Victoria merasakan kedua kakinya nyaris keram. Dia berusaha menahannya dengan menggigit bibirnya. Napasnya terengah-engah, badannya terasa panas. Di punggungnya, seorang anak laki-laki dengan tubuh yang kurus dan kusam tanpa ekspresi memeluk lehernya. Anak itu terlalu senyap untuk situasi mengerikan ini yang seharusnya pada anak yang lain mereka akan menangis dan menggigil ketakutan.
"Cepat, Neo!" ucap Cellio yang berlari sejajar dengan Victoria. Neo mendecih dan mencoba menaikkan kecepatan larinya yang memang tak seberapa. Gerombolan zombie kian mendekat walau dengan jalan terseok-seok. Tidak dapat dihitung ada berapa zombie yang mengejar mereka. Tempat yang mereka datangi sudah seperti tumpukan zombie.
Situasi ini terjadi karena mereka harus menjalani kompetisi konyol untuk mendapatkan posisi anggota terakhir, anggota ke-11.
Beberapa waktu lalu....
Victoria adalah orang terbuang di sini, tak ada yang menganggap anggota ke-12 itu.
Namun, ada penggemarnya-Cellio terus menerus mendekatinya, lantas membuat Victoria merasa ketempelan. Hal itu laki-laki itu lakukan karena katanya ingin melindungi Victoria. "Aku akan melindungimu, Kak Victoria! Bahkan debu pun tak akan pernah menempel di bajumu!" ucapnya. kemarin malam layaknya seorang penggemar yang sangat mencintai idolanya.
"Pagi yang cerah, Kak! Aku membawakan sarapan."
"Terima kasih, Cellio."
"Kakak bisa panggil aku Cel!"
"Haha. Baiklah, Cel" Victoria mengusap kepala Cellio untuk ucapan terima kasih dan mengambil sarapan yang dipegang Cellio. Cellio meledak dalam perasaan senang, pipinya memerah dan menyengir sampai giginya kering.
"Hei, kalian yang di sana! Cepat mendekat ke api unggun, ada yang mau Bos bicarakan!" Salah satu anggota 11x berteriak memanggil para anggota. Victoria hendak memakan sarapannya sampai tiba-tiba bahunya ditabrak seseorang yang membuat sarapan Victoria tumpah ke tanah.
Victoria menatap sengit orang yang menabraknya, ia segera menahan baju orang itu membuatnya menoleh dan Victoria mengenali siapa itu.
"Lepas." Neo tanpa takut menatap tak kalah sengit Victoria. Victoria seketika jengkel. Entah karena apa, Neo tampak sangat tidak bersahabat dengannya.
"Apa masalahmu denganku, sih?" tanya Victoria tak paham kenapa dirinya dibenci. Kemarin Victoria menolong Neo yang diganggu, tapi Neo malah mengatakan Victoria adalah orang yang terlalu ikut campur.
Victoria dan Neo saling berpandangan, keheningan yang panjang tak mampu memutuskan tatapan tajam Neo.
"Aku tak butuh pahlawan kesiangan yang suka ikut campur sepertimu," ucapnya setelah berdiri dan pergi begitu saja.
Semua itu membuat perasaannya kepada Neo begitu jelek.
"Kedatanganmu merepotkan! Aku membencimu," kata Neo lumayan kencang. Victoria mengernyitkan alisnya. Ini pertama kalinya ia bertemu Neo, lalu bagaimana bisa ia langsung membenci seperti itu?
Cellio yang melihat kejadian itu ingin memisahkan mereka berdua, tapi Neo sudah melepaskan cengkraman tangan Victoria yang mengendur. Neo pergi.
"Apa-apaan anak ini," gumam Victoria melihat kepergian Neo.
"Sudah seperti anak puber saja," ucap Cellio tak habis pikir dengan perilaku temannya. Victoria memandang Cellio penuh tanya.
"Memangnya dia orang yang seperti itu, ya?"
"Yah, sekalipun Neo selalu bicara blak-blakan, dia tak pernah sampai membenci tanpa alasan begitu," ucap Cellio menerangkan, membuat Victoria menghela napas lelah. Ia hanya ingin semua ini cepat berlalu dan melanjutkan perjalanannya.
🍁🍁🍁
Kabut tipis dari embun pagi masih terlihat dengan jelas pada pandangan mata. Gwen berdiri di tengah lingkaran anggota 11x. Matanya hanya fokus pada dua orang-Neo dan Victoria.
