Perjalanan menuju hutan terlarang tidak mudah. Mereka harus melewati perbukitan, sungai kecil, dan jalan setapak yang jarang dilalui orang. Saat akhirnya sampai di tepi hutan, suasananya terasa berbeda, lebih dingin dan lebih sunyi.
Begitu mereka melangkah masuk, dunia seperti berubah. Cahaya matahari tertutup oleh pepohonan tinggi. Suara angin terdengar seperti bisikan.
Beberapa jam berjalan, mereka mulai menyadari sesuatu yang aneh jalan yang mereka lewati seperti berputar. Mereka beberapa kali kembali ke tempat yang sama tanpa sadar.
Di tengah kebingungan, Arka melihat peta itu berubah. Garis baru muncul, menunjukkan arah lain.
Mereka mengikuti arah itu hingga menemukan sebuah kamp tua yang sudah hancur. Tenda robek, peralatan berkarat, dan jejak-jejak yang menunjukkan seseorang pernah tinggal di sana.
Di dinding kayu yang lapuk, tertulis dengan goresan kasar: “Jangan percaya temanmu.”
Arka menelan ludah. Ia melirik Nara, yang hanya diam tanpa ekspresi.
Malam itu, mereka beristirahat dengan perasaan tidak tenang. Di tengah gelap, Arka merasa seperti ada sesuatu yang mengawasi mereka.