Tahun berganti, dan ambisi membawa langkah Pramujiwo melampaui batas wilayah yang biasa kami jelajahi. Kami bertolak ke Jombang untuk mengikuti lomba ELANG, sebuah panggung besar yang mempertemukan kami dengan pangkalan-pangkalan raksasa. Di sana, kami benar-benar diuji. Meski belum berhasil mendominasi, kami tidak pulang dengan tangan kosong. Satu piala Juara 3 Cerdas Cermat berhasil kami amankan. Piala kecil itu menjadi bukti bahwa di tengah kepungan pangkalan hebat seperti MTS Thoriqul Huda, kecerdasan dan persiapan kami tetap mampu bersaing.
Namun, semangat kami belum puas. Kami sempat membidik lomba Sisco 5 di Mojokerto, namun waktu yang terlalu mepet memaksa kami untuk beralih fokus ke Pandawa 2 di Krian, Sidoarjo. Ini adalah ajang pembuktian sesungguhnya bagi Angkatan 18 di bawah kepemimpinanku sebagai Pratama.
Perjuangan yang sesungguhnya dimulai di bulan suci. Selama satu bulan penuh, saat tubuh diuji oleh lapar dan dahaga puasa, kami justru mempererat ikatan. Di bawah terik matahari siang Wonoayu, aku berdiri memimpin teman-teman yang tenggorokannya kering namun tatapannya tetap tajam. Kami berlatih di sela waktu puasa, mengubah lelah menjadi kekuatan demi menyempurnakan setiap gerakan dan yel-yel jingle yang akan kami bawakan.
Hari perlombaan tiba di Krian, dan takdir kembali mempertemukan kami dengan ketangguhan MTS Thoriqul Huda. Namun kali ini, Pramujiwo datang dengan kekuatan penuh. Saat pengumuman dibacakan, nama sekolah kami berkali-kali memecah keheningan lapangan:
"Juara 3 Jingle Putra!"
"Juara Harapan 3 Jingle Putri!"
"Juara 1 Regu Istimewa Putra!"
"Juara Madya 2 Putra!"
Gemuruh sorak sorai kami pecah. Aku menatap teman-temanku; wajah-wajah lelah yang selama sebulan ini ditempa panasnya matahari puasa kini basah oleh air mata haru. Kemenangan Juara 1 Regu Istimewa menjadi penegas bahwa kedisiplinan kami tidak sia-sia.
Di sudut lapangan, aku melihat pangkalan MTS Thoriqul Huda kembali mengangkat piala setinggi tiga meter sebagai Juara Umum. Sebuah pemandangan yang sangat megah. Namun, rasa syukur di hatiku jauh lebih besar daripada rasa iri. Aku merasa sangat bahagia karena kami telah berhasil melampaui batas kemampuan kami sendiri. Kami pulang dengan tas yang penuh piala dan hati yang penuh bangga. Puncak yang dulu kami rintis dari nol, kini telah berhasil kami tapaki bersama-sama.