Penulis: M Dika Zakaria

Ubahlah Pola Pikimu


Di kelas 8B SMP Negeri Harapan, hiduplah seorang siswa bernama Faishol. Faishol sebenarnya adalah anak yang memiliki otak yang cerdas dan potensi yang besar, namun sayangnya potensi itu terkunci rapat oleh satu hal yang sangat kuat, yaitu pola pikirnya yang selalu negatif, pesimis, dan suka menyalahkan keadaan. Baginya, dunia ini seolah-olah selalu tidak adil, segala sesuatu terasa berat, dan nasibnya selalu kurang beruntung dibandingkan teman-teman yang lain.

 

Setiap kali guru memasuki kelas dan mulai menjelaskan materi yang baru, atau saat memberikan tugas dan PR yang cukup banyak, Faishol akan langsung mengerutkan kening dan mulai menggerutu.

 

"Ah, dasar guru jahat! Sengaja ya bikin siswa pusing. Tugasnya numpuk begini mana bisa selesai, pikirannya saja sudah capek duluan," keluhnya dengan suara keras kepada teman sebangkunya. Wajahnya selalu cemberut, seolah-olah beban dunia berada di pundaknya. Ia melihat tugas sebagai musuh yang harus dijauhi, bukan sebagai sarana belajar.

 

Saat hasil ulangan harian keluar dan nilainya tidak memuaskan, Faishol tidak pernah mau melihat ke dalam dirinya sendiri. Ia tidak pernah berpikir apakah ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh atau belum. Sebaliknya, ia langsung mencari kesalahan di luar dirinya.

 

"Memang soalnya yang dibuat susah sengaja! Atau gurunya yang tidak bisa menerangkan, jadi aku tidak ngerti apa-apa. Bukan salahku kok dapat nilai jelek, emang nasibku begini," gumamnya dalam hati dengan perasaan kesal dan putus asa.

 

Faishol juga sering merasa minder dan iri melihat pencapaian teman-temannya. Melihat ada teman yang bisa menjadi juara kelas, jago berpidato, atau hebat dalam olahraga, ia hanya bisa mendengus dan berpikir, "Mereka itu memang sudah pinter dan berbakat dari lahir ya. Nasib orang beruntung emang beda. Kalau aku? Ya sudah, nasib biasa saja, tidak punya bakat apa-apa. Buat apa juga capek-capek mencoba, toh hasilnya juga pasti sama saja, biasa-biasa saja."

 

Pola pikir yang keliru ini membuat Faishol malas bergerak dan malas berusaha. Ia merasa bahwa usaha tidak akan pernah mengubah nasib. Akibatnya, prestasinya semakin menurun, ia sering terlihat murung, tidak bersemangat, dan lingkaran pertemanannya pun menjadi sempit karena teman-teman kadang merasa jenuh mendengar keluhannya yang tak ada habisnya.

 

Suatu hari, saat jam pelajaran Bimbingan Konseling (BK) di kelas 8B, Bu Sari—guru yang sangat bijak, sabar, dan disegani oleh semua siswa—membawa sebuah topik yang sangat menarik dan mendalam.

 

"Anak-anak," Bu Sari memulai pembicaraan dengan suara yang lembut namun tegas. "Pernahkah kalian menyadari bahwa apa yang ada di dalam pikiran kalian itu sangat kuat? Apa yang kalian pikirkan akan menentukan apa yang kalian rasakan, dan apa yang kalian rasakan akan menentukan apa yang kalian lakukan, dan akhirnya menentukan hasil yang kalian dapatkan."

 

Bu Sari lalu menuliskan sebuah rumusan sederhana namun sangat powerful di papan tulis dengan kapur warna-warni:

 

PIKIRAN - PERASAAN - TINDAKAN - HASIL

 

"Coba perhatikan rangkaian ini," lanjut Bu Sari sambil menunjuk papan tulis. "Jika pikiranmu negatif, hatimu akan merasa kesal, sedih, atau malas. Karena hatimu tidak enak, maka tindakanmu pasti setengah hati, malas, atau bahkan menyerah sebelum mencoba. Dan akhirnya, hasil yang kamu dapatkan pasti buruk atau tidak maksimal. Tapi, coba bayangkan jika kamu mengubah cara berpikirnya dari awal? Segalanya bisa berubah total."

