Penulis: M Dika Zakaria

Perbaiki Sikap Dan Perilakumu


 Perbaiki Sikap dan Perilakumu

 

Namaku Apid, aku duduk di bangku kelas 9 SMP. Banyak orang bilang, masa SMP itu masa paling indah, masa di mana kita mulai mengenal dunia, punya banyak teman, dan belajar hal-hal baru. Tapi bagiku, dulu masa-masa itu rasanya berat dan sepi. Bukan karena pelajaran susah, atau tugas menumpuk, tapi karena sikapku sendiri yang buruk, yang membuat orang lain enggan mendekat.

 

Dulu, aku adalah tipe anak yang paling susah diatur dan keras kepala. Aku merasa diriku selalu benar, pendapatku yang paling tepat, dan apa yang aku inginkan harus selalu terpenuhi. Kalau ada teman yang salah sedikit saja, atau tidak sepakat denganku, langsung saja aku marah besar. Suaraku akan meninggi, kata-kataku tajam dan menyakitkan, seolah-olah kesalahan kecil itu adalah dosa besar yang tak bisa dimaafkan. Kalau disuruh guru mengerjakan sesuatu, jawabanku selalu ketus, sering kubalas dengan alasan-alasan tak masuk akal, atau aku sengaja menunda-nunda sampai ditegur berkali-kali. Begitu juga di rumah, kalau ibu atau bapak menyuruh membantu pekerjaan rumah, aku selalu mengeluh, membantah, atau pergi kabur ke kamar. Aku pikir, bersikap keras, berani membantah, dan tidak mau kalah itu tandanya aku laki-laki yang tegas dan berkarakter. Padahal nyatanya, aku hanya menjadi anak yang sombong, kasar, dan tidak tahu menghargai orang lain.

 

Suatu hari, kejadian itu benar-benar membuka mataku. Saat jam istirahat siang itu, aku duduk di bangku panjang kantin sekolah sambil membaca buku pelajaran yang baru saja kubeli kemarin sore. Bukunya masih baru sekali, kertasnya putih bersih, sampulnya mengkilap, aku sangat menyayanginya. Tiba-tiba, ada seseorang yang berlari terburu-buru lewat di sebelahku, dan sisa minuman teh manis yang ada di genggamannya tumpah tepat mengenai bukuku.

 

Orang itu adalah Dimas, teman sebangkuku sendiri. Dia terkejut bukan main, wajahnya langsung pucat. “Aduh, maaf ya Apid, aku nggak sengaja, maaf banget…” katanya gugup, sambil berusaha mengelap sisa cairan yang membasahi halaman buku itu dengan ujung bajunya.

 

Tapi aku? Aku sama sekali tidak mau mendengar penjelasannya. Amarahku langsung meledak seketika. Rasanya darahku mendidih, dan tanpa berpikir panjang, aku mendorong bahunya dengan sangat keras sampai Dimas terhuyung ke belakang dan hampir jatuh.

 

“Kamu buta ya?! Kamu ini jalan pakai mata apa?! Ini buku baru lho, baru kemarin aku beli! Kamu memang selalu saja bikin susah orang lain!” bentakku dengan suara yang sangat keras, sampai satu kantin sekolah menoleh ke arah kami. Ada yang berbisik-bisik, ada yang hanya diam menatap heran.

 

Dimas hanya diam, menunduk dalam-dalam, tangannya masih gemetar memegang sapu tangan berusaha membersihkan noda di bukuku. Dia tidak membalas, tidak membela diri, hanya diam menerima semua kemarahanku. Saat itu aku merasa menang, merasa hebat karena bisa membuat orang lain diam dan takut. Tapi aku tidak sadar, di saat itulah aku perlahan-lahan menutup semua jalan pertemanan yang ada di depanku.

 

Sepulang istirahat, suasana kelas terasa berbeda. Biasanya ada saja teman yang mengajak ngobrol, mengajak bermain, atau sekadar bercanda. Tapi hari itu, semua orang menjauhiku. Kalau aku mendekat, mereka diam, lalu perlahan pergi menjauh. Ada rasa sepi yang menyelimuti hatiku, tapi aku tetap bersikap dingin, berpikir mereka yang salah dan aku tidak butuh teman seperti mereka.

