Victoria menggigit bibirnya menahan teriakan, tasnya di depan dan tubuh anak laki-laki yang ia gendong di belakang terasa lebih berat seiring dengan rasa lelah yang menghimpitnya.
Neo yang sempat tertinggal di belakang, kini menjadi yang paling depan. Cellio bisa saja lebih maju, tapi dia sengaja menyamakan langkahnya dengan Victoria menjaga wanita itu.
"Biar aku saja yang gendong, Kak!" ucapnya merasa cemas dengan Victoria yang punya bawaan yang banyak.
Victoria mendelik. Cellio lebih banyak bawaannya. Tas dan empat bungkus kresek besar yang penuh akan makanan dan minuman. Dengan situasi berlari saat ini, sudah terlihat seperti simulasi angkat beban. Victoria sadar sedari tadi Cellio mencoba menyamakan langkah kakinya.
"Cel, fokuslah ke diri sendiri!" ucapnya penuh penekanan.
"Tapi, Kak!" Victoria menghembuskan napasnya sebelum kemudian mempercepat langkah kakinya melebihi Neo dan Cellio. Neo pun sampai kaget karena lari wanita itu tiba-tiba cepat sekali. Cellio sempat kaget sebelum matanya berbinar-sisi penggemarnya aktif karena kagum. Ia menyusul kecepatan Victoria meninggalkan Neo yang lagi-lagi juara tiga di ajang lari dikejar zombie.
Neo mengutuk kecepatan larinya.
Namun, tak ada waktu memikirkan hal tidak berguna. Gerombolan zombie mengejar mereka tanpa lelah, sedangkan kondisi fisik mereka saja mulai menurun. Mereka harus mencari cara! "Kita harus mencari tempat sembunyi!" teriak Neo
terengah-engah. "Tidak! Kita tidak bisa keluar nanti karena mereka
mengikuti langkah kaki kita!" balas Victoria mendengar saran Neo. Merasa saran itu tidak efektif sebab mereka pun dikejar waktu. Jika mereka
mencari tempat sembunyi dan menunggu, tidak ada yang menjamin zombie-zombie itu akan bubar dengan cepat. Neo jengkel karena sarannya tidak diterima,
menurutnya itu efektif. Cellio pun ikut berpikir sekalipun otaknya sudah panas. "Kita lawan saja bagaimana?" ucapnya asal yang membuat Victoria dan Neo menatap tajam ke arahnya.
"Apa kamu gila!?" ucap mereka bersamaan.
"Aku kan cuman menyarankan!" Cellio sakit hati sedikit. Kalau ada senjata api. Victoria akan maju paling depan membasmi setengahnya. Kalau hanya berbekal tongkat besi, bertahan lima menit saja susah.
Victoria berusaha memutar otaknya. Pandangannya mengedar ke kanan dan kiri. Sempat terpikirkan untuk masuk ke gang-gang kecil karena pasti akan menghambat pergerakan, tapi setelah itu apa? Apa yang harus mereka lakukan? Bagaimana jika akhir perjalanan mereka adalah jalan buntu? Victoria terus mencari cara sampai sorot matanya menangkap sebuah toko musik di pinggiran jalan. Terpampang jelas alat-alat musik ditata di depan kaca. Tapi bukan itu yang Victoria lihat, melainkan benda lumayan besar, persegi panjang ke atas berwarna hitam yang jika disambungkan akan mengeluarkan bunyi.
Speaker.
'Itu dia!'
"Masuk ke gang, cepat!" Victoria menuntun jalan diikuti Cellio tanpa pikir panjang dan Neo yang mau tak mau mengikuti. Mereka belok masuk ke sebuah gang yang tidak terlalu sempit tapi cukup menghambat pergerakan para zombie yang berbondong-bondong masuk ke gang saling mendorong.
Victoria membuka tasnya yang digendong di depan dan merogoh isinya dengan satu tangan karena tangannya yang lain menahan beban sang anak.. Ia tak peduli dengan makanan-makanan yang ia kumpulkan tercecer di jalan.
Kini jarak mereka bertiga cukup jauh memberikan napas sejenak. Mendapat benda yang diinginkan. Victoria berhenti dan menurunkan sebentar anak laki-laki yang digendongnya. Anak itu tertunduk layu, matanya kosong. Victoria mengusap kepala anak itu menarik perhatian kecil. Victoria tersenyum menenangkan membuat si kecil terus menatapnya. Sekalipun pendiam, anak ini pasti ketakutan juga, kan?
