Penulis: Dinda Roihatul Janah

07


Langit malam itu bersinar dengan bintang-bintang gemerlap. Api unggun menyala terang memercikkan abu dari kayu terbakar. Malam yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat dari hari yang panjang, pria itu tak bisa tidur. Seorang pria dengan rambut hitam panjang yang diikat asal tertegun menatap jarinya.

 

Lebih tepatnya pada jari kelingkingnya yang terikat sebuah benang berwarna merah tua yang disekitarnya melayang partikel cahaya yang sebelumnya cahaya itu menyelimuti benang itu saat kemunculannya, dan sekarang hanya tersisa partikel.

 

"Benang merahku...." Ia sudah berumur 25 tahun, hanya saja benang merahnya baru saja muncul saat ini mengarah ke entah berantah. Sebuah fenomena yang tak pernah terbayangkan olehnya saat pasangan benang merahnya bukan mengarah ke sosok yang ia bayangkan.

 

"Ger ...."

 

"Gerald-!"

 

"Sayang?" Pria itu tersadar dari lamunannya dan menengok ke belakang, melihat seorang wanita berambut hitam panjang lurus yang menatapnya kebingungan. Walaupun menggunakan jaket, tapi udara masih menusuk kulitnya sehingga wanita itu menggunakan selimut yang terpatri di bahunya.

 

"Aku datang, Sayang." Pria itu menghampiri sang wanita dan mengecup lembut dahinya. Ia merangkul wanita itu untuk berbagi kehangatan.

 

Pria itu tersenyum. Yah, dia tak peduli. Dunia yang sudah kacau ini, berkemungkinan kecil ia bisa bertemu dengan pasangan benang merahnya sekalipun masih hidup.

 

Ia sudah memiliki romansanya sendiri.

 

'Benang merah yang konyol ini tak bisa merusaknya."

 

Cepat atau lambat, wanita yang merupakan tulang rusuknya itu akan mati, bukan?

 

"Hei, Anak Muda!"

 

"Y-Ya...!?" Victoria menangis dalam hati kala ia ketakutan dengan sosok pria tua di depannya yang menatapnya seperti hendak melemparkannya ke lobang penuh zombie. Terlebih saat ia mendapati banyak sekali piagam penghargaan, seragam dan senjata yang ditempel di dinding membuatnya terintimidasi. Nama Sulvanyster terpampang besar di piagam-piagam itu, membuat Victoria mendapatkan satu fakta, bahwa pria tua ini adalah mantan militer. Semua yang terpajang itu adalah sepak terjangnya.

 

Saat ini Victoria berada di atas futon dan terselimuti dengan baik. Tampaknya Kakek Sulvan membawa Victoria yang pingsan dan membaringkannya di sini, tapi tetap saja Victoria masih tertekan.

 

"Kenapa kamu nekat ke sini, hah?" tanya Kakek Sulvan dengan tatapan penuh selidik. Victoria bingung harus jawab apa. Jawabannya simpel saja sebenarnya, tapi nyali Victoria untuk berbicara menciut sekecil biji jagung. Jadi Victoria hanya diam membuat pria tua itu kesal karena diabaikan.

 

"Cepat jawab!"

 

"S-SAYA-"

 

Kruck~

 

Bunyi perut yang meminta makan menggema di rumah kayu itu. Hening terjadi membuat Victoria malu. 'Kenapa harus berbunyi, sih!?' Victoria memang ingat ia belum makan sedari tadi, tapi kenapa harus berbunyi sekarang?

 

Kakek Sulvan menghela napas. Wajahnya tidak senang, terbukti dengan alis yang menukik. Ia berdiri dan meninggalkan Victoria sebelum kemudian kembali membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat mangkuk berisi sup sayur panas dan segelas air hangat.

 

Victoria menatap Kakek Sulvan dengan binar. Tak ia kira pria tua yang tampak kesepian itu baik terhadapnya yang kelaparan. "T-terima kasih ...."

 

"Siapa bilang itu untukmu, hah?"

 

Tidak jadi. Tidak jadi Victoria beranggapan baik!

 

Victoria menunduk sedih, mengusap perutnya yang keroncongan. Siapa saja akan mengira bahwa Victoria ditelantarkan.

