Siang itu matahari bersinar terik sekali, seolah-olah langit pun ikut membuat suasana terasa semakin berat bagi Raka. Ia berjalan meninggalkan gerbang sekolah dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Di dalam genggamannya, tergulung rapi selembar kertas ujian Matematika yang seolah-olah menjadi beban seberat batu karang. Di sudut kanan bawah kertas itu, tertulis angka 42 dengan tinta merah yang mencolok, seakan-akan angka itu sedang menatapnya dengan pandangan mengejek. Sudah empat kali berturut-turut ia mendapat nilai di bawah batas kelulusan. Guru kelas sudah memanggilnya, memberi nasihat dan arahan, namun entah kenapa setiap kali berhadapan dengan soal-soal hitungan, pikirannya selalu kosong dan bingung.
Selama perjalanan pulang, pikirannya melayang ke mana-mana. Ia membayangkan reaksi ayah dan ibunya. Selama ini mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik, menyekolahkannya di tempat yang baik, membelikan buku-buku pelajaran, dan selalu mengingatkan agar rajin belajar. Namun usaha yang ia lakukan rasanya tak pernah membuahkan hasil. Rasa malu, takut, dan putus asa perlahan memenuhi hatinya. Apa gunanya aku ada? pikirnya dalam hati yang perih. Setiap hari hanya membuat orang tua kecewa, membuat guru kesal, dan bahkan aku pun merasa tak berguna. Lebih baik aku pergi saja. Kalau aku tak ada, mungkin mereka tak perlu lagi pusing memikirkanku, tak perlu lagi merasa sedih melihat hasil usahaku yang selalu gagal. Aku juga tak perlu lagi merasakan rasa berat dan takut ini setiap harinya.
Tanpa sadar, langkah kakinya berbelok ke arah yang berlawanan dari jalan menuju rumah. Ia tidak membawa banyak barang, hanya tas sekolah yang berisi beberapa buku dan alat tulis, serta sedikit uang sisa yang masih ada di sakunya. Dalam benaknya, ia berencana pergi ke tempat yang jauh, tempat di mana tak ada orang yang mengenalnya, sehingga ia tak perlu lagi memikirkan pelajaran, tak perlu mendengar nasihat, dan tak perlu menghadapi segala sesuatu yang terasa sulit baginya. Ia mengira dengan pergi, semua masalah akan hilang dengan sendirinya, dan hidupnya akan menjadi tenang kembali.
Waktu terus berlalu. Siang berubah menjadi sore, lalu langit perlahan berubah menjadi kelabu. Angin mulai berhembus kencang, membawa serta butiran hujan yang turun satu per satu, lalu semakin deras hingga membasahi seluruh tubuhnya. Pakaiannya basah kuyup, tubuhnya menggigil kedinginan, dan perutnya mulai terasa lapar karena sejak pagi ia belum makan dengan baik. Ia berhenti berjalan di dekat sebuah jembatan tua yang jarang dilalui orang. Di sana, cuma ada suara air sungai yang mengalir deras dan bunyi hujan yang memukul permukaan tanah. Sekitarnya gelap dan sunyi, tak ada cahaya lampu, tak ada suara orang berbicara, dan tak ada tanda-tanda kehidupan.
Baru saat itulah perasaan yang lain mulai muncul menggantikan rasa ingin lari itu. Ia merasa sangat kesepian. Di tengah kegelapan dan dinginnya udara, ia baru sadar bahwa tempat yang ia tuju tak pernah ada. Ia tidak tahu harus tidur di mana malam itu, tidak tahu akan makan apa, dan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Pikiran yang tadinya terasa sederhana dan melegakan, kini justru menjadi sumber ketakutan yang besar. Ia teringat rumahnya yang hangat, tempat di mana ia bisa tidur dengan nyaman, tempat di mana ada makanan yang selalu tersedia, dan tempat di mana ada orang tua yang selalu menyayanginya meskipun ia sering berbuat kesalahan. Ia teringat, masalah yang ia hadapi itu cuma soal pelajaran, tapi apa yang ia lakukan sekarang justru membawa dirinya ke dalam masalah yang jauh lebih besar dan berbahaya.