 

Siang itu, sepulang sekolah, Pak Guru memanggilku ke ruangannya. Aku berjalan dengan langkah santai, hati masih dongkol, berpikir aku cuma membela hakku sendiri. Di dalam ruangan, Pak Guru duduk tenang di kursinya, menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku mengerti—bukan marah, bukan juga kecewa, tapi lebih kepada rasa kasihan.

 

“Duduk dulu, Apid,” katanya lembut sambil menunjuk kursi di depannya. Di atas meja, ada tumpukan kertas kecil yang disusun rapi.

 

“Apa ada masalah, Pak? Soal tadi di kantin ya? Memang dia yang salah dulu, tumpahin minum ke bukuku,” kataku langsung, membela diri sebelum beliau sempat bicara.

 

Pak Guru tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Aku tahu kejadiannya, Apid. Tapi aku panggil kamu bukan untuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. Coba kamu baca tulisan-tulisan ini. Ini semua pendapat teman-temanmu sekelas tentangmu. Kemarin aku minta mereka menulis apa saja yang mereka rasakan saat berteman denganmu.”

 

Dengan ragu, aku mengambil satu per satu kertas itu. Tulisan tangan teman-temanku ada di sana, sederhana tapi jujur, dan setiap kalimatnya terasa seperti pisau yang menusuk ulu hatiku:

 

“Apid itu sebenarnya pintar, dan kadang baik juga. Tapi sayang sekali, dia gampang sekali marah. Sedikit saja salah, langsung bentak-bentak. Aku jadi takut mau ngomong sama dia.”

 

“Aku ingin sekali berteman akrab sama Apid. Tapi sikapnya sombong, selalu merasa paling benar, suka meremehkan pendapat orang lain. Rasanya berat sekali kalau harus dekat sama dia.”

 

“Kalau ada masalah, Apid tidak pernah mau mengalah. Dia selalu ingin menang sendiri. Padahal kalau dia mau lebih sabar dan lembut, pasti banyak sekali yang mau jadi temannya.”

 

“Apid itu keras kepala. Kata-katanya kadang menyakitkan hati. Aku harap dia bisa berubah, bisa lebih menghargai perasaan orang lain.”

 

Aku diam terpaku, mataku terasa panas. Selama ini aku merasa diriku keren, hebat, dan berani. Ternyata di mata teman-temanku, aku hanyalah anak yang kasar, sombong, dan menakutkan. Aku pikir sikapku itu wajar, itu cara mempertahankan harga diri. Padahal aku sedang merusak harga diriku sendiri dengan perilaku yang buruk itu.

 

Pak Guru menepuk bahuku pelan, suaranya terdengar lembut namun masuk sampai ke dalam hati. “Apid, ingat satu hal penting ini. Kecerdasan, kepintaran, atau kekayaan saja tidak akan membuatmu dihargai orang lain. Justru sikap dan perilakulah yang menjadi cerminan siapa dirimu sebenarnya. Sebagus apa pun otakmu, sehebat apa pun prestasimu, kalau hatimu keras, ucapanmu kasar, dan sikapmu buruk, semua itu tidak ada gunanya. Kamu akan ditinggalkan orang-orang yang kamu sayangi. Kamu mau pintar saja, atau kamu mau menjadi manusia yang berharga dan dicintai banyak orang?”

 

Pertanyaan itu membuatku terdiam lama sekali. Di perjalanan pulang sekolah, kata-kata Pak Guru terus berputar di kepalaku. Aku teringat wajah sedih Dimas tadi pagi, teringat tatapan menjauh teman-teman, teringat ucapan ibuku yang sering bilang: “Apid, jadilah anak yang sopan, yang enak diajak bicara.” Dulu aku selalu abaikan, tapi hari itu aku sadar sepenuhnya: aku sudah salah besar. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki teman baik, menyakiti hati orang lain, dan membuat diriku sendiri kesepian.

 

Malam itu, aku berpikir panjang. Aku berjanji dalam hati, aku akan berubah. Aku akan perbaiki sikapku, perbaiki caraku bicara, dan perbaiki perilakuku. Aku tahu ini tidak mudah, pasti berat, tapi aku mau mencoba.

