"Jelaskan padaku situasinya, Victor."
"Ah, gerbang rumahku jebol dan kutahan dengan mobil. Pokoknya jangan lewat jalur depan karena mereka berkumpul. Aku tidak tahu dengan jalur belakang, tapi hati-hati saja karena kota ini sudah kacau."
Mengingat betapa banyaknya teriakan, sesekali ledakan, dan suara tembakan yang sepertinya dari para polisi. Sekalipun sekarang Victoria tengah terkurung di dalam rumahnya, hanya dengan suara-suara itu saja Victoria sudah bisa menduga betapa kacaunya Porto Marina saat ini.
"Aku mengerti. Jangan keluar dari rumah apapun yang terjadi, aku akan menjemputmu." Zayn menatap manik coklat itu intens, berharap wanita itu menunggunya dengan patuh. Walau hanya bisa melihat dari layar ponsel, Victoria dapat merasakan Zayn peduli dengannya dan ingin dia aman.
"Tentu saja. Orang gila mana yang keluar di saat keadaan seperti ini!"
"Kamu bisa saja tidak sabar menungguku, dan mencoba mencari bantuan di luar. Pokoknya jangan keluar, mengerti?" ucap Zayn terkesan dingin, manik merahnya itu terus menatap Victoria yang terpampang di layar ponselnya. Victoria agak tersinggung karena merasa dituduh seperti anak pembangkang.
"Kalau begitu, cepatlah datang!" kata Victoria agak kesal. Bahunya yang tegang kini rileks, seolah kejadian tadi adalah angin lewat dan ketika Zayn datang semuanya akan baik-baik saja. Victoria seketika tersenyum, mengundang senyum kecil dari Zayn.
"Satu jam. Aku janji akan datang."
"Aku tunggu."
Zayn menginjak pedal membuat mobil menaikkan kecepatannya. Sambungan telepon sudah ia matikan dan beralih mencari liputan berita yang menerangkan kejadian di Porto Marina. Zayn pernah menonton film bertemakan zombie dengan Victoria atas paksaan. Itu adalah cerita fiksi. Zayn merasa asing jika benar-benar harus berhadapan.
"Berita saat ini, telah terjadi kekacauan di Kota Porto Marina. Dari kesaksian warga setempat, hal ini bermula dari kapal evakuasi terakhir Kota Grand yang membawa orang-orang bergejala lalu menyerang warga setempat. Pihak polisi mencoba mengamankan situasi, tetapi sudah banyak korban dan tidak terkendali. Saat ini, pihak kedokteran menyatakan bahwa hal yang terjadi adalah sebuah wabah dari virus yang menular lewat luka dan air liur yang terjangkit. Tidak diketahui darimana asal usulnya tetapi virus ini memakan sel otak sehingga yang terjangkit akan kehilangan akal sehat dan menaikkan nafsu lapar, indra penciuman dan pendengaran. Virus ini tidak hanya menyerang manusia, tetapi hewan hidup lainnya. Ciri-ciri yang terjangkit adalah demam tinggi, kulit yang menguning, pupil mata yang menghilang sehingga tidak dapat melihat, kehilangan akal dan bersifat agresif."
Pegangan tangan pada setir mengerat, jantungnya berdegup kencang, Zayn meringis. Ciri-ciri itu terasa familiar-seperti tokoh fiksi yang sering disebut sebagai zombie. Ditambah penyiar berita itu mengonfirmasi bahwa sebutan bagi yang terjangkit adalah zombie juga, seolah tidak ada cocok yang bisa mendefinisikannya lagi.
Kecepatan mobilnya terus ia naikkan. Mudah bagi Zayn untuk mengemudi karena saat ini jalan menuju Porto Marina kosong setelah melewati beberapa alat transportasi lainnya. Namun, di sisi lain terjadi kemacetan dahsyat. Dapat diduga bahwa mereka mencoba melarikan diri, bahkan ada yang tidak sabaran dan pergi berjalan kaki meninggalkan mobilnya membuat jalan itu semakin terhenti.
