Penulis: Dinda Roihatul Janah

09


"Wow! Banyak sekali makanan di tasnya. Hehehe, pesta nih kita."

 

"Wanita ini datang dari arah Porto Marina, kan?"

 

"Iya, benar. Aku juga tidak menyangka ada yang masih hidup di kota yang sudah mati itu."

 

Matanya sayup-sayup terbuka kala mendengar bisingan dari banyak orang yang berbicara. Ia hendak mengucek matanya, tapi tangannya terasa ditahan. Sampai akhirnya mata itu terbuka sempurna, kaget dengan yang terjadi.

 

Saat ini dia berada di sebuah aula terbengkalai. Dengan pencahayaan yang hanya masuk dari pintu besar yang terbuka, Victoria bisa melihat banyak alat-alat besar yang berdebu.

 

'Apa ini?" Victoria mendapati banyak laki-laki di depannya, mereka menggunakan jaket jeans ciri khas anak geng motor. Ada sekitar sepuluh orang. Sebagian besar menatap Victoria sembari menyeringai, salah satunya ada yang melambaikan tangannya seolah menyapa, atau tanpa ekspresi tapi menatap Victoria sinis.

 

"Bos, sudah bangun, nih," ucap salah satu laki-laki sembari menunjuk Victoria. Victoria hendak bangkit tapi kakinya diikat, begitupun juga tangannya yang sama-sama diikat di kursi.

 

Mulutnya pun disekap oleh kain. "Hmph!!!" Victoria menatap nyalang semua laki-laki di depannya.. Seorang laki-laki yang tampaknya adalah ketua geng menghampiri Victoria. Salah satu anak buahnya mengangkat kursi dan menaruhnya di belakang laki-laki itu, seketika Victoria duduk berhadapan dengannya.

 

"Jangan galak begitu, dong." Laki-laki itu terkekeh saat ia ditatap dengan tajam oleh pemilik manik cokelat itu. Laki-laki itu tersenyum ramah sambil tangannya menopang dagu. "Kamu dari Porto Marina?"

 

Victoria mengernyitkan dahinya. Bagaimana orang ini bisa menebak seperti itu? "Anak buahku melihatmu keluar dari terowongan. Satu-satunya jalan ke Porto Marina. Kamu melihatnya seperti itu kan, Bernard?" Seolah membaca pikiran, laki-laki itu mengungkapkan bagaimana ia bisa tahu.

 

Laki-laki berbadan besar Bernard mengangguk. "Iya, Bos. Aku dan yang lain melihatnya. Jadi, kami membuntutinya dan perempuan ini memakai tempat kita tanpa izin, Bos."

 

Victoria semakin tidak mengerti. Perasaan Victoria hanya numpang tidur di salah satu pabrik yang terlihat aman, itu pun di luar.

 

'Ah, pabrik ini markas mereka?"

 

Victoria menghela napasnya. "Jadi kamu mengerti sekarang, kan? Bagaimana kamu berakhir di sini," ucap laki-laki itu dengan senyuman manis sampai matanya pun ikut menyipit. Victoria tidak memberikan respon apapun membuat beberapa anggota menjadi geram terhadapnya.

 

"Anggaplah dirimu di sini karena harus membayar uang sewa pemakaian. Tapi karena situasinya seperti ini, uang tidak ada gunanya, kan?" Laki-laki itu menyuruh salah satu anak buahnya untuk meletakkan tas Victoria yang sudah mereka buka beserta segala senjatanya di depan. "Semua barangmu buat kami saja, ya?" ucapnya dengan senyum ramah.

 

Victoria menatap laki-laki itu tajam. Sudah jelas sekali motifnya adalah merampok semua barang Victoria, terlebih dengan senjata yang Victoria bawa.

 

"Apa jawabanmu? Aku hanya menerima iya dan setuju." Laki-laki itu menyuruh anak buahnya yang mengawasi Victoria dari samping untuk melepaskan kain yang menutup mulut Victoria.

 

Kain itu sudah terlepas, memungkinkan Victoria untuk menjawab. "Siapa kalian?" tanya Victoria bukannya menuruti perkataan laki-laki itu yang menyuruhnya untuk menjawab.

