Penulis: Dinda Roihatul Janah

CHAPTER 05 : Pupus


Sudah tiga hari berlalu dengan sia-sia, memakan harapan mereka yang berharap bahwa akan ada bantuan yang datang. Sesuai dengan kesepakatan-bertahan tiga hari dan selanjutnya terserah-Jimin sudah menetapkan diri untuk pergi.

 

Benang merahnya mengarah ke barat, di mana itu adalah ujung Kota Porto Marina, rumahnya berada di sekitar sana, membuat Jimin menduga sang istri menetap di rumah. Di situasi ini, Efi pasti kesulitan menjaga Leo yang masih anak-anak.

 

"Jimin," panggil Victoria sembari membawa tas ransel yang sudah diisi dengan makanan dan peralatan yang sekiranya diperlukan, dan sebuah tongkat baseball. Victoria meletakkan tas itu di lantai dan menatap Jimin yang lebih tinggi sedikit darinya, membuatnya mudah untuk bertatapan.

 

"Ini senjata tambahan. Mau bawa ini?" tanya Victoria sembari memegang tongkat baseball yang ia dapat dari ruangan barang-barang bekas pemilik sebelumnya.

 

"Sepertinya akan susah kalau bawa itu." Victoria mengangguk mengerti. Keheningan terjadi diantara keduanya, sebelum kemudian Victoria bersuara.

 

"... Kamu yakin?"

 

"Saya sudah yakin." Jimin mengangguk pasti membuat Victoria menghela napas.

 

"Sejujurnya aku tidak mau kamu pergi. Porto Marina sudah ditetapkan sebagai wilayah yang tidak terselamatkan, itu pasti lebih berbahaya." Victoria sudah menganggap Jimin sebagai teman, tentu ia khawatir.

 

Jimin mengerti akan kekhawatiran Victoria. Namun, cepat atau lambat ia pasti harus keluar. Terlebih dia tak bisa menunggu lebih lama lagi, sekalipun benang merah masih terikat, tapi Jimin tidak mengetahui keadaan istrinya, apa baik-baik saja atau tidak.

 

"Efi sudah menunggu saya terlalu lama, saya tak bisa membuatnya menunggu lebih lama lagi."

 

Victoria mengulum bibirnya, ragu. Namun, ia dengan cepat memperbaiki perasaannya, tidak ingin Jimin terbebani-yang menjadi lebih besar semenjak kejadian Zayn-dengan kekhawatirannya itu.

 

"Baiklah. Kalau begitu, apa persiapan kamu sudah selesai?"

 

"Sudah."

 

Victoria mengangguk sebelum kemudian meninggalkan Jimin sebentar yang sudah berdiri di depan pintu keluar. Wanita itu kembali dengan tesser, benda pertahanan diri yang dapat menyetrum.

 

"Aku tidak tahu ini berguna atau tidak, tapi aku yakin pisau tidak bisa bertahan lama. Pokoknya, kamu ingat semua rencana yang kita susun, kan?" tanya Victoria penuh selidik, ia tak mau Jimin pergi tanpa persiapan yang matang. Masih teringat jelas baginya saat makhluk-makhluk itu bergerombol dengan kuat hanya untuk mengincar satu manusia.

 

Mereka sudah membuat rencana. Zombie sensitif terhadap suara, jadi Victoria akan melemparkan sebuah speaker kecil yang sudah tersambung dengan ponselnya. Lalu, setelah makhluk-makhluk itu lebih tertarik dengan suara yang muncul, Jimin akan pergi dengan motor miliknya yang sempat terparkir di depan.

 

Awalnya Victoria tidak setuju Jimin menggunakan alat transportasi, karena mudah menarik perhatian akibat suaranya. Tapi Jimin beranggapan kalau akan lebih efisien waktu dan tenaga daripada berjalan kaki.

 

"Tenang saja, Victor. Saya ini pembalap andal," ucapnya kala itu. Jimin sudah tak memanggil Victoria dengan sebutan 'Nona' karena permintaan Victoria sendiri.

 

"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya? Datanglah dengan selamat agar istrimu tidak khawatir." Victoria tersenyum kecil dan menepuk pelan pundak tegap laki-laki itu.

 

Ia membuka pintu dan rencana pun dimulai.

 

Sudah tidak ada mobil persis yang menahan gerbang, Victoria dan Jimin sudah memperbaikinya dengan penuh tantangan karena sedikit saja bunyi terdengar makhluk-makhluk itu akan bereaksi. Untuk antisipasi, setelah Jimin keluar Victoria akan langsung menutup gerbangnya dengan mobil yang akan ia dorong.

