Penulis: Dinda Roihatul Janah

CHAPTER 04 : JIMIN


Smpai pada pagi harinya, Zayn tidak pernah datang. Victoria menunggu semalaman tanpa tidur, tapi tidak membuahkan hasil. Victoria merasakan sesak di dadanya, rasanya ia ingin membenarkan semua pikiran buruknya yang mengira-ngira keadaan Zayn. 

 

Matanya yang kini terdapat lengkungan hitam yang samar memandang langit biru nan cerah, berbanding terbalik dengan suasana suram yang terjadi di Porto Marina. Sekalipun Victoria merupakan penduduk baru, ia sudah beberapa hari tinggal untuk mengurus rumahnya. Sebagai pusat pelabuhan, Porto Marina tidak pernah sepi sehingga saat ini rasanya aneh sekali -sunyi. 

 

Victoria melangkahkan kakinya menuju gerbang yang tertahan dengan mobilnya. Ia memanjat tangga portabel dengan pelan. Banyaknya tetap sama, hanya saja saat ini mereka berpencar-pencar. Tampaknya jika sudah tidak ada suara atau bau yang menarik perhatian mereka, zombie-zombie itu hanya akan berkeliaran tanpa arah. 

 

Victoria mengedarkan pandangannya, sejauh mata memandang ia hanya bisa melihat kekacauan demi kekacauan, mobil dan kendaraan lain berserakan di tengah jalan, rumah-rumah tampak kosong bahkan terlihat kacau seperti ada kaca yang pecah dan halaman yang berantakan. Noda merah yang mengering tak luput dari pandangannya. 

 

Itu adalah apa yang ia lihat dengan berkeliling membawa tangga portabel untuk melihat tiap sisi. Kanannya adalah rumah tetangga yang dipisah oleh jalan. Di kiri adalah rumah tetangga tetapi terlihat sudah kosong. Dan di belakang adalah jalan kecil yang diluar dugaan banyak zombie di sana seperti sisi depan. 

 

Selesai berkeliling, Victoria berjalan dengan tatapan lurus entah memandang apa. Lingkungan yang tiba-tiba berubah dan perasaan yang didominasi akan hal-hal yang memberatkan membuat Victoria merasa bernapas pun berat. Biasanya jika dia seperti ini, ia akan mencurahkan hati di media sosialnya.

 

Media sosial? 

 

"Astaga! Kenapa aku tidak terpikirkan ini dari awal?" Victoria menepuk jidatnya merasa bodoh. Ia adalah public figure, pengikutnya sudah miliaran lebih. Victoria segera mengeluarkan ponselnya dan membuka salah satu aplikasi dan segera membuat unggahan, tangannya ingin mengetik tapi ragu. 

 

Jika saja Victoria memikirkan ini sejak awal, ia mungkin saja sudah mendapatkan bantuan lebih awal, kan? Tapi juga pesimis bahwa tidak akan ada yang menanggapinya sekarang, sebab dari berita kemarin wabah zombie sudah tersebar ke mana-mana. 

 

Tapi jika tidak mencoba, maka ia tidak akan tahu hasilnya, kan? 

 

Victoria dengan cepat mengetik dan mengirimnya, ia melakukan hal itu di beberapa aplikasinya, sekaligus juga melakukan spam. Sudah selesai, tapi entah kenapa internet menjadi lambat, terbukti dari lamanya bar prosesnya berjalan. Victoria sedikit berharap dengan apa yang ia perbuat ini. 

 

"Nona Victoria! Lihat ini!" 

 

Jimin mendekat dengan tergesa-gesa memanggilnya. Ia menunjukkan layar ponselnya yang berisikan sebuah video berita bahwa saat ini para dokter tengah berkumpul di Rumah Sakit Besar Kota Reve untuk membuat vaksin, berjanji akan mengubah orang yang terinfeksi. 

 

Victoria seketika sumringah. "Kalau kita bertahan sampai vaksin itu jadi, kita bisa selamat tanpa harus taruhan nyawa!" Jimin menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Victoria dengan tersenyum sampai matanya menyipit, tapi Jimin tiba tiba tersadar sesuatu. 

 

"Tidak ada jaminan kalau vaksin itu akan segera jadi," ucap Jimin pesimis. Victoria pun juga kepikiran. Menunggu adalah hal paling tidak mengenakkan, terlebih jika belum tahu pastinya bagaimana. Namun, Victoria menggelengkan kepalanya dan memegang bahu Jimin untuk menguatkannya. 

