Beberapa menit yang lalu.
"Bagaimana dengan Porto Marina?" Neo berdiri berhadapan dengan Gwen. Gwen tidak tersenyum dan menatap Neo malas. Mereka berada di dalam ruangan berdua.
"Kamu tidak tahu arti sabar?"
"Aku sudah sabar selama ini!" Tangannya mencengkram kuat, maniknya menatap nyalang Gwen. Ia sudah sabar selama bergabung. Mau sesabar gimana lagi? Empat bulan sudah lewat mengikis harapan Neo tentang keluarganya. Ketika ia mendapatkan secarik cahaya dibalik gelap runtuhnya angan, Gwen datang memenuhinya.
kembali dengan janji akan mengantarnya ke Porto Marina. Namun, Gwen tidak menepatinya.
Sekarang mereka berencana pergi ke Kota Reve, lalu bagaimana dengannya?
"Kamu pembohong!" Gwen menghela napas.
PLAK!
Lelaki bermata sipit itu menampar Neo. Neo terkejut akan rasa panas yang tiba-tiba menjalar di pipinya. Sekarang rambutnya ditarik agar Neo menatapnya. "Sikapmu menyebalkan sekali, ya. Kalau ingin pergi, pergilah sendiri. Salahmu yang menaruh harapan padaku," ucap Gwen angkuh.
Gwen adalah cahaya yang tersisa, kini mengkhianati kepercayaannya. Seharusnya ia sudah sadar betapa buruknya Gwen di saat pertama kali mengatakan ingin membantunya, tapi waktu terus berjalan dan tidak pernah sekalipun Gwen tertarik untuk membawanya seperti yang dijanjikan.
Rahangnya mengeras, jantungnya berdebar kencang penuh amarah yang membludak. Gwen tidak mempedulikannya lagi, mendorong Neo hingga tersungkur dan meninggalkannya.
Sial! Sial! Sial!
"AAAGHH!!!" Pemuda itu memukul lantai berkali-kali dengan kekuatan penuhnya. Tangannya perih. Namun, rasa sakit itu tidak sebanding dengan kepercayaannya yang runtuh.
"Aku hanya ingin... memastikan keluargaku, apa yang salah dari itu?"
Di lain sisi. Cellio duduk bersebelahan dengan anak laki-laki yang ditemukan oleh idolanya. Ia disuruh Victoria untuk menjaga anak itu. Anak itu setia menutup mulutnya, bahkan Cellio berpikir anak itu bisu.
Cellio terus menerus khawatir. Ia mencoba untuk menuruti perkataan Victoria yang menyuruhnya untuk berhenti khawatir. "Kak Victoria"
Anak itu menatap ke kanan dan ke kiri, ia tak menemukan wanita berambut cokelat bergelombang yang pertama kali dilihatnya ketika pintu toilet terbuka untuk lumayan lama.
"Di-mana ...." Cellio segera menoleh mendengar sebuah gumaman, melihat si kecil terus mengedarkan pandangannya.
"Kamu bisa berbicara?" tanya Cellio. Anak itu menatap Cellio bingung.
"A-ku?" Walaupun terbata-bata, Cellio merasa bersyukur anak itu tidak bisu seperti yang dia pikirkan.
Sepertinya karena memang pendiam, anak itu tidak menggubris mereka, saat Cellio dan Victoria mengajaknya bicara sebelumnya "Namamu siapa?" tanya Cellio lembut.
Anak itu diam sesaat sebelum menjawab, "Rey ...."
Cellio tersenyum. "Baiklah Rey. Aku Kak Cellio, panggil saja Kak Cel. Lalu apa yang kamu cari dari tadi Rey?" Cellio memperhatikan Rey yang seolah mencari sesuatu.
"Kakak cantik rambut cokelat."
Kakak cantik rambut cokelat? Victoria? Cellio meneguk ludahnya. Apa yang harus ia katakan pada anak sekecil ini.
"Ah... Kak Victoria-"
"Cellio." Seseorang tiba-tiba saja memanggil Cellio. Bernard datang menghampirinya. Ia menatap Cellio serius. "Aku tahu bagaimana cara menyelamatkan Victoria."
Cellio seketika berdiri dan menatap Bernard sedikit melotot. Yang ia tahu, Bernard adalah tangan kanannya Gwen. Jadi apa maksud dari perkataannya itu?
"Turuti perkataanku jika kamu ingin dia selamat."
🍁🍁🍁
TEETTT!!
Bunyi klakson berbunyi seiring truk itu melaju lurus ke depan.