 

"Ingat, jika kamu tidak berhasil, langsung masuk ke halaman rumah tetangga yang di kiri. Aku sudah mengeceknya, di sana kosong," kata Victoria menatap Jimin dengan serius.

 

Di tangannya sudah ada sebuah speaker kecil berwarna merah muda yang sudah tersambung dengan ponselnya. Victoria naik ke tangga portable, matanya melirik ke sekitar. Makhluk-makhluk itu menyebar di semua area. Rute jalan yang sudah mereka rencanakan adalah jalan di kiri, sehingga Victoria melemparkan benda itu ke arah kanan dan jatuh di atas semak-semak.

 

IF THE WORLD WAS ENDING

 

I'D WANNA BE NEXT TO YOU~

 

Speaker itu sudah diatur ke yang paling keras. Rencana mereka berhasil, makhluk-makhluk itu bergegas mendekati benda itu, mereka berkerumunan merayap-rayap meraih benda kecil itu.

 

Merasa keadaan telah aman, Victoria menatap Jimin dan mengangguk, kode bahwa laki-laki itu bisa keluar sekarang.

 

Jimin mengepalkan tangannya erat, mengumpulkan tekad untuk melangkah keluar yang selama ini ia pendam. Tujuannya hanya satu, mengamankan istri dan anaknya.

 

"Tunggu aku Efi, Leo."

 

Jimin membuka gerbang rumah Victoria dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi yang berlebih. Setelah keluar, Victoria menahan gerbangnya dengan mobil.

 

Ia berjalan dengan mengendap-endap. Sekalipun langkahnya sepelan mungkin, jantungnya berdegup berisik. Tangannya gemetar ketika memperbaiki motornya yang terbaring. Keadaan motornya baik-baik saja, hanya lecet karena terjatuh

 

Matanya menangkap dua zombie dari arah kiri berjalan dengan terseok-seok semakin mendekat. Tubuh Jimin menegang, dengan kekuatan penuh ia menahan motornya yang sudah setengah ia angkat, tak berani bergerak. Napasnya ia tahan ketika suara gemeretak gigi terdengar di kedua telinganya yang sukses mengalahkan suara lagu yang diatur keras. Makhluk itu sudah sedekat tiga langkah.

 

'Tahan Jimin. Jangan bersuara!' Jimin menggigit bibirnya, ia takut hanya karena napas atau bau badannya zombie itu akan tertarik. Tubuh Jimin seketika meremang kala salah satu zombie menghentikan langkahnya yang tertarik dengan suara speaker, tetapi ia tampak mempunyai ketertarikan lain.

 

Jimin dapat melihat jelas perawakan busuk dari makhluk itu, matanya tak ada pupil dengan sekitar bola matanya yang memerah. Urat-urat timbul di sekujur tubuhnya, kulitnya yang pucat kuning terhias dengan darah mengering, menganga mengeluarkan liur, sesekali menggertak gigi.

 

Kepalanya kejang-kejang ke depan, tepat di bahu Jimin. Laki-laki itu seketika menutup matanya ketika makhluk itu hendak menggerayanginya.

 

'Kumohon, jangan tertarik denganku!'

 

TAK!

 

"GRAWGHHH!" Erangan seketika terdengar menjauh. Jimin membuka matanya sekaligus menghembuskan napasnya kasar. Wajahnya mengucur keringat. Ia menoleh mendapati Victoria yang menyuruhnya untuk bergerak cepat, Victoria membantunya mengalihkan perhatian zombie tadi dengan melemparkan batu.

 

Benar, ia harus bergerak cepat. Motor itu sudah berdiri sempurna, Jimin memasukkan kunci dengan tangan yang gemetar hebat. Kejadian tadi menciutkan nyalinya.

 

TANG!

 

"Astaga-!" Kunci kendaraan Jimin terjatuh, tepat di atas got jalanan yang ditutup dengan jeruji besi, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.

 

Beberapa zombie yang berkerumunan di sekitar speaker sedikit teralihkan. Victoria segera memutar otak, ia mengubah menjadi lagu DJ, yang semakin nyaring berkumandang di kota yang hening, menimbulkan beberapa zombie yang berada lebih jauh mengikuti suara itu.

 

Jimin tanpa ada pilihan lain bergegas mengambil kunci itu yang sedikit lagi akan masuk ke dalam got yang akan menjadi mimpi buruk jika terjadi. Untungnya tangannya masih bisa diajak kerja sama walau sudah bergetar hebat.

