"Tadaaa! Omelette sudah jadi, selamat menikmati, Kakek." Victoria meletakkan dua piring ke atas meja, kemudian ia duduk di kursinya.
Kakek Sulvan mengangguk dan memakan masakannya itu. Kakek Sulvan tertawa. "Tidak heran badanmu tidak bisa kembali kalau masakanmu saja enak seperti ini, hahahah!"
Victoria tersenyum jengkel. "Apa itu pujian, atau hinaan?"
"Keduanya."
Victoria memutar matanya malas, sudah biasa dengan blak-blakannya pria tua penuh uban itu. Menjalani pelatihan yang sangat ketat dari Kakek Sulvan, Victoria tumbuh menjadi wanita yang lumayan berotot, tapi bentuk badannya tak kembali.
Victoria sering menjaga bentuk tubuh idealnya yang ramping, tetapi karena waktu itu terlanjur berat badannya naik, dan juga pelatihan dari Kakek Sulvan sangat berbeda dengan yang biasa Victoria ikuti, sehingga formulanya menjadi beda.
Bahunya lebar, ototnya terbentuk mulai dari lengan hingga paha. Sehingga lumayan berbeda dengan Victoria dulu. Kakek Sulvan menertawakan dirinya yang mengeluh saat melihat foto dirinya yang dulu. Memang dirinya bukan orang yang menginginkan otot.
"Hahahah! Kenapa kamu bersedih seperti itu? Lihat, kamu seperti lidi di sini, Nak!" ucapnya kala itu sembari tertawa. Victoria yang protes menjadi bahan ejekan Kakek Sulvan, mengingat betapa Victoria yang mempunyai kecintaan berlebih terhadap diri sendiri kini mengeluh.
"Aku sudah menerima diriku apa adanya, Kek. Jadi tidak perlu mengejekku lagi. Mau aku kurus kering, berotot seperti olahragawan, atau bahkan gemoy. aku sudah terlahir cantik seperti ini. Bagaimana bisa aku tidak mengagumi kesempurnaan in-"
"Aih, diamlah! Narsismu bikin merinding." Kakek Sulvan segera menyodorkan sesendok omelette ke dalam mulut Victoria. Victoria memasang wajah masam, meneguk apa yang dikunyah dan melanjutkan perkataannya.
"Aku menjalani semua pelatihan dari Kakek dengan sempurna. Aku sudah menguasai banyak senjata dengan cepat, sekelas mantan anggota militer saja mengakuinya. Kakek tidak akan bertemu dengan. orang sepertiku lagi di Porto Marina ini."
"Ya, ya, ya. Tentu saja aku tidak akan menemui orang sepertimu lagi di sini, kota mati ini hahahah!" Victoria dan Kakek Sulvan tertawa.
Melatih Victoria membuat Kakek Sulvan menyuruh wanita itu untuk membasmi zombie-zombie di sekitar, membuat mereka meyakini bahwa tidak ada yang hidup selain mereka berdua di Porto Marina. Pelatihan itu dijalani Victoria dengan cemerlang. Kakek Sulvan tidak akan menutupinya. Dalam hati, Kakek Sulvan menganggap Victoria sebagai murid didiknya yang terbaik.
"Jadi kamu benar-benar pergi besok?" tanya Kakek Sulvan sambil memakan omelette-nya yang tinggal setengah.
Victoria mengangguk yakin. Ia memandang jari kelingkingnya yang masih terikat benang merah. Pasangannya bertahan hidup dengan baik, Victoria bersyukur dengan itu.
Dari awal benang itu muncul, warnanya tetap merah tua, membuat Victoria sedikit kecewa karena tampaknya pasangannya itu tidak ingin mencarinya. Namun, Victoria menepis pikiran buruk itu. Bertahan hidup di dunia seperti ini pasti sudah sulit sekali.
"Iya, saya tidak bisa membuat pasangan saya menunggu lebih lama lagi," ucap Victoria dengan cengiran lebar.
๐๐๐
Hentakan kursi terdengar brutal kala makhluk itu mendengar suara langkah kaki yang menggema di ruangan itu. Orang itu semakin mendekat dan berhenti tepat dihadapan zombie yang sudah diikat dengan kuat di atas kursi dan tiang di belakangnya. Mulutnya juga diikat dengan kain agar tidak menggigit.