 

"Bercanda. Makanlah cepat."

 

"... Apa?"

 

"Kamu tidak bisa diajak bercanda, ya!?"

 

'Memang yang begitu bisa dianggap bercanda, ya!?' Victoria menjerit dalam hati. Tampang sangar seperti itu apakah bisa Victoria beranggapan kalau pria ini sedang bercanda? Tidak, kan.

 

Tak ingin memusingkan kepala, Victoria pun memakan hidangan yang ada. Rasa hangat seketika menyelimuti dirinya. Di musim dingin seperti ini memang cocok yang hangat-hangat.

 

Kakek Sulvan memperhatikan Victoria seksama, tanpa wanita itu sadari tersenyum kecil. Semenjak dunia menjadi hancur seperti ini, ini adalah pertama kalinya ia berinteraksi dengan seseorang. Kedatangan Victoria membuatnya senang, karena sejujurnya dia beranggapan ialah satu-satunya manusia yang masih hidup di kota ini.

 

Kruck

 

Victoria yang ingin menyuap menghentikan tindakannya, menatap canggung Kakek Sulvan yang memalingkan wajah tak acuh, sampai ia bertatapan dengan Victoria, matanya melotot garang. "Apa liat-liat!? Makan sana!"

 

"... Kakek tidak makan?" Alih-alih menggubris perkataan sang kakek, Victoria bertanya.

 

"Hah... itu adalah makanan terakhir di sini. Tidak perlu merasa tak enakan, makan saja."

 

'Bagaimana aku bisa merasa tak enak!?' Victoria lagi-lagi membatin. Tuan rumah yang kelaparan memberikan makanan terakhirnya pada tamu tak diundang. Victoria sudah seperti seorang perundung lansia saja. 

 

Kakek Sulvan melirik, wajah Victoria tampak terlihat bahwa ia tidak enak terhadap dirinya, membuatnya menghela napas kasar. Ia ingin memperbaiki suasana. "Makan saja, lah! Aku memang berencana untuk mati, makanya tidak ada makanan lagi!"

 

"..."

 

"..."

 

Apa itu yang dinamakan memperbaiki suasana?

 

"Bercanda!" Kakek Sulvan berdehem kala menyadari perkataannya malah memperkeruh, walau memang benar adanya.

 

Merasa berbicara tak ada gunanya, Kakek Sulvan pun diam saja.

 

Victoria memandang sup sayur yang sudah setengah, uap mengepul dengan indah membuat siapa saja kelaparan melihatnya. Wanita itu memutar otaknya. "Rumah saya banyak makanan, listrik juga menyala."

 

"Listrik menyala?" Kakek Sulvan seketika menatap Victoria heran. Sudah tiga bulan berlalu dan semua listrik di kota ini sudah padam. Victoria mengangguk.

 

"Saya punya panel surya, jadi kalau tidak mendung saja listrik tetap aman. Maka dari itu, ikutlah ke rumah saya, Kakek!" Victoria menatap Kakek Sulvan penuh keyakinan. Victoria mengajak Kakek Sulvan untuk tinggal dengan alasan mereka adalah manusia yang tertinggal di kota ini, lebih baik mereka bersama. Dan melihat senjata dan sepak terjang Kakek Sulvan di rumah itu, Victoria ingin diajari setidaknya beladiri untuk pertahanan hidupnya nanti saat keluar. Kakek Sulvan memandang Victoria aneh.

 

"Apa-apaan kamu ini. Kamu baru pertama kali bertemu denganku, bagaimana bisa kamu langsung mempercayainya? Anak muda zaman sekarang tidak kenal waspada, ya." Kakek Sulvan memijit pelipisnya yang pusing.

 

"Kamu kasihan padaku karena tidak ada makanan dan mati tua kesepian? Aku tidak perlu rasa kasihanmu!" ucap Kakek Sulvan tak ingin disanggah. "Lagipula, aku tidak mengenalmu! Aku sudah tinggal di sini sejak lama," lanjut Kakek Sulvan yang memang tak pernah melihat sosok Victoria saat dunia masih normal.