"Apa yang terjadi!?" Gwen yang memantau keadaan terkejut kala truk yang ia rencanakan untuk meledakkan batu itu terus melaju melewati garis yang ditetapkan. Aba-aba belum diberi dan Gwen belum menyuruh untuk menabraknya. Lalu apa yang sedang terjadi dengan truk itu?
Anggota 11x yang menyebarkan minyak ke mobil-mobil itu berhamburan menjauhi truk yang lepas kendali.
Victoria panik dan segera membuka pintu mendorong laki-laki itu yang sudah pingsan menghentikan suara klakson. Ta segera mengambil alih stir dan menginjak rem dengan tergesa-gesa membuat bunyi decitan yang memekakkan telinga. Truk berhenti dengan guncangan, menghantam kepala Victoria.
Asap tanah mengepul dari gesekan ban membuat pandangan terhalang dan masuk ke paru-paru membuat batuk. "Sial, apa wanita itu sudah gila!?" Gwen mendekati truk itu penuh kekesalan. Ia membuka pintu dan menarik Victoria yang kepusingan menghantam aspal.
Gwen dapat melihat beberapa zombie mulai berdatangan dari segala arah akibat suara klakson yang berkumandang, amarah Gwen semakin merajalela. Gwen tidak bisa jika rencananya menunjukkan sedikit saja kekacauan.
Victoria meringis kesakitan, kepalanya berdenyut dan tubuhnya remuk. Namun, Gwen tidak kasihan dan menarik rambut Victoria sambil mengarahkan pistol ke kepalanya. Gwen menatap nyalang Victoria. "Kupikir aku harus menggantikanmu dengan Neo, tapi kalian semua sama-sama tidak berguna!" Gwen hampir menarik pelatuk tidak memberikan Victoria kesempatan untuk berbicara. Namun, suara klakson yang panjang kembali berbunyi.
Kini bukan berasal dari truk, melainkan dari salah satu mobil yang akan diledakkan.
"CELLIO!" Gwen berteriak marah saat melihat Cellio adalah biang keladinya. Cellio menghubungkan kabel klakson ke aki sehingga klakson terus berbunyi mengundang semakin banyak zombie, sesuai arahan tangan kanan Gwen.
"TANGKAP CELLIO DAN MATIKAN KLAKSON ITU!" titah Gwen menyuruh anak buahnya. Beberapa ada yang mengejar Cellio yang sudah lari, yang lain hendak mematikan klakson, tapi zombie yang berdatangan menghalangi aksi mereka. Mereka mempertahankan diri untuk tidak terkena gigitan.
Situasi menjadi sangat mengkhawatirkan.
Gwen menaruh fokusnya ke yang lain hingga mengabaikan Victoria yang sudah bisa mengendalikan dirinya. Ia menggenggam pistol itu untuk menjauhkannya. Gwen sadar dan mengeratkan pegangannya pada pistol agar tidak tergeser dari kepala Victoria.
Gwen menang adu kekuatan dan pistol itu menempel pada jidat Victoria. Gwen tersenyum lebar. "Mati, sial!"
DOR!
Gwen terdorong ke samping akibat tendangan seseorang, hingga pistol itu menembak ke sembarang arah. Pistol terlepas dari genggaman Gwen. Victoria yang menyadari itu segera mengambilnya. Gwen yang tersungkur segera bangkit dan mendapati seseorang yang tidak terduga.
"Bernard!? Apa yang kamu lakukan?" Gwen mendapati Si Tubuh Besar-Bernard-yang menjadi pelaku tendangan tersebut. Dada Gwen naik turun. Rencananya berantakan dan kini salah satu anggotanya mengkhianatinya.
Bernard menatap Gwen penuh dendam, aura mematikan keluar dari dirinya. Dengan tongkat besi yang lebih besar dari anggota yang lain, Bernard sudah siap menghalangi Gwen. "Aku sudah muak dengan kelompok ini!"
Gwen menghela napas dan mendecih. "Apa kamu sedang balas dendam karena kematian konyol kedua temanmu?" Gwen yang mengungkit masa lalu membuat Bernard tidak tahan, terlebih Gwen mengatakan bahwa kematian itu konyol dan sia-sia. Jika tidak karena dua anggota sebelumnya yang memancing para zombie ke dalam sebuah halaman dengan pagar besi yang mengurung mereka, sejak "Neo! Empat hari kamu tidak sadarkan diri ya ampun!" Cellio memeluk Neo membuat laki-laki bersurai biru malam itu melotot. Bukan terkejut karena serangan peluk-peluk cium Cellio, melainkan rasa sakit tertindih seolah ada luka yang tertekan.
"Cel, Neo terluka." Victoria yang baru saja datang. menegur tingkah laku Cellio, di belakangnya ada anak laki-laki bersembunyi di balik kaki Victoria.