Kulitnya sudah mulai membusuk mengeluarkan bau tak sedap. Tubuhnya sudah rongkang sana-sini akibat gigitan yang merubahnya. Bola matanya setengah memerah. Zombie itu menggeram dan menggigit kain yang ada di mulutnya. Jaket merah kurir itu sudah kusam.
Orang itu-Victoria, menatap sendu zombie di depannya. Victoria merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah dompet usang dan membukanya, menampilkan sebuah foto keluarga yang ceria.
"... Kamu terpeleset waktu itu, apa itu yang disebut pembalap andal, Jimin?" ucap Victoria dengan suara yang serak dan terkekeh kecil.
Tidak ada jawaban dari yang diajak bicara, hanya geraman dan keagresifan yang diberikan. Victoria mencabut foto itu dan menyimpannya. Ia meletakkan dompet itu di bawah kaki Jimin yang sudah menjadi zombie.
"Aku akan keluar. Foto ini aku bawa, kalau saja aku bertemu dengan anakmu yang remaja itu. Kamu bilang dia kuliah di luar kota, kan? Yah, aku tidak tahu kota mana yang kamu maksud, tapi kuharap dia masih hidup di manapun ia berada. Kamu pasti berharap begitu juga kan, Jimin .....
๐๐๐
"Kakek jaga rumah, ya. Kalau ada apa-apa, lawan sendiri, ya. Aku tahu Kakek kuat."
"Aku pikir kamu akan bilang kalau ada apa-apa hubungi aku, begitu." Victoria tertawa. Wanita itu merentangkan tangannya dan memeluk Kakek Sulvan. Kakek Sulvan tersentak, tapi setelahnya membalas pelukan Victoria.
Wanita itu sudah menganggap Kakek Sulvan seperti kakeknya sendiri, begitu pun pria tua itu sudah menganggap Victoria sebagai cucu sendiri.
"Hati-hati di jalan. Porto Marina memang sudah lumayan aman karena beberapa wilayah sudah kamu habisi, tapi terowongan menuju Kota Terra, dan Kota Terra itu sendiri kita belum tahu." Kakek Sulvan menepuk pundak Victoria menyemangatinya.
"Aku yakin masih ada manusia yang bertahan di sana, tapi jangan lekas percaya pada siapapun." Victoria mengangguk mendengarkan nasihat Kakek Sulvan.
Setelah berpamitan, Victoria memulai perjalanannya, mengikuti benang merahnya. Ke mana pun akhir yang ia pijak, yang ia tahu saat ini adalah ke Kota Terra karena itu satu-satunya jalan.
Porto Marina dan Kota Terra hanya terpisah pegunungan, dan jalan yang menghubungkannya adalah terowongan yang jika menggunakan alat transportasi, satu jam pun sudah sampai kalau di bawa santai. Namun, Victoria memutuskan berjalan kaki saja sehingga memakan waktu sedikit lama.
Victoria mengepalkan tangannya ke atas. "Semangat Victor! Kalau sudah bertemu jodohku, aku akan langsung menikah!" ucapnya memotivasi diri sendiri.
Benang merah awalnya adalah kenangan buruk bagi Victoria, tapi ketika dirinya sendiri merasakan untuk pertama kalinya benang merah itu, ia ingin menjadikannya kenangan indah.
Benang merah yang tak menyakiti siapapun. Benang merah yang membawa bahagia sekalipun di dunia yang kacau ini. Benang merah yang menyatukan sepasang kekasih saling mencintai yang dulu pernah menyakitinya, tapi saat ini Victoria lah yang berada di posisi itu. Jadi, dirinya tak akan menyakiti siapapun, kan?
Tak butuh waktu lama bagi Victoria sudah berada di pintu masuk terowongan. Sejauh mata memandang, Victoria hanya mendapati kegelapan di ujung. Sedikit bantuan dari sinar matahari, Victoria mengetahui bahwa banyak sekali mobil di dalam sana. Terowongan yang tertutup, dari luar saja Victoria bisa mendengar samar-samar gemeretak gigi zombie.
Victoria menarik napas dalam-dalam, ia membenarkan ranselnya.
Kaki itu pun melangkah masuk.