 

"Tidak apa. Setidaknya tiga hari kedepan, sampai saat itu mari kita menunggu evakuasi. Walau kita sudah terbilang zona merah tapi tidak ada salahnya untuk berharap, aku juga sedang mengusahakan ini." Victoria menunjukkan satu posting yang untungnya sudah terkirim. 

 

Jimin berdecak kagum ketika melihat pengikut media sosial Victoria. Sebenarnya ia sudah tahu siapa itu Victoria, biasanya anak keduanya yang masih kecil sering menonton Victoria. 

 

Victoria me-refresh aplikasi itu, mengecek apakah ada yang meresponnya, karena biasanya Victoria kalau sudah sekali unggah langsung banjir notifikasi. Tapi bulatan memutar-mutar itu terasa lama sekali, membuat Victoria tidak yakin jika rencananya meminta bantuan akan berhasil. 

 

"Apa anda sudah kembali menghubungi pihak yang berwajib?" tanya Jimin mencoba mencari solusi lain. Victoria mengangguk singkat. 

 

"Tapi tidak ada yang mengangkat." Mereka berdua tertunduk sendu. Sepertinya semua sudah kacau sekali. 

 

"Apa kamu kepikiran untuk keluar?" 

 

"Iya, tapi saya... tidak berani." 

 

"Sama, aku juga." Mereka berdua menghela napas. Sungguh, ingin nekat keluar dan mencari bantuan tapi mereka sama-sama takut. Terlebih Victoria yang sempat menyaksikan langsung zombie itu memakan manusia. Jimin juga menyaksikan bagaimana agresifnya makhluk itu. 

 

Mereka saling memandang, penuh tersirat yang berakhir anggukan. "Kita tunggu saja, setidaknya tiga hari. Setelah itu terserah." 

 

"Baiklah, Nona." 

 

🍁🍁🍁

 

"Sepertinya ... internet saat ini sudah hilang." 

 

"Benarkah!?" Victoria terkejut akan pernyataan tiba-tiba dari Jimin. Laki-laki berkacamata itu segera menunjukkan layar ponselnya kepada Victoria, menyuruh untuk melihat batangan internet yang sekarang hilang semuanya dan bersimbol x. 

 

"Astaga, kalau begini ceritanya kita tidak akan tahu kabar," kata Victoria frustasi. Artinya rencana untuk meminta bantuan dari media sosial gagal total. Rasanya sudah tidak ada apapun yang bisa dilakukan, selain dengan berani pergi keluar. 

 

Sungguh, bagi Victoria itu adalah opsi paling terakhir dan tidak mau ia coba. 

 

Kepalanya terasa berdenyut, bibirnya pucat dan kering. Banyak yang ia pikirkan sampai rasanya kepalanya hendak meledak. 

 

"Nona Victoria, minumlah air dulu. Anda terlihat pucat." 

 

"Benarkah? Yah, aku pasti dehidrasi. Jiwaku sudah disedot ke langit." Victoria mengambil kaca kecil yang tergeletak di meja dan ia melihat wajahnya. Kantong mata samar-samar terlihat, kelopak matanya tertunduk layu, bibirnya pun pucat dan kering. Victoria mencoba tersenyum, tapi bukan senyum penuh ceria dan segar, tapi senyum kelelahan. Hari ini dirinya tidak ada kepikiran untuk merawat dirinya. 

 

"Aku seperti orang yang habis bertempur. Untungnya walau seperti ini, pesonaku tidak pernah luntur." Victoria mulai bergaya seperti mengedipkan matanya atau memonyongkan bibirnya. "Yah, sayang sekali dunia sudah seperti ini, mereka tidak bisa melihat kecantikanku lagi," ucap Victoria sembari mengibaskan rambutnya dengan tangan. 

 

"Apa yang anak ini bicarakan ..." gumam Jimin. Ia yang sedari tadi melihat kelakuan Victoria dibuat merinding dan tidak mengerti. Apa dia sudah kehilangan kewarasan? 

 

Mendengar hal itu Victoria melirik Jimin dan berdehem, mengembalikan kaca kecil itu di atas meja. Ah, kata-kata yang sudah sering ia dengar tiap kali dirinya kelebihan kepercayaan diri. Hal itu membuat intensitas frustrasinya sedikit menurun, menghiburnya. 

