Penulis: Muhammad Azka Baihaqi

Langkah yang Menolak Berhenti


Euforia juara gerak jalan masih terasa, namun dunia Pramuka segera menunjukkan sisi kerasnya. Aku terpilih kembali bersama teman-teman untuk mengikuti lomba Jelajah Kota 2024. Kami berangkat dengan dada membusung, tapi pulang dengan kepala tertunduk. Tak ada satu pun kejuaraan yang berhasil kami bawa pulang. Di atas angkutan kota menuju rumah, kami semua terdiam, merasakan hampa yang sebelumnya tak pernah ada.

 

Ujian mental kami semakin berat saat pembina yang selama ini membimbing kami memutuskan untuk mundur. SMPN 1 Wonoayu mendadak sunyi dari instruksi. Satu minggu lamanya, kami berlatih tanpa kompas. Aku dan teman-teman sering berdiri di pinggir lapangan, menatap tiang bendera dengan bingung. "Siapa yang akan menuntun kami sekarang?"

 

Harapan muncul saat seorang alumni kembali ke sekolah untuk menjadi pembina baru. Kami kembali merapatkan barisan, berusaha menyesuaikan diri dengan pola latihan yang baru. Namun, luka kami belum sembuh benar; di lomba pertama bersama pembina baru, kami kembali gagal. Meski begitu, saat aku menatap wajah teman-teman seangkatanku yang kelelahan, aku melihat sesuatu yang lebih kuat dari piala: keinginan untuk tidak menyerah. Langkah kami mungkin melambat, tapi kami menolak untuk berhenti.