Tak ada penerangan di dalam, jadi Victoria mengeluarkan senter dan mengarahkannya ke depan. Jantungnya sudah berdegup jika saja ia langsung bertemu dengan zombie, untungnya tidak. Victoria berjalan dengan langkah yang ringan, tak ingin mengeluarkan bunyi yang signifikan. Untungnya ia terbantu dengan suara air yang menetes menggema di terowongan itu.
Semakin masuk ke dalam, Victoria mencium bau yang sangat tak sedap, menandakan ada saja keberadaan zombie di dalam sini. Bau bensin yang bocor pun merasuk ke hidungnya, memaksa Victoria untuk menutup hidungnya dengan kain. Sisi jalan yang mengarah ke kota Terra dipenuhi akan mobil, Victoria hanya berjalan di sisi kebalikannya. Namun, ia mendapati rongsokan mobil yang mengarah pada Kota Terra, membuat Victoria berpikir bahwa mereka menerobos jalan.
Ia melihat satu mobil yang mengarah dengan benar, bertabrakan dengan mobil berwarna hitam. Tabrakan itu tampak dahsyat, terbukti dari penyoknya bagian depan kedua mobil itu. Jika seperti itu, siapapun pengemudinya tak akan selamat.
"Astaga...." Victoria meneguk ludahnya gugup mendapati hal yang mengerikan. Rongsokan mobil tertumpuk dengan pernak-pernik yang berceceran di mana-mana. Ia menatap nanar hal itu.
"Pasti terjadi kecelakaan besar saat itu," ucapnya membuat dadanya nyeri. Ia teringat akan temannya -Zayn. Apa mungkin Zayn mengalami kecelakaan ini? Namun, saat ia mengintip ke kaca mobil, tak ada seorangpun.
Victoria tertegun, tapi ia segera menyudahi rasa gelisah itu dan melanjutkan perjalanan. Akibat jalan yang tertutup, Victoria mau tak mau harus naik ke atas pembatas jalan dan berjalan di sana sementara. Namun, ia melihat beberapa zombie di depan yang lebih buruk daripada zombie yang ada di Porto Marina.
Entah karena lingkungan yang lembab, tubuh zombie itu dimakan oleh belatung dan ulat yang menggeliat dalam luka-luka yang terbuka. Mata mereka sudah lepas dan menggantung. Kulitnya terkelupas dan nyaris tinggal tulang. Bau busuk itu lebih busuk daripada zombie yang ditemui Victoria di Porto Marina, mendominasi terowongan itu.
Bahkan dengan kain yang sudah menutupi hidung, Victoria tetap mual, kepalanya pusing.
"Humph-" Victoria menutup mulutnya dan betisnya lunglai membuatnya berjongkok dengan salah satu tangan menekan perutnya yang hendak mengeluarkan isinya.
"GRAWG!" Tiba-tiba saja salah satu zombie meraung, membuat Victoria terkejut dan terduduk. Tangan kanannya senantiasa menutup hidungnya, tangan kirinya yang memegang senter tergeletak.
Melihat bahwa zombie itu tidak bergerak ke arahnya membuat Victoria lega, sampai tiba-tiba tangannya merasakan sesuatu yang merayap di atas tangan kirinya.
Dengan kikuk Victoria menengok hanya untuk mendapati serangga berwarna cokelat menaiki tangannya. Tidak hanya satu, tapi tiga.
Ah, tidak.
"ΑΚΗΗΗΗ!"
Victoria mengayunkan tangannya agar serangga itu terlempar, tapi bukannya menjauh, serangga itu-kecoa mulai terbang. Jika saja Victoria tak mendengar derap langkah kaki yang menggema dan raungan mengerikan, dipastikan Victoria sudah pingsan.
Victoria segera mengambil pistol yang bersaku di celananya dan mulai membidik tepat di kepala mereka dan menembaknya beberapa kali karena Victoria yang gemetaran dikelilingi kecoa, bahkan kecoa yang terbang itu mendarat ke wajahnya
Victoria berteriak sekencang mungkin dan mengundang zombie-zombie yang lain. "YA AMPUN, APA-APAAN SEMUA INI!!!" Victoria sudah tak memperdulikan suaranya lagi, sudah terlanjur seperti ini lebih baik ia keluarkan saja.
Baru awal saja, dia sudah kena sial.