 

Keesokan harinya, aku datang ke sekolah dengan tekad yang kuat. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari Dimas. Aku melihatnya duduk sendirian di bangku taman sekolah, membaca buku. Dengan rasa malu yang luar biasa, aku mendekat, lalu duduk di sebelahnya.

 

“Dim… maafin aku ya soal kejadian kemarin. Aku salah sudah kasar sama kamu, sudah mendorong dan membentakmu. Aku minta maaf banget,” ucapku pelan, kepalaku menunduk dalam, takut melihat wajahnya.

 

Dimas menoleh, lalu tersenyum tulus. “Sudah aku maafin kok, Apid. Aku nggak marah sama kamu. Aku malah senang banget kamu mau minta maaf. Ayo, kita teman baik lagi ya?”

 

Hati rasanya lega sekali, seolah ada beban berat yang terangkat dari pundakku. Sejak hari itu, aku mulai berjuang mengubah diriku perlahan-lahan. Aku belajar menahan amarah. Kalau ada hal yang membuatku kesal, aku tarik napas panjang dulu, baru bicara dengan nada rendah dan lembut. Aku berusaha mendengarkan pendapat orang lain, tidak lagi memotong pembicaraan, dan mau mengakui kalau aku yang salah. Aku mulai menyapa teman-teman duluan, membantu siapa saja yang butuh bantuan, dan tidak lagi meremehkan orang lain.

 

Memang, di awal perubahan itu berat sekali. Sering kali rasa ingin marah itu muncul lagi, ingin bicara kasar itu terlintas di kepala. Tapi setiap kali itu terjadi, aku ingat tulisan teman-teman, aku ingat nasihat Pak Guru, dan aku ingat rasa sepi yang dulu aku rasakan. Itu cukup membuatku sadar dan menahan diri.

 

Lama-kelamaan, perubahan itu mulai terlihat hasilnya. Teman-teman yang dulu menjauh, kini mulai mendekat lagi. Mereka mengajakku bermain, mengajak belajar kelompok, dan tertawa bersamaku. Guru-guru pun tersenyum ramah saat melihatku, sering memuji sikapku yang jauh lebih sopan dan dewasa. Di rumah pun, ibu dan bapak terlihat sangat bahagia, sering bilang kalau aku sudah menjadi anak yang jauh lebih baik, anak yang mereka banggakan.

 

Dari pengalaman itu, aku paham satu kebenaran besar yang akan selalu aku ingat sampai kapan pun: Memperbaiki sikap dan perilaku itu bukan berarti kita menjadi lemah, bukan berarti kita kalah. Justru, itu adalah tanda kekuatan dan kedewasaan kita sebagai manusia. Perubahan itu memang berat dan butuh waktu, tapi hasilnya sangat indah. Hidup jadi jauh lebih tenang, jauh lebih bahagia, dan kita akan menjadi orang yang dicintai serta dihargai oleh siapa saja. Karena sebaik apa pun diri kita, tidak ada gunanya kalau kita tidak bisa bersikap baik pada orang lain.

 

 

puisi

Dulu angkuhku setinggi langit,

Merasa diri paling benar dan hebat.

Kata kasar sering kulontarkan seenak hati,

Tak peduli orang lain terluka dan perih.

 

Hati keras tak mau mendengar,

Punya kuasa, tapi tak tahu menghargai.

Hingga kuterima cermin dari kenyataan,

Bahwa sikap buruk menjauhkan semua kawan.

 

Aku sadar, ilmu saja tak ada arti,

Kalau perilaku masih kasar dan tak berbudaya.

Kini ku belajar menahan amarah yang meledak,

Berbicara lembut, rendah hati, dan mau mengalah.

 

Perbaiki tutur, rapikan tingkah laku,

Jadikan sopan santun sebagai cerminan diri.

Karena harga diri bukan dari kemenangan,

Tapi dari sikap baik yang dicintai semua orang.

 

 

 

"Jadilah penonton bagi dirimu sendiri; carilah tepuk tangan untuk dirimu sendiri."

---Saneca.

 

"Daripada berdebat tentang apa yang membuat seorang pria menjadi baik, luangkan lebih banyak waktu untuk mencoba menjadi pria yang baik".

---Marcus Aurelius.