"Seperti yang sudah aku janjikan, hari ini adalah hari penentuan kalian." Gwen menerbitkan senyumannya sampai matanya yang sipit tertutup dan melanjutkan, "Siapa yang akan menjadi anggota ke-11."
"Sebelum itu, aku minta maaf padamu, Neo. Kamu sudah menjadi anggota terakhir kami, tapi kamu harus berkompetisi mendapatkan apa yang sudah kamu miliki." Gwen menampilkan wajah sedih, merasa bersalah akan apa yang terjadi pada anggota terakhirnya itu. Neo tampak tidak memberikan respon apapun. Namun, jika lebih teliti, Neo mencengkram telapak tangannya.
"Tapi terima nasib saja, lah. Kamu punya alasan untuk bertahan juga, kan? Aku akan mengabulkan permintaanmu jika kamu berhasil," ucap Gwen membuat Neo kini mengernyitkan alisnya, matanya melirik tajam Victoria yang tak jauh dari dirinya. Neo tidak akan kalah.
Permintaan?
Victoria bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh Gwen, tapi Gwen menepukkan tangannya membuat fokus Victoria buyar. "Karena kemarin kita terlalu berpesta hingga persediaan makanan menipis. Jadi kalian berdua harus mencari persediaan makanan sebanyak mungkin sebelum jam dua siang karena kita akan melakukan perjalanan. Siapa yang membawa lebih banyak itu yang menang."
"Apa ada yang ingin ditanyakan?"
"Apa konsekuensi yang kalah?" tanya Victoria walaupun sudah menebak.
"Hukuman? Kalian akan tahu nanti." Victoria memijit pelipisnya.
"Di mana kami harus mencari?" tanya Neo, kini gilirannya.
"Kalian akan melihat sendiri nanti."
'Ini niat menjawab pertanyaan atau tidak, sih!" Victoria tak habis pikir dengan Gwen. Gwen terkikik geli, berhasil membuat Victoria dan Neo menunjukkan wajah masam, sampai atensinya teralihkan dengan seseorang yang tiba-tiba bersuara.
"Aku akan ikut," ucap laki-laki berambut cokelat yang berdiri di samping Victoria, mengangkat tangannya. Gwen sedikit kebingungan.
"Aku tidak menerima salah satunya dibantu. Itu tidak adil, Cellio," ucap Gwen tahu bahwa Cellio berteman dengan Neo. Cellio menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak membantu, aku juga ikut berkompetisi." Pernyataan dari Cellio membuat Victoria terkejut dan kebingungan. Cellio memberikannya senyuman yang menenangkan.
"Yah, tidak buruk. Baiklah, silahkan saja kalian bermain. Pokoknya batas waktu kalian hanya sampai jam dua siang, kalau tidak datang setelah itu kalian bertiga dinyatakan tersingkirkan semua." Gwen menepukkan tangannya seolah itu adalah tanda bahwa keputusannya final.
"Aku tidak suka kelebihan. Jadi lebih baik kurang bukan?"
🍁🍁🍁
Berbekal sebuah peta besar yang diambil di mading alun-alun kota, mereka bertiga akhirnya sampai di tempat tujuan, di mana mereka harus menjarah makanan sebanyak mungkin.
"Sunyi sekali. Tidak ada zombie," ucap Cellio melihat-lihat sekitar. Gedung-gedung masih berdiri tegak, tetapi sebagian besar jendelanya pecah, catnya mengelupas, dan tumbuhan liar mulai merambat di antara retakan trotoar. Jalanan dipenuhi mobil-mobil yang ditinggalkan.
Tidak ada suara, kecuali angin yang berbisik dan langkah kaki mereka. Hanya wilayah yang terisolasi dan ditinggalkan di Kota Terra yang cukup besar.
Meskipun sepi, ada perasaan yang sulit untuk diabaikan. Entah hanya paranoia atau memang ada sesuatu yang tersimpan dari balik sunyinya yang terlalu damai untuk dunia yang telah hancur.
"Kalau sunyinya seperti ini, harusnya dari awal 11x sudah menjarah semua yang ada di sini. Lalu kenapa kita dikirim ke sini?" tanya Cellio mengingat tabiat kelompok 11x yang ia ketahui. Ia memandang Victoria yang merupakan anak baru dibandingkan Neo yang seangkatan dengannya di kelompok itu.