Victoria menghidupkan ponselnya. Selang waktu itu membuat para zombie mulai menyusul mereka. Cellio dan Neo mundur dengan panik. "Apa yang kamu lakukan, sih!?" marah Neo tak
mengerti apa yang dilakukan Victoria. Cellio pun juga kebingungan. Victoria tidak menggubrisnya dan fokus dengan gerombolan zombie yang berdesakan terus mendekat, sedangkan ponselnya belum hidup.
"Tolong bantu aku menahan mereka!" titah Victoria panik. Neo mendecih membenarkan ranselnya. Ia tak peduli. Neo akan pergi sendiri.
"Hei, Neo! Mau ke mana!?" Cellio kelabakan melihat Neo pergi meninggalkan mereka. Cellio menggigit bibirnya, bimbang ikut pergi atau mengikuti kata-kata Victoria.
"Oh, astaga! Tidak apa! Aku siap mati untuk idolaku!" Cellio melemparkan empat kresek penuh makanan yang ia pegang menghatam wajah zombie yang mendekat, membuat mereka terjatuh. Cellio mengambil tongkat besinya.
"Meh, sini maju! Tidak takut aku!" Cellio mulai memukul leher mereka.
Ponselnya kini sudah hidup, dengan cepat Victoria menghubungkannya dengan bluetooth. Layaknya ponsel yang baru hidup, layanannya menjadi lambat.
Cellio membuat beberapa kepala putus dari badan, tapi tak bisa bertahan lama. Zombie terus mendorong satu sama lain mencoba meraih Cellio membuat laki-laki itu mundur. Tenaganya pun sudah terkuras di awal karena berlari.
"Kak Victoria! Apa masih lama!?" tanyanya menahan salah satu zombie yang menerjangnya.
"Bertahanlah sebentar lagi!"
Cellio kini kesulitan sendiri, sampai ia tak melihat ada satu zombie yang berhasil lolos. Makhluk itu merangkak saat Victoria fokus mengotak-atik ponselnya.
Terhubung!
"GRAWGH!" Zombie itu menerjang Victoria yang tidak ada persiapan.
"Kakak!"
BRUK!
Sebuah tas gembong menghantam zombie yang hampir menggigit Victoria, disusul dengan injakan keras pada kepalanya membuat tengkorak itu hancur. Neo mengambil tongkat besinya dan bergabung dengan Cellio. Cellio tersenyum haru, tapi Neo mendelik tajam.
"Apapun yang kamu lakukan, cepatlah lakukan!"
ucap Neo pada Victoria. Wanita itu mengangguk. Speaker sudah terhubung, dirinya tinggal menyetel lagu.
DUM DUM DUM!
Speaker yang sudah diatur volumenya menjadi maksimal ia letakkan tidak jauh. Victoria
menggendong anak laki-laki itu kembali. "Sekarang lari!" Cellio dan Neo sigap berlari menyusul Victoria di depan. Makhluk-makhluk itu
dengan agresif mengikuti suara irama musik yang kencang, menutupi suara langkah kaki mereka. Makhluk itu berhimpitan dan saling mendorong hingga terjatuh dan berlanjut hingga mereka menumpuk hanya untuk menyergap speaker yang menarik indra pendengaran mereka. Raungan bersahutan menggema dari gang itu. Namun, seiring mereka melangkah pergi, perlahan menumbuhkan kelegaan. Mereka selamat..
🍁🍁🍁
"Terima kasih." Mereka berjalan beriringan. Victoria menatap Neo, tapi laki-laki bersurai biru malam itu tidak membalas.
"Aku tidak melakukannya untukmu," ucapnya tandas. "Wah! Berarti kamu melakukannya untukku!?
Sekarang kamu dirasuki hantu baik, ya?" Cellio tiba-tiba nimbrung dengan senang. Kata-kata Cellio mengundang tatapan tajam dari Neo membuat laki-laki bermata lentik itu kicep seketika. "Iya.
Baiklah. Bukan untuk siapapun." Neo menghela napasnya lelah. "Diamlah, dasar fanatik." Alasan Neo kembali karena hati nuraninya tidak tega, terlebih Cellio adalah temannya sekalipun Neo sering bersikap dingin.
Neo hendak mempercepat langkahnya, tapi mengingat sekarang dirinya menggendong seorang anak di belakangnya membuat Neo mengurungkan niat. Anak itu memejamkan mata setelah diberi makan, tampaknya sedang tertidur.
