Penulis: M Dika Zakaria

Jadilah Seperti Alam


Kekuatan Sang Alam

 

Matahari pagi itu bersinar sangat hangat. Sinarnya menembus celah-celah daun, menari-nari di tanah yang berembun. Kakek menggandeng tangan D'zii berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir desa.

 

Suasana hati D'zii sudah jauh lebih baik dibandingkan semalam. Namun, rasa ragu dan takut itu masih sedikit tersisa di sudut hatinya.

 

"Kek," panggil D'zii pelan. "Apa benar aku bisa menjadi kuat? Aku takut nanti kalau ketemu mereka, aku jadi lemah lagi."

 

Kakek tersenyum, lalu menghentikan langkahnya di tepi sebuah sungai kecil yang airnya jernih dan mengalir deras.

 

"D'zii, lihatlah air sungai ini," kata Kakek sambil menunjuk ke arah air.

 

D'zii menurut. Ia melihat air itu bergerak terus, tidak pernah berhenti. Saat ada batu besar yang menghalangi jalannya, air itu tidak marah, tidak juga berhenti. Ia hanya memutar sedikit, lalu terus mengalir melewati sisi batu itu.

 

"Air itu lembut, Nak. Bentuknya bisa berubah sesuai wadahnya. Tapi lihatlah kekuatannya... dalam waktu yang lama, air yang lembut itu mampu mengikis batu yang keras hingga halus," jelas Kakek.

 

"Jadilah seperti air. Hadapi masalah dengan lembut dan sabar. Jangan mudah meledak kalau ada yang mengganggu. Tapi tetap teguh pada tujuan, teruslah maju, jangan sampai terhenti hanya karena rintangan."

 

D'zii mengangguk perlahan, mulai mengerti.

 

Mereka berjalan lagi, lalu berhenti di bawah sebuah pohon beringin yang sangat besar dan rindang. Banyak orang yang beristirahat di sana untuk berteduh dari panasnya matahari.

 

"Lihat pohon ini," lanjut Kakek lagi. "Semakin besar dan tinggi pohonnya, semakin banyak buah dan manfaat yang diberikannya pada orang lain. Tapi semakin tinggi pula dia tumbuh, semakin dalam akarnya menancap ke tanah. Dia tidak pernah sombong, dia tetap rendah."

 

"Jadilah seperti pohon. Jadilah orang yang berguna dan baik hati pada siapa saja. Tapi jangan pernah merasa besar kepala. Semakin kamu pintar dan kuat, semakin rendah hati kamu harusnya."

 

Angin sepoi-sepoi bertiup menyapu rambut D'zii, membuatnya merasa segar.

 

"Terus angin itu bagaimana, Kek?" tanya D'zii.

 

Kakek tertawa kecil. "Angin itu hebat. Dia bebas. Dia lewat di depanmu, menyentuhmu, tapi dia tidak pernah berhenti. Kalau ada tembok penghalang, dia akan mencari celah untuk lewat, atau memutar arah. Dia tidak pernah membawa dendam."

 

"Jadi, kalau ada teman yang berkata jahat atau mengejekmu, biarkan saja seperti angin lewat. Masuk di telinga kiri, keluar di telinga kanan. Jangan disimpan di hati, nanti hatimu jadi sesak. Teruslah bergerak maju membawa kebaikan."

 

Terakhir, Kakek menunjuk ke arah barisan gunung yang terlihat kokoh di kejauhan.

 

"Dan lihat gunung itu. Dia diam, tenang, dan kokoh. Badai sekencang apa pun menerpa, dia tidak akan bergeser sedikit pun dari tempatnya. Dia percaya pada dirinya sendiri."

 

"Jadilah seperti gunung. Punya pendirian yang kuat. Apa pun yang orang lain katakan, selama kamu tahu kamu benar, tetaplah berdiri tegak dan tenang. Ketenangan itu adalah kekuatan yang paling menakjubkan."

 

D'zii tersenyum lebar. Beban di dadanya seakan hilang terbawa angin pagi. Ia merasa seperti menemukan rahasia besar.

 

Menjadi kuat itu tidak harus galak, tidak harus berteriak, dan tidak harus membalas.

 

Menjadi kuat itu seperti alam:

Seperti air yang terus mengalir,

Seperti pohon yang rendah hati,

Seperti angin yang tenang,

Dan seperti gunung yang kokoh berdiri.

 

Sejak hari itu, D'zii berjanji akan membawa pelajaran ini ke sekolahnya. Ia akan menjadi gadis yang tenang, tapi memiliki kekuatan yang luar biasa.

 

Puisi

Lihatlah air yang terus berjalan,

Mengajarkan kita pantang menyerah.

Lihatlah pohon yang memberi kesejukan,

Mengajarkan kita berbagi tanpa rasa lelah.

 

Angin berhembus membawa damai,

Mengajarkan kita memaafkan dan melupakan.

Gunung berdiri tegak takkan pernah pergi,

Mengajarkan kita percaya diri dan teguh pendirian.

 

Alam bicara tanpa suara,

Namun pesannya nyata dan indah.

Jadilah kuat dengan cara yang mulia,

Seperti ciptaan Tuhan yang penuh berkah.

 

 

 

"Hidupmu akan serasi dengan alam jika kamu hidup sesuai dengan sifat dasarnya sendiri, mengikuti jalan ilmiah kehidupan, dan tidak melawan arus aliran yang tak terkalahkan"

---Epictetus.