Penulis: Dinda Roihatul Janah

06 : Terikat


Cabikan yang membabi buta. Teriakan parau. Memberontak tanpa hasil. Tak bisa melakukan apapun.

 

Diam.

 

Diam.

 

Diam.

 

Victoria berteriak memenuhi ruangan kecil itu. Keluar dari bak mandi dengan tungkai yang lemas sehingga dirinya merosot jatuh.

 

Tangannya mencakar-cakar lantai, mengesot untuk segera meraih kenop pintu kamar mandi yang entah kenapa terasa sangat jauh. Namun, cairan merah yang kental keluar dari bak mandi membasahi seluruh lantai, terus naik dan naik.

 

"-Kamu lah penyebabnya ...."

 

"M-maaf, maafkan aku! Maaf!!!" Wanita itu meracau dan meringkuk, menutupi wajahnya dengan tangan yang basah oleh darah. Seluruh tubuhnya gemetar.

 

Victoria berteriak tanpa henti tatkala dua sosok dengan perawakan yang amat dia kenali muncul dari bak mandi, bermandikan oleh darah. Kepala mereka bengkok, kulit mereka busuk. Kini genangan merah itu sudah menenggelamkan seluruh badan Victoria, menyisakan kepalanya dan terus naik hingga mulutnya dibasahi dan dirasakan ganyir.

 

Tangannya yang menutup wajahnya ditarik paksa oleh tangan-tangan hitam yang muncul dari genangan itu, memaksa Victoria untuk melihat semua penderitaan yang menggerogotinya.

 

Menghakiminya.

 

Tatapan itu menghakiminya!

 

"Victor, kamu tidak menyelamatkanku!"

 

"Victor, kamu membunuhku!"

 

"VICTOR, SEMUA ADALAH SALAHMU!"

 

3

 

***

 

Apa itu?

 

"Humph-!!!" Victoria meronta-ronta tanpa pijakan. Kadar hidupnya kian berkurang, napasnya tak karuan. Air mata membanjiri pipinya. Dengan pandangan yang buram, Victoria melihat samar-samar cahaya yang tak terlalu terang memanjang seperti tali. Suara desiran yang halus terdengar dari cahaya itu.

 

Layaknya mukjizat yang datang pada dunianya yang suram, Victoria seketika menepis keinginannya yang ingin mati.

 

Tangannya yang gemetar meraih atas tali ingin mengurangi beban, tapi badannya yang kini lebih berisi membuatnya susah. Kakinya menendang-nendang udara yang kosong, berharap bahwa ada pijakan yang bisa membantu, tapi tidak ada.

 

Tubuhnya sudah lemas. Tali yang menekan tenggorokannya berhasil menarik jiwanya setengah terlepas, terlebih udara dingin yang menusuk kulitnya membuatnya tersiksa. 

 

Titik-titik hitam mulai berkunang di pandangan matanya. Dadanya naik turun dalam gelombang panik ketika pandangannya yang buram secara perlahan melihat cahaya yang awalnya dapat menerangi ruangan menjadi redup meninggalkannya.

 

Tidak! Ia tidak mau seperti ini!

 

Dalam detik-detik terakhir, jari-jarinya meraih tali yang melilit lehernya. Victoria mengayunkan tubuhnya membuatnya semakin terombang-ambing. Ia semakin kuat mencengkram tali, mencakar kulitnya sendiri. Meronta dengan sisa kekuatan yang ia punya.

 

Sampai tiba-tiba-

 

Krak!

 

Tali itu terputus.

 

Victoria jatuh terjerembab, terbatuk-batuk. Tangannya gemetar meraba lehernya yang panas dan perih. Ia bernapas dengan rakus seolah oksigen sebentar lagi akan menghilang.

 

Ia masih hidup.

 

"K-kalau aku ingin mati lagi... aku t-tidak... ingin gantung diri lagi," racaunya dengan napas tersengal. Victoria merebahkan dirinya walau dadanya masih naik turun.

 

Ia mengusap air matanya yang tertimbun dan juga keringat di dahi. Victoria memandang langit kamarnya yang gelap, tak ada pencahayaan selain dari cahaya bulan yang masuk dari jendela, tapi hanya dengan itu Victoria masih bisa melihat sesuatu yang membuatnya tidak jadi merenggang nyawa.

 

Sebuah harapan yang masuk secara lembut ke dalam hati Victoria.

 

Benang berwarna merah tua yang mengarah ke selatan. Terikat manis di jari kelingkingnya. Benang itu masih sedikit mengeluarkan cahaya yang menjadi partikel yang mengudara.

 

Menumbuhkan sinar di manik cokelatnya. Walaupun terkejut, rasa kagum lebih memenuhi perasaannya. Ini pertama kalinya ia melihat benang merah yang memang hanya bisa dilihat oleh sepasang kekasih. Jika benang merah itu terlihat, artinya Victoria baru saja berulang tahun yang ke-24.

 

Seketika jantungnya berdebar kencang, merasa bersemangat. Ia tidak mengira kalau dirinya akan menyambut benang merahnya dengan lubuk hati yang berbunga.

