Penulis: Arya Nur Prastyo 01

BAB 2 — Bersama Slamanya 🫧


Tangguh bersama

Di dunia yang arsitekturnya seolah dipahat dari awan dan kaca, Leo berdiri di tepi balkon yang menghadap ke arah cakrawala tanpa batas. Di tangannya, ia memegang sebuah jam saku tua yang jarumnya berputar berlawanan arah jarum jam, menandakan bahwa di tempat ini, waktu hanyalah sebuah saran, bukan kepastian. Angin berembus membawa aroma melati yang bercampur dengan logam dingin, menciptakan suasana yang akrab namun asing secara bersamaan.

Jessica datang menghampiri dengan langkah yang tidak menghasilkan suara di atas lantai pualam. Ia mengenakan gaun yang polanya terus berubah mengikuti emosinya; saat ini, motifnya menyerupai rasi bintang yang perlahan bergeser. Di dunia yang menggabungkan realitas fisik dengan imajinasi yang meluap ini, keberadaan mereka berdua adalah satu-satunya hal yang terasa solid dan tidak berubah.

Waktu pun berubah

"Kau masih memikirkan bagaimana cara kerja gravitasi di sini, Leo?" tanya Jessica sambil menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu. Suaranya terdengar jernih, seolah-olah ia berbicara langsung ke dalam pikiran Leo tanpa perlu perantara udara. Leo tersenyum tipis, matanya tetap menatap sebuah pulau terapung di kejauhan yang perlahan-lahan melarut menjadi butiran cahaya keemasan.

"Aku hanya berpikir bahwa logika tidak lagi penting selama kau ada di sampingku," jawab Leo pelan, jemarinya menggenggam tangan Jessica yang terasa hangat dan nyata, sangat kontras dengan pemandangan di depan mereka yang tampak seperti lukisan cat air yang basah. Jessica tertawa kecil, sebuah nada yang sanggup menghentikan aliran air terjun di bawah balkon mereka selama beberapa detik sebelum air itu kembali jatuh ke bawah.

Dunia mulai memudar

Mereka mulai berjalan menyusuri lorong panjang yang dindingnya terbuat dari buku-buku tua yang bisa berbisik menceritakan sejarah masa depan. Setiap kali Leo melangkah, lantai di bawah kakinya berubah menjadi hamparan rumput hijau yang segar, sementara setiap langkah Jessica mengubah sisi lainnya menjadi genangan air jernih yang memantulkan langit malam. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun langkah mereka selalu selaras dalam harmoni yang sempurna.

Leo adalah sang penjaga realitas, yang memastikan mereka tidak tersesat dalam ilusi yang terlalu jauh, sementara Jessica adalah sang pemimpi yang memberi warna pada kekosongan. Tanpa Leo, Jessica akan terbang terlalu tinggi hingga menghilang, dan tanpa Jessica, Leo akan terkunci dalam dunia yang kaku dan membosankan. Di koridor itu, mereka berhenti sejenak untuk melihat bayangan mereka sendiri yang sedang berdansa di dinding tanpa mengikuti gerakan tubuh mereka yang asli.

Kenangan pun hadir

"Ingatkah kau saat kita pertama kali menemukan tempat ini?" Jessica memetik setangkai bunga yang tiba-tiba tumbuh dari bingkai foto di dinding. Bunga itu bersinar redup, memancarkan cahaya biru yang lembut dan hangat saat disentuh. Leo mengangguk, ia ingat betul bagaimana mereka melompati batas antara mimpi dan kenyataan hanya untuk menemukan sebuah ruang di mana mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa gangguan dunia luar.

"Saat itu hujan turun dari bawah ke atas, dan kau mencoba menangkap tetesannya dengan payung terbalik," kenang Leo dengan nada geli. Ia mengambil bunga dari tangan Jessica dan menyelipkannya di telinga gadis itu. Detik itu juga, seluruh ruangan berguncang pelan, seolah-olah semesta ikut merasakan getaran kasih sayang yang tulus di antara mereka berdua, sebuah frekuensi yang lebih kuat daripada hukum fisika manapun.

Keabadian menjadi nyata

Matahari di dunia ini mulai terbenam, namun alih-alih menjadi gelap, langit justru berubah menjadi hamparan warna ungu dan perak yang berkilauan seperti berlian yang dihancurkan. Leo dan Jessica duduk di kursi kayu yang muncul begitu saja saat mereka ingin beristirahat. Mereka tidak butuh banyak kata untuk memahami apa yang dirasakan masing-masing, karena di sini, detak jantung mereka terdengar seperti irama musik yang saling bersahutan memenuhi kekosongan ruang.

Jessica dan Leo menggambarkan sebuah janji yang tertulis di dalam jiwa yang tak lekang oleh dimensi. Saat dunia di sekitar mereka terus berubah, meluas dan menyusut sesuai imajinasi, Leo dan Jessica tetap diam dalam pelukan yang nyata. Mereka tahu bahwa selama mereka saling mengimbangi, tidak ada batas antara mimpi dan kenyataan yang sanggup memisahkan keberadaan mereka.

        🤍~~~Thank You~~~🤍