 

Jimin membuang napas dengan berat, sekali lagi memasukkan kuncinya. Ia memutar kuncinya menghidupkan motornya. Dengan cepat segera menaikinya, tangannya ia tahan untuk tidak gemetaran seolah lupa bagaimana cara berkendara. Seketika pikirannya berkecamuk. Bagaimana jika ia dikejar makhluk-makhluk itu? Ia akan mati jika sekali saja tertangkap.

 

Suara motor mulai mendistraksi zombie-zombie itu, mereka menoleh ke kanan kiri dengan lehernya yang patah membuat Victoria merasa ngilu. Victoria gugup setengah mati, ia mencoba untuk mengalihkan perhatian zombie-zombie itu agar fokus saja dengan speaker yang sudah terbentur sana-sini akibat para makhluk itu yang rebutan.

 

Jimin belum bergerak sama sekali. Dapat ia lihat tubuh Jimin yang bergetar. Victoria segera turun dari tangga dan membawa tangga itu ke sebelah kiri agar bisa berkomunikasi dengan Jimin.

 

"Cepat bergerak ...!" ucap Victoria mencoba sepelan mungkin. Jimin tersentak, tersadar dari lamunan. Napasnya tak seimbang, peluh keringat membasahi dirinya. Jimin tak bisa mengendalikan tangannya yang gemetar hebat.

 

Waktu terus berjalan menyisakan situasi yang semakin rumit, sebab di depan kembali muncul sekitar tiga zombie yang tertarik dengan suara speaker yang kini mulai terdengar rusak. Namun, insting mereka lebih tertarik mendengar suara mesin motor, membuat makhluk-makhluk itu secara agresif mendekati sumber suara. Perasaan gelisah menguasai Jimin secara dominan.

 

Tubuhnya benar-benar kaku.

 

Victoria dengan panik mencoba membantu Jimin dengan melemparkan batu beberapa kali tepat mengenai kepala zombie, membuatnya mengerang hebat dan kejang-kejang.

 

Bersamaan dengan itu, benda kecil yang mulai usang berhenti mengeluarkan suaranya, membuat perhatian kerumunan zombie itu secara penuh teralihkan dengan mesin motor.

 

Mereka menyenggol satu sama lain, berlomba.

 

Victoria sudah kehabisan batu. Kini, situasinya di luar kendali.

 

"Sial!" Victoria menarik napasnya dalam-dalam.

 

"KE SINI KALIAN JELEK!" teriaknya khidmat dan melontarkan semua kata-kata yang terpikirkan di otaknya seraya berpindah tempat menjauh, agar Jimin bisa leluasa pergi. Tak lupa ia membawa tangga portabel untuk nanti bisa kembali memantau. Hal itu sukses membuat makhluk-makhluk itu mencari keberadaan suara Victoria dan menempel pada dinding pagarnya yang tinggi.

 

Jimin seketika mematikan motornya dan menahan napas kala zombie-zombie di depan mendekat, mereka melewati Jimin karena sudah tak mendengar apapun selain daripada suara menggelegar wanita itu. Lagi-lagi gerbangnya di dorong sedemikian rupa, membuat suara lebih berisik dari besi yang dipukul-pukul.

 

Victoria kira mereka tak dapat melewati pagar rumahnya yang tinggi, tapi entah kenapa sebuah tangan kini terlihat disusul tangan-tangan yang lain. Kondisi itu membuat Victoria tidak ada pilihan lain selain berlari menuju gudang kecil yang menyimpan segala peralatan dan perlengkapan berkebun. Diambilnya sekop.

 

Victoria menaiki tangga portabel itu dan terkejut mendapati bagaimana makhluk-makhluk itu bertumpuk satu sama lain sehingga yang paling atas bisa menjangkau pagarnya.

 

Victoria dengan cepat memukul dan menebas, sampai-sampai salah satu tangan zombie itu putus memuncratkan darah mengenai wajahnya. Victoria mual, tapi tetap ia lakukan.

 

Sebuah kepala muncul di depannya dan mulutnya sudah terbuka hendak menggigit Victoria. Sekalipun terkejut, refleksnya lebih cepat sehingga wanita itu dengan keras memukulnya membuatnya jatuh. Sontak membuat tumpukan zombie di bawah berjatuhan juga.

 

"CEPATLAH PERGI! KENAPA DIAM SAJA!?" teriak Victoria marah melihat Jimin yang terduduk kaku di atas motor sembari melihat Victoria yang berjuang mati-matian agar Jimin tak menjadi target mereka.

 

Jimin tersentak. "M-maaf!" ucapnya gemetar. Ia menyalakan motornya kembali, membuat atensi beberapa zombie teralihkan. Namun, Victoria kembali berteriak.