 

"Kamu penasaran dengan kami?" Laki-laki itu tetap mempertahankan senyumannya. Ia berdiri mendekati Victoria dan menunduk mendekatkan wajahnya pada Victoria sampai wanita itu bisa merasakan napas berhembus di wajahnya.

 

"Kami hanya geng motor biasa saat dunia masih normal. Yah, saat ini kami bisa dibilang seperti penyintas. Kelompok kami bernama 11x dan aku adalah ketuanya, namaku Gwen," ucapnya sedikit menjelaskan, bahkan memperkenalkan diri dengan senyum yang manis membuat beberapa anak buahnya berbisik. Jarang sekali bos mereka rela untuk menjelaskan sesuatu, terlebih Victoria bahkan mengacuhkan perkataan laki-laki itu-Gwen yang menyuruhnya hanya mengatakan iya atau setuju. Jika mereka yang seperti itu, mereka akan langsung dihukum.

 

Victoria jadi curiga ketika telinganya curi dengar bisikan orang-orang itu. Tampaknya Gwen berpura-pura bersikap ramah dengannya, entah apa motifnya.

 

"I.alu akan kamu apakan aku kalau kamu mengambil barang-barangku?" tanya Victoria masih berani. Gwen tampak berpikir sambil melirik Victoria dengan kekehan kecil.

 

"Barang-barangmu itu bayaran sewa pemakaian. Tidak ada yang gratis di dunia, kan?" Perkataan Gwen membuat anggota 11x tertawa.

 

'Memangnya ini tempat dibuat sama nenek moyangmu, hah!' Victoria membatin hendak sekali ia katakan. Kepalanya berdenyut sakit menghadapi sekelompok tidak jelas yang tiba-tiba muncul di awal perjalanannya.

 

Victoria yang diambil semua barangnya tak punya perbekalan, karena ranselnya sudah diisi dengan hal-hal yang menunjang perjalanannya-makanan dan minuman, p3k, peluru senjatanya dan alat-alat yang sekiranya berguna seperti speaker kecil yang bisa digunakan untuk pengalih perhatian terlebih senjatanya untuk bertahan hidup. Jika ia kehilangan barang-barang itu, Victoria akan sangat kesusahan. Tampaknya setelah barang-barangnya diambil, ia akan dibuang begitu saja. Maka dari itu, sebelum itu terjadi Victoria memberikan penawaran.

 

"Kalau begitu, biarkan aku masuk ke dalam kelompokmu!" ucap Victoria penuh keyakinan menawarkan diri sebelum dirinya yang ditendang. "Aku akan melakukan apapun," lanjutnya.

 

Perkataannya mengundang decak kagum dan sorak oleh para anggota, bahkan Gwen pun tertawa dibuatnya. Namun, ada juga yang sinis. Victoria tahu kata-kata itu akan menimbulkan masalah baginya, tapi jika dia tidak berkata seperti itu Gwen tampak tak akan segan-segan untuk tidak memikirkannya.

 

"Melakukan apapun? Memangnya nilai gunamu apa?" tanya Gwen dengan senyuman yang kini membuat merinding.

 

Victoria berpikir cepat, ia memperhatikan kalau kelompok 11x ini hanya menggunakan tongkat besi untuk senjata. "... Anak buahmu juga melihat tindakanku saat di terowongan itu, kan? Kupikir aku lebih berguna daripada yang hanya bisa melakukan pertarungan jarak dekat menggunakan tongkat besi," ucap Victoria penuh penekanan, ia tersenyum sinis sembari melirik anggota 11x.

 

"Bukankah wanita ini mengejek kita!?"

 

"Wah, tidak bisa dibiarkan!"

 

"Wanita ini mau dihajar rupanya!"

 

Sumpah serapah terdengar di tiap mulut para anggota 11x. Mereka tak terima diremehkan seperti itu, mereka sudah siap menghajar Victoria tanpa memandang jenis kelaminnya. Namun, Gwen segera menghentikan mereka dan tersenyum penuh arti kepada Victoria yang seketika merinding.

 

"Baiklah. Aku suka jawabanmu. Melakukan apapun, ya? Yah, kamu pasti berguna bahkan untuk sekedar menjadi mangsa anjing," ucapnya merendahkan. Gwen menyuruh anak buahnya untuk melepaskan ikatan tangan dan kaki Victoria.