 

Faishol yang duduk di bangku tengah mendengarkan dengan tatapan datar. Ia masih berpikir, "Ah, cuma teori dan kata-kata motivasi biasa. Nggak akan mempan di kehidupan nyata yang sekeras ini."

 

Namun, setelah bel istirahat berbunyi dan teman-teman yang lain keluar kelas, Bu Sari memanggil Faishol untuk duduk berhadapan dengannya.

 

"Faishol, Ibu perhatikan kamu sudah cukup lama. Ibu tahu kamu anak yang pintar dan punya akal yang tajam, tapi kenapa kamu seolah-olah sedang membenci duniamu sendiri? Kenapa kamu sering merasa tidak mampu dan selalu mengeluh?" tanya Bu Sari dengan sangat halus.

 

Mendengar pertanyaan itu, Faishol akhirnya meluapkan semua isi hatinya. "Bu, memang berat rasanya. Pelajaran susah, tugas banyak banget, persaingan ketat. Rasanya beban banget jadi anak SMP ini. Kayaknya aku memang nggak bakat sekolah deh, Bu. Beda sama yang lain yang jago-jago semua."

 

Bu Sari tersenyum sabar, lalu menatap mata Faishol dalam-dalam. "Faishol, dengarkan Ibu baik-baik. Masalahnya sebenarnya bukan terletak pada pelajarannya yang sulit, bukan pada tugas yang banyak, dan bukan juga pada nasibmu. Masalah utamanya ada di sini..." Bu Sari menunjuk pelipis Faishol. "...ada di cara kamu berpikir dan memandang segala sesuatu."

 

"Coba ubah pola pikirmu, Nak. Jangan bilang 'Tugas ini banyak dan menyebalkan', tapi ubah menjadi 'Tugas ini adalah latihan terbaik untuk mengasah otak dan ketangguhanku'. Jangan pernah bilang 'Aku tidak bisa', tapi ubah kalimat itu menjadi 'Aku BELUM bisa sekarang, tapi aku akan belajar dan berusaha sampai aku BISA'."

 

"Itulah yang disebut dengan Growth Mindset atau pola pikir berkembang, Nak. Jangan melihat kesulitan sebagai tembok penghalang, tapi lihatlah sebagai tangga untuk naik ke atas. Ingat ya, kamu tidak bisa mengubah apa yang terjadi di luar sana, kamu tidak bisa menyuruh guru untuk tidak memberi tugas, tapi kamu BISA mengubah cara kamu memikirkannya. Dan percayalah, ketika pikiranmu berubah, duniamu akan ikut berubah menjadi jauh lebih ringan dan indah."

 

Kata-kata Bu Sari bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Kata-kata itu menancap sangat kuat di hati dan pikiran Faishol. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, ia terus merenungi setiap nasihat itu. Ia baru sadar bahwa selama ini musuh terbesarnya bukanlah Matematika, bukan Bahasa Inggris, tapi pikirannya sendiri yang selalu berkata "susah", "tidak bisa", dan "malas".

 

Mulai keesokan harinya, Faishol memutuskan untuk melakukan revolusi besar dalam dirinya. Ia berjanji akan mengubah pola pikirnya 180 derajat.

 

Saat guru kembali memberikan tugas yang tebal dan banyak, biasanya ia akan langsung protes. Tapi kali ini, ia menarik napas panjang, tersenyum, dan berkata dalam hati, "Oke, ini tantangan. Kalau aku bisa menyelesaikan ini dengan baik, berarti aku hebat. Ini semua jadi bekal berharga buat masa depanku nanti."

 

Rasa malas itu sebenarnya masih ada, godaan untuk bermain juga masih ada, tapi cara pandangnya sudah berbeda. Ia tidak lagi melihat tugas sebagai siksaan, tapi sebagai sarana untuk menjadi lebih hebat.

