Penulis: M Dika Zakaria

Jangan Biarkan Orang Lain Merusak Kedamaianmu


Kedamaian adalah Harta Terindah

 

Hari-hari berlalu, dan perubahan pada diri Zafira mulai terlihat jelas. Gadis itu kini berjalan dengan bahu yang lebih tegap, wajahnya lebih tenang, dan senyumnya tidak lagi dipaksakan. Ia sudah belajar menjadi seperti air yang mengalir, seperti pohon yang rendah hati, dan seperti gunung yang kokoh.

 

Namun sayangnya, tidak semua orang senang melihat perubahan itu.

 

Di sekolah, ada beberapa teman yang justru merasa "kesal" melihat Zafira yang terlihat damai. Mereka merasa usahanya untuk mengganggu tidak lagi mempan. Karena itu, godaan dan ejekan justru makin menjadi-jadi.

 

"Wah, lihat tuh, gaya banget jalannya sok tenang segala," cibir salah satu teman di koridor.

"Iya nih, pamer kebaikan ya? Sok suci banget," sahut yang lain disambut tawa mengejek.

 

Siang itu, saat jam istirahat, Zafira sedang duduk di bangku taman sekolah menikmati bekalnya. Tiba-tiba, sekelompok siswa berlalu di depannya dengan sengaja membuat keributan. Salah satu dari mereka sengaja menyenggol bahu Zafira hingga bekalnya hampir tumpah.

 

"Heh, minggir dong! Jangan menghalangi jalan," teriak salah satu dari mereka dengan kasar.

 

Dada Zafira langsung berdegup kencang. Rasa marah, sedih, dan ingin menangis kembali muncul. Tangan kecilnya mengepal kuat di bawah meja. Kenapa sih mereka tidak pernah berhenti? Aku sudah diam, sudah berbuat baik, kenapa masih diperlakukan seperti ini? batinnya berteriak.

 

Air mata hampir saja jatuh, tapi ia ingat pesan Kakek. Ia mencoba menarik napas panjang, menahan emosinya, dan memilih untuk diam tidak membalas. Ia hanya mengemasi bekalnya, lalu pindah duduk agak jauh.

 

Sore harinya sepulang sekolah, Zafira pulang dengan wajah murung. Kakek yang sedang duduk di teras langsung menyadari ada yang berbeda dari cucunya.

 

"Mari duduk sini, Nak," ajak Kakek lembut.

 

Zafira menurut, lalu menceritakan semua kejadian di sekolah tadi. Dari ejekan, hingga senggolan yang membuatnya kesal setengah mati.

 

"Mereka jahat sekali, Kek," keluh Zafira dengan mata berkaca-kaca. "Zafira sudah berusaha baik, tapi mereka malah makin menjadi. Rasanya ingin sekali Zafira memarahi mereka balik, biar mereka tahu rasa!"

 

Kakek mendengarkan dengan sabar. Setelah Zafira selesai bicara, Kakek tersenyum lalu mengambil sebuah cermin kecil yang ada di meja.

 

"Coba pegang ini," kata Kakek sambil menyerahkan cermin.

 

Zafira menerima benda itu dengan bingung.

 

"Bayangkan cermin ini adalah hatimu, Nak," jelas Kakek. "Sekarang, coba kamu ambil tanah atau debu di sana, lalu taburkan ke kaca cermin ini."

 

Zafira melakukan apa yang diminta Kakek. Ia menaburkan debu ke permukaan cermin. Seketika itu juga, pantulan wajah Zafira menjadi buram dan kotor.

 

"Nah, lihat sekarang," kata Kakek. "Debu dan kotoran itu ibarat kata-kata jahat, kemarahan, dan keburukan orang lain. Mereka melempar kotoran padamu."

 

"Terus apa yang terjadi kalau kamu menerimanya dan membiarkannya menempel?" tanya Kakek.

 

"Wajah Zafira jadi tidak terlihat, jadi kotor, Kek," jawab Zafira pelan.

 

"Betul," kata Kakek. "Kalau kamu marah, kalau kamu sedih, kalau kamu sampai kehilangan ketenangan hanya karena omongan mereka, itu artinya kamu membiarkan kotoran itu menutupi keindahan hatimu sendiri. Kamu membiarkan mereka merusak harimu, merusak senyummu, dan merusak kedamaianmu."

 

Kakek mengambil selembar kain bersih, lalu menyeka debu di cermin itu hingga kembali berkilau dan jernih.

 

"Tapi lihat," lanjut Kakek. "Cermin ini aslinya bersih dan indah. Kotoran itu hanya menempel sebentar di permukaannya, tapi tidak bisa merusak kaca cerminnya selama kita tidak membiarkannya menempel terlalu lama."

 

"Jadi begini ya, Zafira. Orang lain bebas mau berkata apa, bebas mau berbuat apa. Itu adalah cerminan dari diri mereka sendiri, bukan dari dirimu. Orang yang hatinya tenang dan bahagia tidak akan pernah punya waktu untuk mengganggu orang lain, kan?"

 

Zafira mengangguk perlahan mulai mengerti.

 

"Jangan pernah biarkan orang lain menyetir emosimu," pesan Kakek tegas namun lembut. "Jangan biarkan mereka masuk dan mengacaukan rumahmu sendiri. Kalau kamu marah karena mereka, berarti kamu sudah memberi mereka hadiah: kekuatan untuk mengatur hidupmu."

 

"Kedamaian itu mahal harganya, Nak. Jangan dijual murah hanya untuk membalas orang yang tidak bertanggung jawab. Biarkan mereka bicara, itu urusan mulut mereka. Tapi bagaimana kamu merespons, itu urusan hatimu."

 

Mata Zafira mulai terlihat cerah kembali. Beban berat di pundaknya seakan terangkat perlahan. Ia tersenyum tipis pada Kakek.

 

"Makasih ya, Kek. Zafira ngerti sekarang. Zafira nggak mau bahagia Zafira dirusak sama orang lain," ucapnya tulus.

 

Keesokan harinya di sekolah, saat orang-orang yang sama kembali mencoba mengganggu, Zafira tidak lagi mengepal tangan atau menunduk takut. Ia justru menatap mereka dengan tenang, lalu tersenyum kecil.

 

Ia tidak membalas, tidak juga marah. Ia membiarkan kata-kata itu lewat begitu saja seperti angin lalu. Ia tahu, hatinya adalah istana yang indah, dan ia tidak akan membiarkan sembarang orang datang mengotori isinya.

 

Zafira belajar satu pelajaran paling berharga:

Kita tidak bisa menghentikan burung hitam terbang di atas kepala kita, tapi kita bisa mencegahnya bersarang di rambut kita.

 

 

Puisi

Mereka bisa melempar kata pedas,

Mereka bisa membuat cerita pahit,

Tapi mereka tak berkuasa,

Untuk merusak damai di jiwa.

 

Jangan biarkan badai luar,

Memadamkan cahaya dalam mata.

Jangan biarkan orang yang salah,

Membuatmu berhenti tersenyum bahagia.

 

Kamu adalah kapten kapalmu sendiri,

Kamu yang atur arah dan tujuan.

Biarkan ombak menghantam kencang,

Asalkan hatimu tetap tenang dan damai.

 

"Jangan biarkan perilaku orang lain mengganggu kedamaian batinmu. Kita tidak dapat mengendalikan tindakan orang lain, tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita meresponsnya"

---epiktetos.