 

Dengan benang merah itu Victoria mengetahui bahwa ia tak sendirian. Masih ada yang hidup, masih ada harapan, dan itu adalah pasangannya.

 

Takdirnya.

 

Tulang rusuknya.

 

Detik itu juga, Victoria bertekad untuk menemukan pasangannya. Bagaimanapun caranya.

 

Victoria berdiri di depan cermin kamar mandi. Rupanya lumayan berbeda. Tiga bulan ia habiskan untuk meratapi nasib sehingga wanita itu tidak merawat diri. Akibat stres yang berlebih pun ia terus makan tanpa tau batasan yang membuat badannya lebih berisi bahunya melebar, pipinya menggempal, perutnya membuncit dan kakinya membesar.

 

"Wow..." gumam Victoria melihat perubahan pada dirinya dan berkata, "Siapa ini? Victoria? Hmm, cantik seperti biasa, atau sekarang bisa dibilang imut?" Victoria mulai bergaya sok seperti model dan mengedipkan matanya centil.

 

Untungnya Victoria punya kecintaan lebih ke dirinya sendiri, bahkan untuk versi lain dari dirinya. Jika saja Victoria berubah jadi monyet pun, ia tetap mengagumi diri sendiri.

 

Setelah selesai berlagak seperti model, ia pun membersihkan diri.

 

Singkatnya, Victoria keluar dari kamar mandi kamarnya. Ia ingin makan. Jadi Victoria keluar untuk pergi ke dapur hanya untuk mendapati banyak sampah makanan ringan dan minuman kaleng berserakan dari ujung ke ujung rumahnya. Victoria tertegun.

 

Tiga bulan berlalu, dan rumahnya menjadi tempat sampah oleh perbuatannya sendiri.

 

"... Apa yang kamu lakukan, Victor? Kamu berubah menjadi anjing yang suka mengobrak-abrik sampah."

 

"Astaga! Akhirnya selesai juga!" Victoria meregangkan badannya setelah mengikat plastik sampah terakhir. Perubahan yang signifikan terhadap fisiknya membuat Victoria belum terbiasa, rasanya jika bergerak sesimpel menjentikkan jari ia sudah kelelahan. Sekalipun dirinya hobi makan, Victoria selalu menjaga badannya tetap ideal. Ini adalah hal baru baginya.

 

"Aku tidak suka pakaian yang ketat ini." Victoria menatap nanar pakaiannya yang menyatu dengan kulit, tidak ada ruang yang longgar. Ia menyesal tidak pernah membeli pakaian longgar, semua pakaiannya selalu sesuai dengan badannya, tidak kecil tidak pula besar.

 

Namun, mau bagaimana lagi? Ia tidak pernah berpikir akan membesar seperti ini. Victoria mulai mengangkat plastik sampah yang terisi penuh ke luar untuk membuangnya, tapi ia terhuyung ke belakang ketika badannya tiba-tiba lemas belum makan, membuatnya menabrak rak yang tersusun action figure dan beberapa alat elektronik miliknya.

 

Akibat tabrakan yang lumayan kencang, susunan paling atas terjatuh tepat di atas kepalanya, membuatnya mengaduh kesakitan dan berjongkok mengusap kepalanya. Benda itu pun tergeletak di lantai.

 

TAK!

 

"Owch! Benjol sudah ini benjol."

 

Victoria rasanya ingin menangis karena kepalanya terasa sakit sekali. "Apa yang jatuh, sih?" Salah satu tangannya yang tidak mengusap kepala mengambil benda yang terjatuh tadi.

 

"Drone? Aku tidak ingat pernah beli," gumamnya sambil memperhatikan drone itu, tiba-tiba ia teringat dengan Zayn. "Ah, iya! Zayn pernah memberikannya untukku."

 

Mengingat akan Zayn membuat hatinya meremas. dirinya tak menelepon saat itu. Andai dirinya melarang. Andai dirinya tak meminta. Ini semua salahku. Salahku. Salahku. Salahku. Salahku. Salahku. Semuanya salahku. SALAHKU. SALAHKU. SALAHKU. SALAHKU! SALAHKU! AKU PENYEBABNYA!

 

"Kamu tidak menyelamatkanku!"

 

"Kamu membunuhku!"

 

"VICTOR, SEMUA INI SALAH-"

 

TUK!

 

Victoria yang hanyut dengan perasaan gelapnya tersentak kala mendengar suara yang keluar dari remot drone-nya. Alat itu memang bisa merekam suara juga.

 

Victoria mengusap matanya yang berair, terbelalak tak percaya ketika ia melihat sosok pria tua dengan uban di seluruh helainya tetapi berbadan kekar tengah memandang kamera drone-nya kebingungan. Pria tua itu menyenggol benda melayang tersebut tampak curiga.

 

"Masih ada yang hidup ...."

 

Setelah tiga bulan merasa tidak ada yang hidup selain dirinya, kini dengan kedua bola matanya ia melihat sosok yang sama sepertinya.

 

🍁🍁🍁

 

-Halo, Kakek! Nama saya Victoria. Ini drone milik saya. Apa kita bisa bertemu? Tolong anggukan kepala anda jika setuju!

