Penulis: Muhammad Azka Baihaqi

Menempa Besi di Tengah Badai


Kegagalan beruntun itu akhirnya menjadi api yang membakar semangat kami. Di bawah arahan pembina baru yang merupakan alumni, suasana latihan berubah menjadi lebih intens. Beliau sangat asyik diajak bercanda di luar lapangan, namun saat peluit sudah ditiup, beliau berubah menjadi penempa yang keras.

 

"Besi hanya akan jadi pedang kalau dipukul berkali-kali saat sedang panas-panasnya," ucapnya suatu sore.

 

Aku dan teman-teman Angkatan 18 mulai digembleng. Kami memperbaiki simpul yang kendor hingga jari-jari kami perih, melatih langkah PBB hingga kaki terasa kebas. Kami sering pulang saat langit sudah berwarna jingga tua, dengan seragam yang kotor oleh tanah lapangan Wonoayu. Rasa jenuh terkadang datang, namun saat aku melihat teman di sampingku masih tetap bertahan, rasa lelah itu seolah luntur. Kami sedang ditempa di tengah badai kekalahan untuk menjadi angkatan yang lebih solid.