Saat ia sedang duduk membungkuk, memeluk lututnya sambil menahan tangis, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki dan panggilan nama.
“Raka! Raka, di mana kamu?!”
Suara itu terdengar khas, itu suara Pak Budi, tetangga rumahnya yang selama ini selalu ramah dan peduli. Raka tak menyangka ada orang yang mencarinya. Tak lama kemudian, cahaya senter menyinari tempat ia bersembunyi. Begitu melihatnya, Pak Budi segera mendekat, lalu meletakkan payung di atas kepala anak itu agar tak terkena hujan lagi. Wajah Pak Budi tampak cemas dan lega sekaligus.
“Nak, kenapa kamu ada di sini? Ayah ibumu sedang gelisah bukan kepalang. Begitu tahu kamu tak pulang-pulang, mereka langsung berkeliling mencari, bahkan sampai minta tolong warga sekitar. Mereka tak memikirkan apa soal nilai ulangan atau apa pun, yang ada di pikiran mereka cuma satu: keselamatanmu,” kata Pak Budi dengan nada lembut namun tegas.
Mendengar itu, tangis Raka pecah. Ia tak bisa menahan rasa sesak di dadanya. Ia pun menceritakan semuanya, mulai dari nilai ulangan yang buruk, rasa takut dimarahi, rasa tidak percaya diri, sampai keinginannya untuk melarikan diri agar tak perlu menghadapi semuanya lagi. Ia bercerita seolah-olah melepaskan beban berat yang selama ini dipendamnya sendiri.
Pak Budi mendengarnya dengan sabar, lalu ia duduk di samping Raka, menepuk-nepuk punggung anak itu untuk menenangkannya.
“Nak, aku mengerti perasaanmu. Ketika kita menghadapi sesuatu yang terasa sulit, berat, dan membuat hati sakit, pikiran pertama yang muncul memang sering kali ingin menjauh, ingin menghilang, supaya tak perlu merasakan semuanya lagi. Kamu mengira kalau kamu lari, masalah itu ikut hilang. Tapi tahukah kamu kenyataannya?” kata Pak Budi perlahan.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Masalah itu ibarat bayangan. Makin cepat kamu lari, makin cepat pula bayangan itu mengejarmu, dan makin jauh kamu pergi, makin besar dan menakutkan rupa bayangan itu di matamu. Tapi kalau kamu berhenti, memutar badan, dan berani menatapnya langsung, barulah kamu sadar: bayangan itu cuma bentuk, tak bisa menyakitimu, dan ia ada cuma karena ada cahaya yang menerangi jalanmu. Kesulitan yang kamu rasakan itu pun begitu. Ia ada bukan untuk menjatuhkanmu, tapi untuk mengajari kamu cara menjadi lebih kuat, lebih pandai mencari jalan keluar, dan lebih tahu cara meminta pertolongan.”
“Nilai jelek itu bukan akhir dari segalanya, bukan tanda bahwa kamu gagal, dan bukan alasan untuk menghilang. Itu cuma tanda sederhana yang berkata: ‘Kamu masih butuh belajar lebih banyak, butuh cara yang berbeda, atau butuh bantuan orang lain untuk memahaminya.’ Tapi kalau kamu memilih lari, kamu bukan cuma meninggalkan soal-soal pelajaran itu, tapi kamu juga meninggalkan kesempatan untuk memperbaikinya. Lebih buruk lagi, kamu membuat orang-orang yang menyayangimu merasa sedih, takut, dan bersalah. Kamu kira dengan pergi kamu tak membebani mereka? Justru sebaliknya, rasa cemas dan kekhawatiran itu jauh lebih berat dipikul oleh ayah ibumu dibandingkan sekadar mengetahui bahwa anaknya mendapat nilai jelek.”