 

Saat menemui soal yang sulit dan membingungkan, dulu ia akan langsung menyerah atau mencari contekan. Sekarang, ia berpikir, "Wah, menarik nih. Ini kesempatan buat aku belajar hal baru. Kalau belum tahu, berarti aku harus tanya, harus baca buku, harus berusaha. Nanti kalau sudah bisa, rasanya pasti puas banget."

 

Perubahan sikap dan pola pikir ini membawa dampak yang luar biasa. Perlahan tapi pasti, Faishol menjadi sosok yang berbeda. Ia tidak lagi sering mengeluh di kelas. Wajahnya yang dulu sering cemberut kini terlihat lebih cerah, tenang, dan penuh semangat.

 

Teman-temannya pun heran dan banyak yang bertanya, "Hol, kok kamu berubah banget sih? Dulu kan paling galak kalau ada tugas, sekarang malah semangat mengerjakan. Ada rahasia apa nih?"

 

Faishol hanya tersenyum lebar dan menjawab, "Gak ada rahasia kok, guys. Cuma ubah cara pikir doang. Ternyata kalau kita pikir positif dan semangat, yang berat jadi ringan, yang susah jadi bisa dikerjakan. Enak lho rasanya!"

 

Bulan demi bulan berlalu, hasil kerja keras dan perubahan pola pikir itu mulai terlihat nyata. Nilai-nilai Faishol meningkat tajam, bukan karena ia tiba-tiba menjadi jenius, tapi karena ia mau berusaha maksimal dan tidak mudah menyerah. Ia menjadi lebih percaya diri, lebih disukai teman, dan yang paling penting, ia merasa bahagia menjadi dirinya sendiri.

 

Faishol akhirnya mengerti sepenuhnya pesan Bu Sari. Menjadi anak SMP memang penuh tantangan dan tuntutan. Tapi semua itu kembali lagi kepada kita.

 

Jika pola pikirmu berkata "Sulit", maka kamu akan tersiksa.

Jika pola pikirmu berkata "Peluang", maka kamu akan tumbuh menjadi hebat.

 

Maka, ubahlah pola pikirmu wahai anak muda, karena di situlah letak kunci kesuksesan dan kebahagiaanmu yang sesungguhnya.

 

 

Puisi

Wahai kawan yang sedang berjuang,

Di bangku sekolah yang penuh tantangan,

Cobalah renungi apa yang tersirat,

Bahwa kekuatan itu bermula dari pikiran.

 

Seringkali kita mengeluh dan menggerutu,

Mengatakan tugas berat, berkata pelajaran susah,

Menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain,

Hingga hati terasa sempit dan penuh beban.

 

Tapi sadarkah kau wahai sahabatku?

Apa yang kau pikir itulah yang kau rasakan,

Jika kau bilang sulit, maka kau akan lelah,

Jika kau bilang mustahil, kau takkan pernah bergerak.

 

Dunia tak berubah, tapi caramu melihat yang berbeda,

Ubah kalimat "aku tidak bisa" menjadi "aku akan belajar",

Ubah "ini beban berat" menjadi "ini latihan hebat",

Lihatlah masalah bukan sebagai tembok, tapi sebagai tangga.

 

Pola pikir yang positif adalah kuncinya,

Mengubah rasa malas menjadi semangat yang membara,

Mengubah keluhan menjadi doa dan usaha,

Mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga.

 

Jangan lagi pesimis melihat masa depan,

Yakinlah bahwa usaha takkan mengkhianati hasil,

Asal kau mau berusaha dan terus mencoba,

Maka pintu kesuksesan pasti akan terbuka lebar.

 

Maka ubahlah cara pandangmu mulai detik ini,

Karena ketika pikiranmu berubah,

Segala hal di sekitarmu akan ikut berubah,

Dan hidupmu akan menjadi jauh lebih bermakna.

 

 

" Kamu memiliki kekuatan atas pikiranmu bukan atas peristiwa di luar. Pahami ini, dan kamu akan menemukan kekuatan."

---Marcus Aurelius. 

 

"Hambatan terbesar dalam hidup adalah harapan, yang tergantung pada hati esok dan kehilangan hari ini. Kamu mengatur apa yang berada  dalam kendali takdir, dan meninggalkan apa yang berada  dalam kendalimu."

---Saneca.