"Rey, ajaklah Kak Cel bermain dulu, ya," ucap Victoria lembut sembari mengusap kepala Rey. Rey patuh mendengarkan dan menarik Cellio yang mau tak mau Cellio melepaskan pelukannya. Mereka pun bermain, sedangkan Victoria duduk di depan Neo yang bersandar lemah. Di tangannya sudah ada beberapa macam pengobatan p3k untuk luka bakar.
Neo tampaknya terkena ledakan. Walaupun ajaibnya tidak terlalu parah, tapi masih butuh pertolongan pertama. Victoria fokus mengobati Neo, menciptakan ketenangan di antara mereka berdua.
"Kamu anaknya Jimin?"
"... Apa?" Victoria menatap Neo serius. Ia tidak mengulangi pertanyaannya kala ia sudah mendapati jawabannya hanya dengan ekspresi keterkejutan Neo.
Neo membisu saat Victoria merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya, menyerahkannya pada Neo.
"Kamu... tahu darimana?" Tangannya gemetar memegang foto itu, rasa panas seketika menjalar di kantung matanya, perasaan sesak menghampirinya.
"Jimin temanku. Kami terjebak bersama di rumahku saat wabah zombie muncul."
"L-lalu, apa Ayahku masih di sana?" Neo menatap Victoria lekat. Hening kembali menyelimuti mereka. Ekspresi yang ditampilkan wanita itu cukup menjadi jawabannya.
"Hah-" Neo mencengkram kuat foto itu membuatnya menjadi kusam. Rasa sesak memenuhi dirinya lebih besar daripada rasa sakit akibat luka bakar.
Ketakutannya benar-benar terjadi.
"Aku akan membawamu."
"Aku tidak butuh janji palsu!"
"Aku tidak berjanji. Aku benar-benar akan membawamu bahkan jika kamu tidak mau lagi." Victoria menatap Neo lekat, menyalurkan keyakinannya.
Victoria sudah memikirkan berbagai kemungkinan. Tidak pernah bertemu Neo. Bertemu Neo cepat atau lambat, bahkan jika ia baru bertemu Neo setelah perjalanan yang panjang. Victoria rela kembali ke Porto Marina mengantarkan anak Jimin itu. Bahkan jika Neo sudah putus asa tentang keluarganya, Victoria akan tetap mengulurkan tangannya membawa Neo pada sang ayah.
"Maaf karena baru menyadarinya sekarang, di saat kamu sudah tenggelam terlalu dalam." Victoria menyesal, baru menyadarinya saat ia merasakan kemiripan antara Jimin dan Neo yang sama-sama tidak berdaya, memastikannya dengan foto, menyadari bahwa Neo adalah si anak pertama.
Neo menggigit bibirnya kuat. Hatinya mencelos. Ia tak ingin berharap, ketidaktepatan Gwen menghantuinya membuat ia tidak bisa menaruh percaya lagi.
Namun, bolehkah?
🍁🍁🍁
Setelah memastikan kondisi Neo sedikit lebih pulih, tidak butuh waktu lama bagi mereka melakukan perjalanan ke Porto Marina. Akibat kelakukan Victoria sebelumnya membuat jalan itu lenggang, halangannya hanyalah puing-puing mobil yang bisa saja dipindahkan.
Kota Terra dan Kota Porto Marina memang tidak jauh. Menggunakan motor milik 11x, Cellio dan Victoria yang mengemudi, sedangkan Neo dan Ray menjadi penumpang.
"Kakek!" Victoria membuka gerbang rumahnya yang segera disambut oleh Kakek Sulvan yang sedang berkebun. Victoria tidak habis pikir halaman rumahnya sebagian besar kini sudah dibajak oleh sang kakek.
"Loh, cepat sekali." Kakek Sulvan sempat
tercengang, apalagi Victoria tiba-tiba membawa tiga orang bersamanya.
Victoria tidak menggubrisnya dan berbalik untuk menatap tamu-tamunya. "Ini rumahku. Istirahatlah dulu di dalam, anggap saja rumah sendiri," ucapnya sembari tersenyum.
Singkatnya, kini tinggal Kakek Sulvan dan Victoria berdua, menatap Cellio, Neo, dan Ray digendong oleh Cellio masuk ke dalam rumah.
"Kami akan tinggal beberapa hari, Kek."
"Terserah, tapi apa yang terjadi?"
"Ceritanya panjang. Apa ada sesuatu selama aku pergi?"
"Ada."
"Loh? Aku basa-basi sebenarnya, tapi benar ada sesuatu?" Victoria jadi kaget sendiri. Kakek Sulvan mengangguk.
"Seseorang datang ke sini, mencarimu."
BERSAMBUNG.