Victoria bangkit dan turun dari pembatas jalan sesaat ia sudah mendapatkan pijakan yang tidak terhalang. Victoria berlari sambil menembak para makhluk itu yang mengepungnya di depan. Suara tembakan itu memantul memekakkan telinga. Ide yang buruk untuk bertarung di dalam terowongan, terlebih para zombie itu terus menggeram menambah keributan.
Victoria menerobos, hampir saja salah satu tangan busuk itu meraih Victoria. Wanita itu berlari secepat mungkin, melewati para zombie yang mulai mengikutinya di belakang, membuat zombie-zombie itu menumpuk mengejarnya.
Lumayan lama berlari membuat kakinya terasa pegal, tapi tak bisa berhenti. Berhenti sama saja dengan mati. Victoria tak menyadari kalau salah satu makhluk menerjangnya dari samping berhasil menggigit lengannya dan membuatnya jatuh.
Bukan perjalanan yang direncanakan namanya jika tidak ada persiapan. Victoria sudah menggunakan pakaian yang tebal, menggunakan banyak lapisan sampai gigitan itu saja tidak terasa.
Dengan cepat Victoria menyodorkan pistol ke kepala zombie itu.
DOR!
Darah mewarnai wajahnya. Victoria segera bangkit dan melanjutkan berlari. "Ini... kapan sampainya, sih...?" Victoria merasa jantungnya hendak meledak. Ia berharap bahwa dirinya bisa melihat cahaya di ujung terowongan itu. Setidaknya itu bisa menenangkan dirinya.
Ia melirik ke belakang, zombie-zombie itu tak kenal lelah mengejarnya, berkebalikan dengan Victoria yang lelah menghindarinya. Victoria terus berharap dalam hati bahwa di ujung terowongan muncul cahaya dari luar.
Seolah diwujudkan saat itu juga, Victoria melihat setitik cahaya yang semakin ia dekati semakin besar. Benar, itu jalan akhirnya.
"HAHAHAH! MATI KALIAN SEMUA JELEK!" Victoria mengambil senapan beruntun yang bertengger di belakangnya dan mulai menembak para zombie di depan dengan membabi buta. Ia lelah sekali berlari hingga saat ini wanita itu membalaskan dendamnya.
Mati!
๐๐๐
Victoria menjatuhkan dirinya di lantai yang kotor. Saat ini tujuannya hanya memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuh yang sedari tadi sudah berjuang.
Victoria membuang banyak waktu hanya untuk menghabisi semua zombie yang mengikutinya di belakang, membuat hari pun memasuki waktu siang. Akibat ulahnya tersebut, dijamin terowongan itu lumayan aman untuk dilewati dengan damai sentosa, paling-paling hanya melihat tumpukan mayat yang berserakan.
Sekarang ia beristirahat di sebuah bangunan besar yang sepertinya adalah sebuah pabrik. Pabrik itu tampak kosong dari zombie sehingga Victoria memutuskan beristirahat sebentar di sana.
"Nanti saja lah makannya," gumam Victoria, menyandarkan dirinya di dinding dan dengan perlahan mata itu pun tertutup.
Victoria sudah sampai di Kota Terra, tanpa menyadari bahwa ada sekelompok orang yang mengawasinya.
๐๐๐
Seorang wanita dengan penuh luka lebam dan berdarah-darah keluar dari sebuah rumah seperti gubuk yang di dalam sana ada mayat zombie laki-laki yang tergeletak dengan kepala yang sudah tak utuh. Ia dengan tergesa-gesa membawa seorang anak kecil laki-laki yang tampak suram.
Ia masuk ke dalam sebuah supermarket dan mencari tempat yang aman untuk anaknya. Sebelum itu ia dengan cepat mengambil asal makanan ringan yang tersusun di rak. Mereka masuk ke dalam ruang toilet.
Wanita itu menyodorkan segala makanan ringan yang tadi ia ambil. Ia mengelus kepala anak itu dan mencoba tersenyum lembut. Wanita itu memeluk anaknya, untuk terakhir kalinya.
ะกะขะะ!
Wanita itu mengerang kesakitan merasakan hal aneh di tubuhnya. Ia merobek pakaiannya dan mengikatnya menutupi mulut dan mengikat tangannya dengan sangat kencang.
Anak itu hanya diam seolah tidak ada kehidupan.
BERSAMBUNG.