 

"Saya baru pindah beberapa hari yang lalu. Jarak rumah kita tidak terlalu jauh, Kek. Lalu ...." Victoria mencoba memikirkan bagaimana ia menjelaskan situasinya agar Kakek Sulvan percaya. "Ah, apa Kakek tahu rumah tua yang sudah lama ditinggalkan itu? Pemiliknya memberatkan orang-orang yang mau membeli rumah itu dengan syarat tetap menyimpan seluruh barangnya dan tidak boleh dirombak total. Saya membeli-"

 

"Rumah William maksudnya!?"

 

Ucapan Victoria langsung dipotong oleh Kakek Sulvan yang terasa familiar dengan deskripsi Victoria. Victoria terkejut dan mencoba mengingat apakah nama pemiliknya adalah William. Benar, pemilik rumah yang meninggal itu bernama William. Victoria mengangguk membuat Kakek Sulvan tertegun sejenak.

 

"Baiklah. Ayo kita ke rumahmu," ucap Kakek Sulvan tiba-tiba. Walaupun kebingungan, Victoria tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Toh, nanti dia juga tahu sendiri.

 

🍁🍁🍁

 

Sesampainya di rumah, Kakek Sulvan memandang rumah yang sudah dirombak oleh Victoria. Sekalipun sudah diperbaiki dan diganti ke bahan yang lebih baik, tapi rumah itu masih sama diingatan Kakek Sulvan.

 

Rumah kayu William, temannya.

 

"Kamu menyimpan di mana barang-barang William?" tanya Kakek Sulvan sesaat mereka masuk ke dalam rumah, Victoria tanpa berkata langsung menunjukkannya, membuka pintu ruangan yang memang dijadikannya sebagai tempat penyimpanan barang dari pemilik rumah sebelumnya.

 

"Memangnya, Tuan William siapanya Kakek?" tanya Victoria penasaran hubungan Kakek Sulvan dengan pemilik rumah sebelumnya, William.

 

"Teman akrab saat di pangkalan militer. Dia pensiun duluan karena kedua tangannya diamputasi."

 

"Lalu ... Kakek sedang mencari apa?"

 

"Senjata." Victoria tersedak air liurnya sendiri. Senjata? Selama Victoria membereskan barang-barang itu, tidak pernah ia mendapatkan senjata apapun, tapi kebenaran bahwa William pernah menjadi anggota militer memang Victoria sudah mengetahuinya, terlihat dari figura foto William bersama teman-temannya dengan seragam militer.

 

"Tidak ada senjata, Kek. Saya yang membereskan semuanya." Victoria berjalan mendekati Kakek Sulvan yang sibuk mengacak-acak barang. Pria tua itu tidak mempedulikan Victoria, membuat sang wanita agak jengkel.

 

"Kakek, dengarkan sa-AAAA!" Victoria tersandung sebuah tongkat membuatnya jatuh menghantam lantai, tangannya ke depan dan menekan sesuatu. Bersamaan dengan itu sebuah bunyi sesuatu yang bergeser terdengar. Victoria tak jadi meratapi nasibnya dan kebingungan tentang asal suara itu.

 

Kakek Sulvan pun juga penasaran dan duluan mencari jalan, sampai akhirnya ia mendapati sebuah lantai yang terbuka tepat di bawah meja.

 

Victoria menutup mulutnya tak percaya. Tak pernah ia kira bahwa di rumah yang ia beli ini mempunyai sebuah rahasia. Ia menatap sebuah tombol yang berkamuflase di lantai, sehingga jika tak teliti tidak ada orang yang menyadarinya.

 

Kakek Sulvan tanpa berbicara masuk ke ruangan rahasia itu. Victoria mengikuti di belakang.

 

"Wow... apa-apaan semua ini ...?" guman Victoria berdecak kagum sesaat setelah menuruni tiap-tiap anak tangga dan mendapati sebuah ruangan dengan lampu yang remang-remang sudah dihidupkan oleh Kakek Sulvan. Ruangan itu mempunyai etalase kaca yang banyak yang di dalamnya terdapat ratusan senjata api, senjata tajam, bahkan ada busur dan peledak juga. Semua itu lengkap dengan pelurunya. Victoria yang tak mengerti dengan segala macam tetek bengek soal persenjataan saja dibuat ngeri melihat betapa banyaknya senjata di ruangan itu.