 

"Namamu siapa?"

 

"... Victoria."

 

"Nah, Victoria. Kamu tahu kenapa kelompok ini dinamakan 11x?" Gwen berbalik dan berjalan santai. "Karena aku hanya menerima 10 orang untuk menjadi anak buahku. Karena sekarang ada kamu, maka anggota terakhir kelompok kami...." Gwen menepuk pundak seorang laki-laki berambut biru malam yang menatap Victoria sinis sedari tadi.

 

"Kalian harus berebut kursi." Sebelum kemudian mendorong laki-laki itu berhadapan dengan Victoria.

 

"Besok adalah hari penentuan kalian," ucapnya sembari menepuk pundak laki-laki itu.

 

"Aku titipkan Victoria padamu, Neo. Semoga beruntung~" Gwen tersenyum ramah dan melangkah pergi diikuti oleh anggota yang lain, kecuali laki-laki yang berdiri di depannya. Wajahnya tidak terlalu nampak karena poninya yang panjang.

 

Namun, setelah semua orang pergi menyisakan mereka berdua dalam keheningan. Laki-laki itu mendongak menampilkan wajah tak menyenangkan. Manik hitamnya menatap tajam Victoria.

 

Dia terlihat lebih muda dari Victoria, jadi Victoria menurunkan kewaspadaannya dan hendak menyapa, sebelum anak itu lebih dulu berucap, "Menyebalkan."

 

Dan pergi begitu saja.

 

🍁🍁🍁

 

Malam telah tiba, api unggun dinyalakan lumayan besar dengan banyaknya tumpukan kayu sebagai bahan bakarnya. Api itu melindungi tubuh dari dinginnya malam itu.

 

Tempat itu jauh dari kawasan zombie, sehingga mereka bebas untuk mengeluarkan suara. Anggota 11x menikmati malam mereka dengan makan-makan dan berpesta. Beberapa menari memutari api unggun, ada juga yang bersorak sambil menilai tarian yang ditampilkan. Adapun yang lain menghabiskan makanan yang tersedia.

 

Victoria duduk tak jauh dari tempat itu, sendirian sambil kedinginan dan kelaparan. Dia diabaikan sepenuhnya tak diterima kehadirannya, bahkan diberi makan pun tidak. Yang membuat Victoria jengkel adalah kenyataan bahwa sebagian besar makanan itu adalah perbekalannya yang seharusnya cukup untuk sebulan seorang diri kini habis dalam satu malam.

 

Victoria memeluk dirinya sendiri, matanya terus mengamati jalannya pesta itu. Kini beberapa mulai minum-minum. Sekali teguk sudah mabuk dan berkeliaran dengan gembira. "Aku tidak mengerti bagaimana mereka bisa bertahan selama ini."

 

"Aku pun juga tidak mengerti walau sudah hampir sebulan bergabung."

 

Victoria kaget kala perkataannya disahut. Seorang laki-laki lebih muda darinya dan berperawakan cantik berbulu mata lentik dengan surai cokelat yang tampak halus, la melambaikan tangannya.

 

"Kamu baru saja melihat mereka untuk pertama kali, aku cuman mau bilang jangan kaget kalau mereka setiap malam akan berpesta, bahkan mabuk mereka sampai kebawa pagi," ucapпуа menerangkan sambil duduk di sebelah Victoria.

 

"Makanya aku juga heran, bagaimana mereka bertahan hidup selama ini." Matanya lurus memperhatikan pesta itu. Victoria pun mengikuti arah pandang yang sama. "Semenjak wabah zombie terjadi, hanya dua anggota yang gugur dan aku salah satu penggantinya bersama temanku. Kami tanpa sengaja bertemu mereka saat kabur dari kejaran zombie."

 

Orang itu pun juga menjelaskan kalau 11x seperti namanya, jumlah anggota hanya 11 orang termasuk dengan sang ketua. Lebih dari itu mereka tidak menerima, seolah menjaga performa.

 

"Lalu kenapa aku bisa diterima?"

 

"Kamu belum diterima bergabung." Laki-laki itu memandang Victoria dengan raut serius. "Neo itu temanku, dia anggota terakhir. Kamu dan dia akan merebut posisi anggota terakhir tergantung performa. Ketuanya yang akan memilih, dan yang terbuang akan dijadikan santapan anjing."

