Penulis: Muhammad Azka Baihaqi

Fajar di Ambang Kesunyian


Pagi itu, lapangan SMPN 1 Wonoayu masih diselimuti sisa embun, namun udara sudah mulai memanas oleh riuh rendah siswa baru. Aku, Azka, berdiri di barisan tengah MPLS hari keempat dengan rasa ingin tahu yang besar. Di sekolah ini, aku masih merasa seperti orang asing yang sedang mencari arah.

 

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang serempak menghentak bumi. Pramujiwo masuk ke tengah lapangan. Aku dan teman-teman seangkatanku terdiam seketika. Mereka tidak hanya berjalan; mereka seolah-olah menguasai udara di sekitar mereka. Gerakan yang presisi, seragam cokelat yang gagah, dan sorot mata yang penuh percaya diri membuat jantungku berdegup kencang. Dalam diam, hatiku berbisik, "Itu tempatku."

 

Aku mengajak beberapa teman untuk memberanikan diri mendaftar Calon Dewan Galang Angkatan 18. Di pertemuan pertama, rasa cemas bahwa senioritas itu menakutkan langsung sirna. Kakak kelas dan para pembina menyambut kami dengan candaan yang renyah namun tetap berwibawa. Kami menemukan rumah kedua yang seru dan penuh tawa.

 

Kejutan pertama datang saat aku dan beberapa teman terpilih untuk seleksi gerak jalan. Kami berlatih di bawah terik matahari hingga kacu kami basah oleh keringat. Saat hari lomba tiba, melawan rival tangguh seperti SMPN 2 Wonoayu dan pasukan Paskibra dari sekolah lain, kami mengerahkan seluruh tenaga. Ketika pengumuman Juara 2 dibacakan, aku merangkul teman-temanku dengan erat. Itulah fajar pertama kami; kemenangan yang membuktikan bahwa kami, Angkatan 18, punya tempat di bawah matahari.