Bagaimana dirinya berakhir seperti ini karena paksaan Cellio yang melihat Victoria kelelahan. Neo yang tidak membawa apapun lebih baik mengurangi beban idolanya yang tercinta, pikir Cellio.
Anak itu terlalu pendiam, sedari tadi tidak bersuara. Ia hanya fokus makan saat diberi makan. Fokus mengalungkan tangannya ke leher saat digendong. Victoria dan Cellio yang mengajaknya mengobrol tidak digubrisnya.
Sehingga beginilah sekarang, ia menggendong seorang anak-anak karena tidak ada beban seperti Cellio dan Victoria yang membawa ransel, sebab ranselnya sudah dibuang untuk menghantam satu zombie.
Sudah dipastikan, ia yang akan tersingkirkan. Sebentar lagi mereka sampai di pabrik, markas 11x. "Neo," panggil Victoria membuat Neo menoleh sejenak dan menatapnya kebingungan. Victoria seketika berhenti berjalan dan berjongkok mengeluarkan segala isi tasnya yang masih tersisa
beberapa makanan, dimasukkannya semua itu
dalam kresek..
Selesai, ia pun menyodorkannya pada Neo. "Ambillah. Tasmu terbuang karena menyelamatkanku."
"Apa? Itu kan punya Kakak!" Cellio tidak terima. Jika
seperti ini, artinya Victoria yang akan tersingkirkan. Melihat Neo hendak protes, Victoria memaksa, tapi suara tepuk tangan menginterupsi mereka. "Kupikir hanya akan ada satu orang yang bertahan, tapi kalian masih utuh semua, tak bisa dipercaya." Gwen memberikan tepuk tangan yang meriah diikuti oleh anggota yang lain. Gwen melirik penampilan mereka yang terhias oleh noda merah dan juga bawaan mereka yang tidak sesuai ekspektasi.
"Aku tidak berharap banyak, tapi ini lebih sedikit dari yang kukira." Ucapan itu mengundang bisikan oleh para anggota yang lain, mereka menatap sinis. Gwen tersadar akan sosok mungil di punggung Neo. lantas berkomentar, "Dan kalian membawa hal yang tidak terduga, ya. Anak kecil?"
"Kami tidak menerima anak kecil! Buang saja!" ucap salah satu anggota membuat yang lain bersorak setuju. Gwen merentangkan tangannya menyuruh para anggotanya diam.
"Yah, urusan anak itu nanti saja. Bernard, hitunglah hasil jarahan mereka," suruh Gwen pada pria berbadan besar itu. Bernard segera merampas tas Cellio membuatnya mengaduh. Victoria menunjuk plastik yang ada di tangannya.
"Ini punya Neo," Cellio melotot. Neo tidak bersuara.
"Kenapa kamu yang membawanya?"
"Kamu tidak lihat, Neo sedang menggendong."
Victoria mendelik. Gwen tersadar akan pertanyaannya yang tidak bermutu, walaupun ia sudah menebak kalau itu bukanlah punya Neo. Yah, punya siapapun itu, Gwen tidak peduli.
Singkatnya, hasil bawaan mereka pun dihitung. Bernard berbisik pada Gwen membuat para anggota lain penasaran. Gwen berdehem sebelum kemudian ia mengumumkan hasilnya.
"Cellio dan Neo lulus." Beberapa orang bersorak mendengar hal itu, adapula yang tidak senang karena Neo yang menyebalkan lulus. Gwen tersenyum hingga matanya yang sipit tertutup.
"Kalau begitu, mari kita laksanakan hukumannya." "Sekarang."
"Apa!?" Victoria berteriak tidak terima. Rasanya ia tidak diberi napas. Gwen hanya tersenyum. "Ini konsekuensinya, dan kamu harus menerimanya." Cellio panik bukan main dan
mengguncang tubuh Neo yang tidak bersuara sejak tadi.
"Tidak ada lagi yang menarik dari Kota Terra, kita
akan melanjutkan perjalanan ke Kota Reve. Kamu yang akan membuka jalan kami." Gwen yang sedari tadi terus tersenyum saat mengabarkan sesuatu yang tidak menyenangkan membuat Victoria merinding. Ia merasakan firasat yang tidak enak bahwa konsekuensi yang akan dihadapinya mempertaruhkan hal penting.
Cellio mengikuti Victoria yang terus berjalan tidak menghiraukan panggilannya. "Kenapa Kakak mau menggantikan posisi Neo!?" Victoria menghela napas dan berbalik, membuat keduanya saling bertatapan.