"Kamu bertanya padaku, aku bertanya pada siapa?" ucap Victoria tak habis pikir.
"Aku lebih suka memandang Kak Victoria, daripada wajah masam Neo. Rasanya aku akan bermimpi buruk jika bertatapan dengannya saat ini," ucapnya mendramatisir membuat Victoria tertawa. Neo mendengar itu mendecih, ia melangkahkan kakinya cepat meninggalkan Victoria dan Cellio di belakang. Wajah cemberutnya tak bisa ditutupi.
Cellio mendekat pada Victoria dan berbisik. "Lihat betapa cemberutnya dia. Neo seperti orang kesurupan hantu pembenci. Dia memang jarang bersosialisasi, tapi tak pernah seperti ini," Cellio menghela napasnya.
Victoria hanya mengangguk singkat. Dia tak ada ketertarikan untuk membahas Neo yang membuatnya kesal lebih lanjut. "Tadi kamu bilang 11x harusnya sudah menjarah tempat ini, kenapa begitu?" tanya Victoria mengubah topik.
Cellio berpikir sejenak, mencari informasi dalam ingatannya selama sebulan sudah bergabung. Tidak seperti Neo yang tidak disenangi, Cellio akrab dengan para anggota yang lain.
"Kelompok itu tak pernah meninggalkan Kota Terra, alasannya karena mereka suka berpesta. Dari awal mereka adalah kelompok nakal, jadi tidak heran. Dengan situasi seperti ini, mereka berpikir untuk menikmati kota mati ini. Bebas mengambil apapun, dan melakukan apapun" ucap Cellio. Victoria bergidik, orang-orang di kelompok itu berpikir tidak wajar rupanya.
"Tidak ada rencana untuk pergi gitu?"
"Hmm, ada mungkin? Kota Terra memang cukup besar, tapi biasanya mereka berbagi tugas, sehingga tampaknya sudah semua wilayah mereka jarah selama ini." Cellio teringat sesuatu. "Oh iya, beberapa waktu lalu mereka mengumpulkan mobil untuk meledakkan batu besar yang menutupi jalan ke Kota Reve." Victoria mengangguk paham. Ia ingat pernah mendengar berita kalau Kota Reve menutup semua akses jalan dengan batu besar agar wabah itu tidak menyebar lebih jauh. Entah cara mereka berhasil atau tidak.
Singkatnya mereka mengobrol di sepanjang perjalanan. Neo terus berjalan beberapa langkah di depan. Tubuhnya tak bisa rileks memikirkan kompetisi yang harus dijalani untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, terlebih ia tak tahu apa konsekuensinya jika tersingkirkan.
Sekalipun Cellio juga ikut, membuat dua kursi dapat direbut, tapi tak ada yang menjamin Neo yang masuk jika dia tak bekerja keras. Berbanding terbalik dengan Victoria dan Cellio yang cipika-cipiki seperti perjalanan ini adalah rekreasi.
Tak berselang lama. Neo menemukan supermarket, tapi Cellio mulai berteriak. "Wah! Ada supermarket!" ucapnya menunjuk bangunan itu. Victoria dan Cellio mendeklarasikan kesenangan mereka.
"Ayo masuk ke dalam!" ucap Victoria lebih dulu masuk ke tempat itu. Cellio mengikuti langkahnya sebelum ia sadar Neo mulai kembali berjalan.
"Neo, kamu tidak ingin ke sini?" tanya Cellio kebingungan kala Neo menjauh. Ia tahu kalau Neo lebih dulu memperhatikan supermarket itu. Neo berbalik dan menatap Cellio jengah.
"Kita ini lagi berkompetisi, bodoh. Kalau sama-sama bukan kompetisi namanya."
"Oh, iya. Benar juga." Cellio tampak berpikir. la mengikuti ini semata-mata karena Victoria, tapi tempatnya juga dipertaruhkan.
"Cel, kamu tidak masuk ke dalam?" tanya Victoria yang sudah memasukkan beberapa makanan dalam tasnya. Wajah wanita itu menunjukkan kebingungan yang di pandangan Cellio sangat lucu. Jantungnya berdebar dan dia nyengir.
Tak apa, lah. Dirinya bahkan rela mati untuk Victoria.
