkan pahala.
"Ya Allah..." bisik Apid pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Hamba selama ini bodoh. Hamba mengira hidup itu abadi, hamba lupa bahwa ada akhir dari segalanya. Hamba sibuk menyiapkan bekal untuk ujian sekolah, bekal untuk bermain, tapi hamba lupa menyiapkan bekal yang paling utama, bekal untuk perjalanan panjang menuju-Mu."
Malam itu juga, Apid bertekad bulat untuk mengubah seluruh arah hidupnya. Ia tidak mau menunggu sampai tua, tidak mau menunggu sampai sakit. Ia mulai memperbaiki ibadahnya, sholat tepat waktu, memperbanyak membaca kitab suci, dan berdoa.
Ia juga mulai rajin belajar bukan hanya untuk nilai, tapi untuk mencari ilmu yang bermanfaat yang akan menjadi pahala yang terus mengalir. Ia mulai memperbaiki tutur katanya, menjadi lebih hormat kepada orang tua dan guru, serta gemar berbuat baik kepada siapa saja.
Apid sadar sekarang, menjadi anak SMP bukan alasan untuk menunda-nunda kebaikan dan mengabaikan kesiapan spiritual. Justru di masa muda inilah waktu yang paling emas untuk menumpuk "emas" amal dan bekal yang paling banyak, karena tenaga masih kuat, pikiran masih segar, dan dosa belum terlalu menumpuk.
Hidup di dunia ini hanyalah persinggahan sementara, seperti pengembara yang beristirahat di bawah pohon lalu akan pergi lagi. Kematian adalah tujuan akhir yang pasti datang menjemput.
Maka, persiapkanlah bekalmu selagi nyawa masih di badan, selagi waktu masih ada, dan selaga kesempatan masih terbuka lebar. Jangan sampai menyesal di saat penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.
Pantun
Pergi ke pasar membeli batik,
Pulangnya singgah membeli paku.
Wahai kawan muda yang cantik dan cantik,
Persiapkan bekal sebelum ajal menjemputmu.
Burung pipit terbang ke awan,
Hinggap sebentar di pohon jati.
Janganlah sombong merasa masih muda dan kuat,
Karena maut datangnya tak pernah menanti.
"Mengahadapi kematian, kira tak perlu mengucapkan banyak kata. Hidup yang baik adalah persiapan yang baik"
---Saneca.
"Jangan pernah lupa bahwa kematian adalah tak terelakkan, dan hidup singkat. Jadilah bijaksana dalam segala hal"
---Marcus Aurelius