 

"Tapi benar kan? Aku ini cantik, sayang sekali dunia tidak bisa melihatnya." 

 

"Apa?" 

 

Victoria tertawa atas kebingungan Jimin. Ia berjalan menuju dapur, mengambil gelas dan mengisinya di dispenser, tapi belum juga terisi penuh, air itu berhenti keluar. Victoria berjongkok dan mengecek dalamnya. "Masih ada, kok. Tapi kenapa tidak keluar?" Victoria menekan dispensernya beberapa kali. Namun, nihil, tetap tak ada yang keluar. 

 

"Apa dispensernya rusak?" tanya Jimin menghampiri.

 

"Yang benar saja, aku baru beli." Victoria tidak ambil pusing, ia beralih ke kulkas untuk mengambil minuman dingin, tetapi lampu yang biasanya otomatis menyala tiap kali membuka, kini tidak ada nyala sama sekali. Victoria membuka tutup pintu kulkas beberapa kali. 

 

"Jimin, tolong pencet saklar lampu dekat dispenser itu," ucap Victoria merasa sudah menduga apa yang terjadi. Jimin menuruti perkataan Victoria dan memencet saklar lampu untuk menghidupkannya, tapi lampu dapur tidak menyala. 

 

"Listrik mati, ya?" 

 

"Iya. Sudah tadi internetnya yang mati, sekarang juga listrik." 

 

"Bagaimana ini? Kalau mau bertahan di rumah di kondisi seperti ini...." Laki-laki itu menaikkan kacamatanya yang terturun akibat khawatir. Victoria yang melihat itu tertawa kecil. 

 

"Tidak perlu khawatir kalau masalah listrik," ucap Victoria membuat Jimin kebingungan. "Ikuti aku." Victoria berjalan diikuti Jimin di belakang. Ia menyalakan daya panel surya, membuat lampu yang ada di dapur menjadi menyala.

 

"Aku memasang panel surya di rumah ini, soal listrik pasti aman kalau tidak mendung saja." Jimin menganga tidak percaya, sampai-sampai Victoria dengan sukarela mengangkat dagu Jimin untuk menutupinya, sebab Jimin terkejut sekali.

"Anda pasti orang kaya..." gumam Jimin masih terkagum. "Pemasangannya pasti tidak murah. Kenapa anda memasangnya?" 

 

Jimin menatap Victoria, sudah membayangkan jawaban-jawaban yang keren, seperti wanita itu ingin mendorong kemajuan energi terbarukan itu, ingin melazimi pemasangan panel surya atau apapun itu yang keren. Ini pertama kalinya ia melihat kinerja panel surya dan mendapati ada rumah yang menggunakannya, tidak pabrik saja. 

 

Victoria tersenyum menatap Jimin yang penasaran sampai matanya berbinar-binar. Victoria sudah punya jawaban sendiri jika ditanya seperti itu. 

 

"Hanya iseng saja, kok." 

 

Jimin seketika cemberut. Walau dipikir-pikir wajar saja, namanya juga orang kaya. Melihat perubahan ekspresi Jimin membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak. 

 

"Ahahaha! Jangan menampakkan ekspresi secara jelas begitu, dong!" gurau Victoria, tertawa sampai sedikit mengeluarkan tetesan mata. "Perutku sakit karena tertawa omong-omong soal perut, kita belum ada makan, kan?" 

 

Victoria kembali melangkahkan kakinya, kini ke sebuah ruangan. Jimin hanya mengikuti di belakang, sampai pada akhirnya sekali lagi Jimin dibuat kaget. 

 

Ruangan itu dibuka menampilkan banyak sekali rak yang diisi dengan makanan tanpa ada yang kurang, kulkas pendingin kaca untuk minuman terisi penuh, bahkan sampai kulkas pendingin yang biasa untuk menyimpan daging, yang tentunya juga terisi. Namun, di tengah-tengah ada meja kayu putih yang kosong dan beberapa alat pencahayaan. 

 

Melihat itu, Jimin berani jamin dengan persediaan makanan sebanyak itu cukup untuk 3 tahun seorang diri. 

 

"Aku baru sadar. Biasanya di film zombie, mereka harus menjarah untuk mendapat makanan. Tapi di rumahku sudah tersedia banyak. Padahal tempat ini untuk syuting." 