 

"Santapan anjing?" Laki-laki itu mengangguk, lebih lanjut mengatakan kalau kejadian serupa pernah terjadi, yaitu ada anggota ke-12 seperti Victoria.

 

'Apa Gwen pelihara anjing rabies di sekitar sini?' pikirnya bergidik ngeri.

 

"Bukan seperti anjing yang kamu pikirkan. Gwen menganggap zombie seperti anjing." Seolah membaca bayangan Victoria, laki-laki itu meluruskan.

 

Sekarang maksudnya ia bisa saja dilemparkan ke mulut zombie?

 

"Aku harap kamu lebih menunjukkan performa yang bagus," ucap laki-laki itu menatap Victoria dengan senyum yang manis. Victoria mengernyitkan dahi.

 

"Bukannya Neo temanmu? Kalau aku lebih baik, Neo akan tersingkirkan."

 

"Tentunya aku ingin kalian berdua tidak bernasib buruk. Hanya saja ...."

 

Laki-laki itu menunduk sampai Victoria tak bisa melihat ekspresinya. Sampai ia dikejutkan dengan sepasang tangan yang menangkup kedua tangannya.

 

"Aku tidak mau idolaku berakhir buruk!" Menatap Victoria dengan mata berbinar-binar.

 

"Aku Cellio! Aku penggemar paling beratmu, Kak Victoria!" ucapnya dengan menggebu-gebu.

 

"A-ah... iya? Halo?"

 

Ia tersenyum sampai giginya terlihat. Ia terus berbicara betapa ia sangat senang sampai ingin salto hanya karena langsung mengenali Victoria saat wanita itu disekap. Mengatakan ia sedih sekali memikirkan keadaan Victoria dari terakhir kali siaran langsungnya. Sampai mimpinya yang ingin menjadi orang terkenal seperti Victoria.

 

"Aku sangat ingin menjadi seperti Kak Victoria!"

 

Ah, tidak pernah ia bayangkan bahwa dirinya akan sapa penggemar di dunia yang kacau ini.

 

BRUK!

 

Keduanya mendelik kaget dan langsung menatap ke sumber suara, tapi terhalang bangunan pabrik. Lokasinya tidak jauh sehingga mereka bisa mendengar suara yang berbicara dan juga sesuatu yang dipukul.

 

Victoria merasakan ada hal yang tidak beres. Ia segera bangkit dan perlahan mendekat diikuti Cellio di belakang.

 

"Melihat wajahmu membuatku kesal!"

 

"Aku memang sudah tidak senang dengan anak ingusan ini saat dia bicara dengan Bos ingin ke Porto Marina, menambah pekerjaan saja!" Dua orang anggota 11x memukul dan menginjak seseorang yang menelungkupkan diri untuk pertahanan. Dua orang itu sempoyongan, ketahuan sekali sedang mabuk.

 

Mereka mencemooh dan terus melakukan tindak kekerasan. Salah satunya tiba-tiba mencengkram kerah baju laki-laki itu yang sudah luka sana-sini akibat pukulan, dan saat Cellio melihatnya ia segera mengenalinya.

 

"Itu Neo," ucapnya. "Semenjak kami bergabung, mereka sudah tidak suka dengan Neo yang selalu blak-blakan, mereka sering membulinya karena Neo selalu membangkang."

 

Laki-laki itu menampar Neo. Neo tidak bergeming, matanya menatap tajam tanpa takut, membuat mereka lebih tersulut emosi. Api yang sudah terbakar terus ditambahkan kayu. Neo meludahi wajah orang itu.

 

"Mulutmu bau," ucapnya memang benar karena mencium bau alkohol dari mulut laki-laki itu.

 

"Anak ini!!!" Wajahnya sudah merah padam. Ia mengambil botol alkohol di sampingnya dan hendak memukulkannya ke kepala Neo jika saja Victoria tidak segera datang dan memukul kedua tengkuk laki-laki itu membuat mereka terjatuh tak sadarkan diri.

 

Victoria dan Neo saling berpandangan.

 

"... Lebih baik kamu istirahat, besok hari penentuan, kan?"

 

BERSAMBUNG.