"Tunggu aku, Kak Victoria!"
Neo menatap jengah penggemar fanatik itu. "Kalau sudah berhubungan dengan idolanya, tali otaknya langsung putus." Neo tahu Victoria adalah idola yang sangat disenangi Cellio, karena laki-laki itu sering menceritakan dan menunjukkan rupa Victoria.
Tidak ada waktu untuk peduli sesama teman, waktunya kian menipis. la harus mencari banyak makanan agar tidak tersingkirkan.
🍁🍁🍁
"Haha, kalau seperti ini lebih menarik." Laki-laki bermata sipit-Gwen-tergelak dan menyeringai kala ia melihat seseorang yang berhasil ditangkap anak buahnya untuk dijadikan tumbal, tengah ketakutan di depan gerbang besi kokoh yang terkunci rapat oleh gembok.
Di balik pagar besi yang sudah berkarat dan kusam, ratusan zombie bergerak tanpa tujuan, menumpuk dan saling mendorong dengan tubuh yang sudah membusuk. Tangan-tangan kurus mereka mencakar besi, beberapa jari putus dan tertinggal di sela-sela. Bau busuk bercampur aroma karat memenuhi udara, bahkan Gwen dapat mencium baunya dari atas.
Itu adalah bukti pengorbanan dua anggota sebelumnya.
"Mati dengan sia-sia. Yah, aku berterima kasih karena kalian menyimpan hal seperti ini, jadi kompetisi ini menjadi menarik." Gwen terkekeh. Sudut bibirnya semakin naik dan matanya penuh kilat kesenangan ketika gerbang itu dibuka dan segera ratusan zombie yang terkurung di sana menerjang tanpa ampun. Teriakan seorang tumbal menggema penuh.
Bernard yang berdiri tak jauh dari Gwen, mencengkram tangannya kuat.
🍁🍁🍁
Tasnya yang dikembalikan hanya berisi speaker kecil dan peralatan lainnya, makanannya sudah diambil semua.
Ya sudah, lah. Yang penting sekarang ia mengambil makanan sebanyak mungkin. Victoria memasukkan makanan ke dalam tasnya yang hendak penuh. Tangannya tak sengaja menjatuhkan barang hingga menimbulkan bunyi yang mengejutkan untuk situasi sunyi itu.
BRUK!
Victoria terlonjak kaget, beserta Cellio yang berada di balik rak lain memekik. Cellio segera mendatangi Victoria yang tertegun memandang pintu ruang toilet yang terus mengeluarkan bunyi dobrakan seolah seseorang tengah memukulnya dengan kepala.
"K-kak Victoria...." Victoria berdiri, secara perlahan mendekat. Ia mengambil alat pemadam api ringan yang tergantung di dinding. Dengan posisi siap Victoria menyuruh Cellio membuka pintu dengan lirikan mata.
Cellio menurut dengan tangan gemetar. la membukanya dan seseorang segera menerjang Victoria yang berada di depannya. Victoria menekan alat itu menyemprotkannya pada zombie perempuan, segera setelahnya ia langsung menghantam zombie itu dengan alat pemadam membuat kepala itu pecah seketika.
Cellio menutup mulutnya rapat-rapat. Kejadiannya begitu cepat.
Tiba-tiba ia mendengar suara batuk dari dalam toilet. "K-kak, zombie bisa batuk tidak, ya?"
"Apa?" Victoria mengusap darah yang terciprat ke wajahnya, sebelum kemudian ia juga mendengar suara batukan. Victoria melangkahkan kakinya tergesa-gesa masuk membuat Cellio panik, mengira kalau di dalam masih ada zombie dan takut Victoria terluka.
Namun, Victoria tak berpikir begitu.
Ia membuka bilik toilet yang ada hanya untuk mendapati seorang anak laki-laki bertubuh kurus dan kusam meringis memegang perutnya. Ada beberapa bungkusan makanan ringan berserekan.
"CELLIO! KELUAR SEKARANG JUGA!" Tiba-tiba suara seseorang terdengar. Cellio mengetahui suara itu adalah Neo. Cellio segera pergi mencari tahu. Matanya terbelalak kala ia melihat segerombolan zombie mengejar Neo yang semakin mendekat pada supermarket.
"Kamu dapat di mana itu, Neo gila!".
Seketika situasi menjadi tidak terkendali.
BERSAMBUNG