 

Victoria jadi berpikir, rumahnya sudah seperti tempat bertahan hidup yang paling layak di sebuah cerita zombie. Makanan dan air tak perlu khawatir, listrik pun aman, sekarang ada ruangan penuh senjata seperti ini. Bahkan jika dipikir-pikir lagi, kebun yang ia bangun beserta benih dan peralatannya juga berguna untuk stok makanan di kemudian hari..

 

Victoria memijit pangkal hidungnya. "Ini sih sudah seperti kejatuhan durian runtuh."

 

"Hah... dasar maniak senjata, menakutkan." Kakek Sulvan pun tak habis pikir dengan penemuan mereka. Ia kira William hanya suka mengoleksi senjata semenjak tangannya diamputasi, tak ia sangka William sudah gila menyimpan banyak senjata dengan ilegal. Tujuannya ke sini hanya untuk menjarah senjata yang dimiliki William. setidaknya ia bisa bertahan hidup jika ada senjata.

 

Maka dari itu, Kakek Sulvan tanpa tahu malu meraih beberapa senjata yang sekiranya perlu. Victoria terkejut akan aksi itu. "T-tunggu! Apa yang sedang Kakek lakukan!?"

 

"Kamu buta atau tidak," ucap Kakek Sulvan malas untuk menanggapi Victoria.

 

"Ini rumah saya. Kakek tidak bisa mengambilnya. begitu saja. Artinya ini milik saya!" Victoria segera berdiri dihadapan Kakek Sulvan sembari merentangkan tangannya. Kakek Sulvan terkekeh sinis.

 

"Memangnya kamu mengerti tentang senjata? Buat apa menyimpan ini, hah!?"

 

Victoria tertohok mendengar pernyataan itu. Memang benar ia awam tentang semua itu, tapi mengingat tujuannya yang ingin keluar dan membutuhkan alat untuk pertahanan diri, artinya dia memerlukan semua ini.

 

"Saya paham!" ucap Victoria terdengar yakin. Manik hijau pria tua itu menelisik dari atas ke bawah, tidak percaya dengan pernyataan Victoria. Namun, wajah serius itu sedikit menyentil ketidakpercayaannya, sebelum Victoria menyengir menampilkan giginya yang rapi. "Saya paham, kalau Kakek mengajari saya."

 

"Halah, anak ini-!"

 

"Kalau Kakek mengajari saya, Kakek tidak perlu khawatir dengan listrik dan makanan. Bahkan jika Kakek ingin menghabiskan waktu, Kakek bisa membajak tanah mengolah perkebunan, saya punya segala bahannya. Percaya pada saya, di rumah ini lebih baik dari tempat manapun!" Victoria menepuk dadanya, matanya tersorot penuh keyakinan, bahwa jika Kakek Sulvan memilih untuk mengajarinya, tidak ada kerugian yang akan didapatkan.

 

Kakek Sulvan tertegun sejenak memikirkan tawaran Victoria. Sehingga Victoria tersenyum kecil dan tidak melewatkan kesempatan itu.

 

🍁🍁🍁

 

Sudah hampir sebulan berlalu, Salju yang menumpuk mulai mencair. Walaupun suhu udara masih menyengat kulit, tapi tidak terlalu menganggu.

 

Bip bip!

 

Bunyi alarm disetel sekeras mungkin. Untuk Porto Marina yang sunyi, bunyi tersebut sudah sukses berkumandang di kota itu. Setelah beberapa menit menunggu, beberapa sosok mengerikan berjalan dengan kaku.

 

Seorang wanita dengan rambut cokelat pendek bergelombang sudah siap dengan sebuah senapan. Makhluk-makhluk itu meraung dan mendekatinya. Namun, belum sempat mereka menerjang wanita itu.

 

DOR! DOR! DOR!

 

Wanita itu menembak tepat di kepala mereka, membuat mereka jatuh dengan kepala yang pecah.

 

"Ya, ya ya! Kamu sudah lulus, Victor."

 

Victoria tersenyum sumringah mendengar deklarasi dari Kakek Sulvan.

 

Artinya, perjalanannya baru dimulai.

 

BERSAMBUNG.