Kata-kata itu masuk sampai ke dalam hati Raka. Selama ini ia cuma memikirkan perasaannya sendiri, cuma memikirkan rasa sakit dan takut yang ia rasakan, tapi ia tak pernah memikirkan apa yang akan dirasakan orang lain karena perbuatannya. Ia baru sadar, langkah yang ia ambil itu bukanlah jalan keluar, melainkan jalan yang membawa ke dalam jurang yang lebih dalam. Masalahnya tetap ada, bahkan bertambah banyak, sedangkan ketenangan hati yang ia cari justru takkan pernah ia dapatkan.
Setelah tenang sedikit, Raka mengangguk perlahan. “Saya mengerti, Pak. Saya salah. Saya pikir dengan lari semuanya akan selesai, tapi ternyata saya cuma membuat segalanya jadi lebih buruk. Maafkan saya, dan terima kasih sudah mengingatkan saya.”
Mereka berdua pun berjalan pulang bersama. Hujan masih turun, tapi kali ini rasanya tak lagi dingin dan menakutkan bagi Raka. Sesampainya di depan rumah, begitu melihatnya, ayah dan ibu segera berlari dan memeluknya erat-erat seolah tak mau melepaskannya lagi. Mata mereka basah oleh air mata, tapi itu air mata kelegaan, bukan air mata kekecewaan. Mereka tak mengeluarkan satu kata pun yang menyalahkan atau memarahi. Ibu cuma berkata dengan suara terisak, “Asal kamu selamat, itu sudah cukup buat kami. Masalah pelajaran, kita cari jalan keluarnya sama-sama. Jangan pernah lagi berbuat seperti ini, ya Nak?”
Malam itu mereka duduk bersama di ruang tengah. Bukan untuk dimarahi atau dihukum, tapi untuk berbicara dari hati ke hati. Mereka membahas kesulitan yang dihadapi Raka, lalu menyusun rencana bersama: mulai dari meminta bantuan guru untuk mengajari lagi bagian yang belum paham, belajar bersama teman sekelas yang pandai, sampai mengatur waktu belajar dan beristirahat dengan lebih baik. Raka menyadari, apa yang tadinya terasa begitu berat dan mustahil, jadi terasa ringan saja ketika ia tidak memendamnya sendiri dan berani menghadapinya.
Sejak hari itu, setiap kali Raka merasa putus asa, merasa sulit, atau timbul keinginan untuk mundur dan menghindar, ia selalu teringat pada kejadian di bawah hujan itu, dan kata-kata Pak Budi yang terus terngiang di kepalanya. Ia akhirnya mengerti benar: dalam hidup pasti ada saja hal-hal yang sulit, berat, dan membuat hati sedih. Tapi satu hal yang pasti: melarikan diri tidak akan pernah menjadi jalan penyelesaian. Menghindar cuma membuat masalah itu tetap ada, bahkan makin membesar. Hanya dengan berani menghadapi, mau berusaha, dan berani meminta bantuan ketika tak sanggup sendiri, barulah kesulitan itu bisa dilalui, dan kita pun bisa tumbuh menjadi orang yang lebih kuat dan dewasa.
Puisi
Genggam kertas bertanda merah menyayat hati
Takut dan malu membuat langkah berbelok arah
Ingin menjauh dari segala yang terasa berat
Tanpa sadar masuk ke dalam sunyi yang menakutkan
Di tengah hujan dan gelapnya tempat sepi
Terdengar panggilan yang membawa cahaya makna
"Lari tak hilangkan masalah, malah makin membelenggu
Hadapi saja, karena ada tangan yang siap menolongmu"
Kembali melangkah menuju rumah dan harapan
Disambut kasih, bukan amarah atau celaan
Kini kupahami makna dari setiap ujian
Menghadapi lebih baik, daripada sekadar larian
"jangan melarikan diri dari kesulitan, tetapi hadapilah dengan keberanian. Tantangan adalah baru loncatan menuju kehidupan yang lebih baik"
---Marcus Aurelius.