"Aku pikir yang aku hadapi tidak akan seburuk itu. Setidaknya tidak sampai mempertaruhkan nyawa," ucap Victoria mencoba menenangkan Cellio.
"Tapi tidak ada yang tahu! Kakak tidak dengar,
mereka akan menggunakan Kakak untuk membuka jalan, rasanya seperti Kakak akan jadi tumbal!" Victoria mendekati Cellio yang menggebu-gebu, laki-laki itu sangat gelisah.
"Apa permintaan Neo yang dimaksud Gwen sebelumnya?" tanya Victoria. Walau enggan karena mengubah topik, ia tetap menjawabnya.
"Neo ingin diantarkan ke Porto Marina, kampung halamannya. Keluarganya di sana," jelas Cellio. Victoria tersenyum dan menepuk bahu Cellio menenangkan.
"Bukankah Neo lebih layak untuk bertahan di sini? Kamu pasti mendukung temanmu bukan?" Cellio
tidak menggubris perkataan Victoria. Memang benar ia ingin Neo mencapai tujuannya, tapi tidak seperti ini. Kedua orang ini sama-sama berarti.
Victoria segera menarik Cellio dalam pelukannya. Laki-laki itu sangat khawatir membuatnya tak tega. "Aku akan baik-baik saja, Cel." Cellio kikuk dalam pelukan Victoria, wajahnya memanas.
Mereka pun bertatapan dan Cellio hanyut akan senyuman hangat Victoria yang menenangkan. Menumbuhkan rasa yang tidak biasa dalam hatinya.
🍁🍁🍁
"Bos menyuruhku untuk mengantarmu." Salah seorang anggota 11x berbicara dengan Victoria. Laki-laki itu menyeringai, menatap Victoria dari atas ke bawah.
Victoria memutar matanya malas. Victoria yang menurutnya jual mahal membuatnya bersiul. Ia menyuruh Victoria naik ke atas motornya. Semua anggota 11x sudah bersiap dengan motornya masing-masing, Neo dan Cellio ikut dengan anggota yang lain. Anak laki-laki yang mereka selamatkan pun juga dibawa berbonceng bertiga dengan Cellio. Mereka semua pergi ke arah yang berbeda dari Victoria.
Mereka sudah bersiap untuk meninggalkan markas mereka, untuk selamanya.
Tak butuh waktu lama Victoria diantar untuk mencari mobil yang masih berfungsi. "Biar aku saja yang menyetirnya dulu." Laki-laki itu menawarkan diri dengan paksa segera masuk ke kursi pengemudi. Mau tak mau Victoria duduk di kursi penumpang. Mobil yang mereka kendarai adalah sebuah truk.
Dalam perjalanan, hening terasa. Victoria tak mau berbicara dan fokus melihat ke luar jendela di mana langit mulai berwarna jingga. "Sayang sekali Padahal kamu secantik ini," ucap lelaki itu tiba-tiba. Victoria merinding sekujur tubuh, melirik tajam laki-laki itu yang malah dianggapnya mempesona.
"Apa yang disayangkan?" tanya Victoria.
"Konsekuensi yang kamu jalani," ucapnya setengah-setengah.
"Memangnya apa yang akan kuhadapi?" Victoria mencoba mengorek informasi, sebab tidak ada kejelasan sama sekali apa yang harus dilakukan Victoria.
Laki-laki itu menyeringai. Ia menunjuk batu besar yang mulai terlihat dan tumpukan mobil di dekat batu itu. "Kamu akan menyetir truk ini dan ...
BOOM!"
"Apa ...."
Nyawanya dipertaruhkan.
Keterkejutan Victoria membuatnya semakin menyeringai. "Mau kubantu? Tapi tidak gratis, sih~" ucapnya melirik Victoria. Salah satu tangannya mulai merayap menyentuh paha wanita itu. Victoria melotot sempurna. Modus menjijikkan itu membuat adrenalin Victoria meningkat. Ia mencengkram tangan itu kuat sebelum lebih jauh menyentuh dirinya.
"Kamu!" Laki-laki itu mengaduh kesakitan, ia melawan. Namun, Victoria lebih dulu melancarkan aksinya dengan segera membenturkan kepala laki-laki itu ke setir menekan kuat klakson, tapi truk itu masih melaju.
"Biadab!"
Truk terus melaju tanpa henti.
BERSAMBUNG.