 

Itu adalah tulisan di kertas yang Victoria tempel ke drone-nya. Pria itu membacanya dan terdiam sesaat, sebelum kemudian merobek kertas itu dan tidak mempedulikan Victoria, melanjutkan kegiatannya membajak halaman rumahnya yang tertimbun salju.

 

"Apa-apaan orang tua ini." Victoria jengkel sendiri saat ia ditolak mentah-mentah apalagi kertasnya disobek seperti itu. Tidak ada pilihan lain, ia yang harus ke sana.

 

Mengapa Victoria ingin bertemu? Jawabannya simpel, karena wanita itu bertahan hidup sendirian selama tiga bulan, jadi ketika ia akhirnya melihat manusia yang belum terjangkit seperti dirinya, Victoria kira mereka bisa saling membantu.

 

Victoria pun menjalankan drone-nya untuk kembali. Setelah sampai, Victoria meletakkannya ke dalam rumah dan mulai bersiap-siap.

 

Rumah pria tua itu hanya beda gang dengan Victoria, masih terhitung dekat. Victoria mengambil pisau dapur untuk pertahanan diri. Ia mengenakan pakaian yang tebal karena hari yang dingin.

 

Ia memilih untuk keluar lewat belakang karena memang lebih dekat. Sebelum Victoria membuka gerbang kecil itu, ia mengambil napas dalam-dalam untuk meyakini dirinya.

 

Untuk pertama kalinya, Victoria melangkahkan diri ke luar dari rumahnya.

 

"Kamu pasti bisa, Victor. Kalau ada zombie mendekat kita tinggal smackdown saja," ucapnya pelan mencoba menghibur diri. Tentu saja ia tidak berani melakukan itu kepada zombie, yang ada dirinya yang di smackdown.

 

Victoria berjalan dengan sangat pelan,menyamarkan suara langkah kaki yang menginjak tumpukan salju. Pergerakannya agak terhalang karena tumpukan salju lebih dalam yang ia kira.

 

Suara remasan salju itu sedikit menarik perhatian para zombie yang ia lewati, tapi mereka masih tidak acuh sebab mereka pun juga bergerak sehingga suara langkah kaki Victoria yang sudah ia buat sepelan mungkin tersamarkan.

 

Peluh keringat sukses mengalir walau di hari yang dingin. Adrenalinnya memacu cepat membuatnya tegang sendiri.

 

Sudah setengah jalan berlalu membuat Victoria memohon dalam hati agar perjalanannya ini lancar, setidaknya ia tidak terjatuh karena tersandung sesuatu.

 

BRAK!

 

"Owch!"

 

Seolah mengabulkan apa yang tidak diharapkan, Victoria tersandung batu lumayan besar yang tidak bisa dilihat sebab tumpukan salju menutupinya.

 

Suara jatuh Victoria dan pekikannya membuat para zombie meraung, secara agresif menghampiri lokasi Victoria membuat wanita itu tidak ada pilihan lain selain berlari.

 

"Sial! Kenapa mereka jadi lebih mengerikan dari sebelumnya!?"

 

Entah itu akibat pembusukan karena alamiahnya mereka adalah mayat hidup, perawakan makhluk itu menjadi lebih menyeramkan. Mata mereka merah dan hendak keluar, kulit yang membusuk rongkang di seluruh badan, darah yang sudah mengering dan gelap. Karena musim dingin kulit mereka membiru dan beku. Bau busuk menyeruak membuat Victoria kepusingan.

 

Ia kesusahan dalam bergerak karena tumpukan salju yang dalam dan berat badannya membuatnya cepat kehabisan napas. Sedikit lagi ia sampai.

 

Melewati dua rumah lagi dan ia akan sampai.

 

Tiba-tiba lengannya ditarik membuat Victoria jatuh ke belakang dan saat ia melihat pelakunya, rahang itu sudah terbuka lebar dengan air liur menetes mengenai pipi Victoria. Victoria berteriak kencang.

 

" AAAAA!! "

 

JLEB!

 

Victoria langsung menusuk kepala itu dengan pisau membuat darah berhambur keluar mengenai wajahnya. Zombie itu tumbang seketika terbaring di sebelah Victoria.

 

"GRAWGGG!" Tak ada waktu untuk tertegun saat makhluk-makhluk itu masih mengejarnya dan menggeram. Victoria bangkit dan terseok-seok berlari ke sebuah rumah dengan gerbang kayu. Victoria memukul dengan panik.

 

"KAKEK! TOLONG, KEK!" Victoria berteriak dan air matanya mengalir. Ia ketakutan setengah mati saat zombie-zombie itu semakin dekat dengannya dengan tangan yang mengulur ke depan hendak meraihnya.

 

"KAKEK, TOLONG!" Victoria tantrum seperti orang gila.

 

Sebelum sempat Victoria diterjang, gerbang terbuka dan sang kakek segera menembak zombie-zombie itu dengan sebuah pistol. Ia menarik Victoria membuat wanita itu terhempas masuk.

 

Detik itu juga, ingatan terakhir Victoria hanyalah suara tembakan beruntun dan dinginnya salju mengenai badannya.

 

BERSAMBUNG.