 

"Lihat ke sini saja jelek!" Victoria terus berteriak. Sekalipun tangannya sudah pegal, tapi terus ia paksa.

 

Jimin mengumpulkan keberaniannya. Motornya kini melaju dengan agak oleng akibat dari tangan yang lemas. Jimin mencoba untuk fokus sampai sebuah berat di belakang membuatnya hendak terjungkal, tapi ia segera rem mendadak.

 

Jimin menoleh, mendapati satu zombie yang secara agresif menjangkaunya.

 

"JIMIN, FOKUSLAH!" Victoria sekali lagi berteriak. Ia refleks membantu Jimin dengan melemparkan sekop tepat mengenai beberapa zombie yang mulai bergerak ke arah Jimin, melumpuhkannya.

 

Dirinya yang tidak ada senjata berniat untuk mengambil tongkat baseball yang sempat ia tawarkan. Jeda itu memberikan satu zombie lolos masuk ke halaman rumahnya. Dengan cepat mengejar Victoria. Jantungnya berpacu begitu kuat, mengeratkan genggaman pada tongkat baseball hingga pada saat jarak mereka sudah tipis, Victoria memukul telak kepala zombie itu, menggugurkannya dan memukul kepalanya hingga hancur tak bergerak.

 

"Hah ... hahh ...." Napasnya tersengal. Pupil matanya bergetar tak kuat melihat apa yang sedang ia lakukan, badan yang sudah tak bergerak dengan kepala yang hancur. Ia mendengar suara geraman di mana beberapa zombie memunculkan dirinya di atas pagar rumahnya.

 

Takut. Resah. Namun, tidak ada pilihan lain jika tak ingin menjadi hidupnya berakhir.

 

"Ah, sudahlah! Aku tidak tahu lagi!" Victoria berlari dengan kencang. Sesaat zombie-zombie itu hendak jatuh ke halaman rumahnya, Victoria mengangkat tangga portabelnya, mendorong mereka untuk berjatuhan.

 

"RASAKAN INI, ZOMBIE JELEK!" Caranya berhasil mendorong para zombie itu. Ia segera naik kembali dan melakukan perlawanan seperti yang ia lakukan sebelumnya.

 

Sementara itu, Jimin segera mengambil tesser yang membuat zombie itu tersetrum dan melepaskan cengkeramannya pada belakang motor.

 

Jimin mencengkram gas motornya dengan penuh kekuatan. Namun, refleksnya yang kurang membuatnya terpeleset dan jatuh dari motornya.

 

Sebelum mencerna apa yang terjadi, sebuah cengkraman pada ranselnya yang menariknya ke belakang seketika membuat Jimin tersadar bahwa ia sudah berada di ambang kematian.

 

"JIMIIINNNNN!!!"

 

Suhu rendah telah membekukan rumah itu. Waktu telah menunjukkan pukul 23.55. Langit tengah malam itu menurunkan butiran-butiran putih yang sudah menumpuk menyelimuti kota yang telah mati.

 

Sepi dan sunyi, ia bahkan bisa mendengar suara napasnya dengan jelas memenuhi ruangan yang remang-remang. Tiap helaan menimbulkan kepulan samar yang mengudara. Bunyi kursi yang bergesek pada lantai, ia bawa tepat di bawah sebuah tali yang tergantung.

 

Kakinya yang berat menaiki kursi itu. Matanya redup tak ada binar, sempat melihat pantulan kaca yang menampilkan tubuhnya yang terselimuti baju yang biasanya cocok kini menjadi sesak, rambut cokelatnya kusut tak terawat. Cahaya yang remang tidak bisa menutupi kulitnya yang kusam, lingkaran hitam di matanya serta bibirnya yang pucat.

 

Tangannya meraih tali yang tergantung di langit-langit kamar, membukanya dan memasukkan kepalanya.

 

Pikirannya mengudara, mengingat bagaimana ia bertahan hidup selama tiga bulan dengan percuma, mengikis hasratnya untuk hidup. Kilas balik kejadian yang mengubah hidupnya menghantuinya sedemikian rupa hingga perasaannya melayu jatuh ke dalam gelapnya penyiksaan atas rasa bersalah dan ketakutan.

 

Ia sendirian.

 

Untuk apa terus hidup?

 

Mati sepertinya lebih baik daripada bertahan di dunia yang kacau ini sendirian.

 

Victoria tak bisa menanggungnya lagi.

 

"Aku lelah."

 

Victoria menutup matanya. Melemaskan diri, menjauhkan kursi yang menjadi pijakannya.

 

SRINGGG~

 

BERSAMBUNG.