 

Syuting? 

 

Jimin bahkan mengira ia masuk ke dalam pintu ke mana saja dan berada di supermarket. "Kalau begitu, kenapa harus model yang seperti ini ...?" 

 

Victoria berpikir sejenak. "Yah, iseng juga, kok?" 

 

Jimin ingin sekali memukul anak orang kaya ini. "

 

🍁🍁🍁

 

Jadi, kamu sudah punya istri dan dua anak?" Victoria terkejut dengan fakta itu. Baginya Jimin terlihat masih muda karena tinggi badannya hanya beda sedikit darinya dan wajahnya pun juga mendukung. Ternyata, oh ternyata, lebih tua Jimin daripada Victoria. 

 

Saat ini mereka sedang makan dan agar tidak sepi, Victoria mulai bertanya-tanya tentang Jimin. Pada dasarnya mereka adalah orang asing. 

 

Jimin menganggukkan kepalanya. "Iya, istri saya namanya Efi. Anak pertama namanya Neo dan lagi di luar kota untuk kuliah. Lalu, anak bungsu kami, Leo masih berusia 8 tahun." Jimin menjelaskan dengan bibir yang tertarik ke atas, menatap foto keluarganya yang ia rindukan yang dikeluarkannya dari dompet. Sendu. 

 

Victoria mencuri pandang foto itu—perempuan berambut biru gelap di sebelah Jimin, Efi. Jimin menggendong anaknya yang masih kecil, Leo yang mirip seperti ayahnya. Dan di sebelahnya seorang anak remaja laki-laki, Neo yang mirip seperti ibunya. Dia tahu bahwa Jimin mengkhawatirkan keluarganya. 

 

"Kuharap mereka baik-baik saja." 

 

"Saya harap juga begitu. Saya sedikit tenang karena tahu Efi masih hidup. Saya percaya dia bisa menjaga dirinya sendiri, dia wanita yang kuat," ucap Jimin memuji istrinya. 

 

"Kenapa kamu bisa tahu kalau dia masih aman? Kamu meneleponnya?" 

 

"Saya menelepon, tapi Efi tidak pernah mengangkatnya. Saya tahu itu karena benang merah kami. Jika saja tidak ada ini, saya pasti sudah gila karena khawatir." Jimin tampak memandang tangannya yang pada pandangannya terdapat benang berwarna merah tua terikat di jari manisnya, menghubungkannya dengan istrinya, tapi Victoria tidak dapat melihatnya. 

 

Victoria menganggukkan kepalanya. Kurang lebih ia tahu apa maksud dari benang merah, karena itu sudah ada sejak dahulu kala. Sekalipun Victoria memiliki pemikiran tersendiri untuk benang merah karena pengalaman pribadi, untuk sebagian besar orang benang merah adalah cinta yang kuat. 

 

"Omong-omong, apa anda sudah punya benang merah? Mungkin bersama dengan teman anda itu, Tuan Zayn...? " 

 

Victoria terkejut mendengar itu. "Aku dan Zayn hanya teman dan aku belum melihat benang merahku. Tapi kalau diingat-ingat sebentar lagi aku akan melihatnya, sih...." Victoria teringat jika tiga bulan lagi ia akan menginjak usia 24 tahun. Benang merah umumnya akan muncul jika sang pasangan juga sudah berumur sama atau lebih. Kalau tidak muncul berarti pasangannya lebih muda. 

 

Victoria mengepal tangannya, hatinya nyeri. Jika benang merahnya benar-benar muncul, ia tak yakin akan menyambutnya dengan sukarela. 

 

"Jadi, apa kamu akan keluar nanti?" tanya Victoria mengubah topik. Jimin tanpa berpikir mengangguk pasti. 

 

"Saya tidak bisa membiarkan Efi sendirian untuk waktu yang lama, terlebih Leo masih kecil. Jadi ... setelah tiga hari saya akan keluar." 

 

Victoria paham. Jimin sudah bertekad dan Victoria tidak bisa menghentikannya sekalipun khawatir, walaupun mereka hanyalah orang asing. Victoria meletakkan makanannya dan menatap lekat Jimin. 

 

"Aku akan membantumu. Dan kalau kamu berhasil bertemu dengan istri dan anakmu, kembalilah. Di sini sedikit lebih layak untuk tempat bertahan bukan?" 

 

BERSAMBUNG.