Tidak butuh waktu lama untuk Zayn masuk ke dalam terowongan yang merupakan satu-satunya jalur ke Porto Marina. Sisi jalan lain tetap sama, macet.
Zayn mempertahankan kecepatan mobilnya. Ia sempat melirik jam digital bawaan dari mobilnya yang menunjukkan waktu setengah jam lebih. Dapat dipastikan Zayn datang sebelum waktu yang dijanjikan. Zayn menghela napas, bahunya yang tegang menjadi sedikit rileks. Selama perjalanan ia terus merasa khawatir terhadap Victoria. Jika situasinya seperti ini, maka ia bisa dengan cepat membawa Victoria pergi dan semua kecemasannya akan sirna.
"Sebentar lagi aku sampai, Victor," ucap Zayn mengirim pesan suara pada kolom chat-nya bersama Victoria. Pesan itu sudah terkirim tanpa hambatan.
Namun, suatu kondisi memang tidak bisa diduga.
Cahaya mobilnya menangkap rombongan mobil yang menyalahi aturan jalan. Mereka dengan kecepatan yang sama seperti Zayn dengan cepat mendekat, membuat pria itu refleks membanting setir beberapa kali untuk menghindari mobil yang berdatangan. Satu mobil berwarna merah menyetir oleng karena menghindari Zayn, menabrak mobil yang berdampingan dengannya, hal itu membuat mobil-mobil di belakang yang juga melaju kencang tidak menduga akan situasi itu.
Satu mobil di depan berhasil untuk tidak menabrak kecelakaan di depan. Namun, mobil itu berakhir tertabrak dengan kencang di belakang disusul dengan mobil lainnya.
Suara dentuman saling bersahutan, bunyi tabrakan menggema memenuhi terowongan, kemudian satu mobil memercikkan api besar membuat suara memekikkan telinga disusul yang lain dengan tidak sabaran.
BOM! BOM! ВОМ!
Zayn mendadak menghentikan mobilnya. Tubuhnya menegang, fokusnya buyar begitu saja. Terowongan itu menjadi terang kekuningan, asap mengepul menyesatkan pernapasan. Sisa-sisa mobil yang mengikuti di belakang menghentikan jalannya sudah tak bisa lewat. Orang-orang yang berada dalam mobil keluar untuk menyaksikan apa yang terjadi, mereka panik dan takut.
Lampu terowongan seketika mati di area itu. Tiba-tiba saja air mengguyur dari atas, diakibatkan suhu panas yang terdeteksi oleh sistem pemadam kebakaran, mencoba untuk memadamkan kobaran api dari mobil hangus yang tertumpuk.
Bising dari luar terdengar jelas masuk ke telinga, tapi pria itu hanya diam. Apa yang terjadi? Bagi Zayn semuanya begitu cepat karena pria itu hanya fokus mengemudi menghindari para pengemudi yang melanggar aturan jalan. Jadi, apa ini salahnya? Tidak, sedari awal mereka menerobos jalan menghindari kemacetan dan berakhir pada kecelakaan besar. Zayn berusaha berpikir rasional.
Tapi tetap saja, hati nuraninya mengalahkan pikirannya.
"Sial."
Pria itu memijat pelipisnya yang berdenyut. Zayn linglung. Pria itu kembali menjalankan mobilnya dengan perasaan campur aduk, ia punya tujuan, setidaknya tuntaskan itu dulu.
Ia sudah berjanji.
Namun, belum lama Zayn menjalankan mobilnya, sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan penuh ke depannya. Zayn mendadak menginjak rem, tapi sudah terlambat.
BRAK!
Bunyi hantaman keras memenuhi terowongan, asap mengepul di bagian depan yang sudah tak berbentuk. Zayn terpantul, berakhir dengan kepalanya terbentur kuat dan tubuhnya lunglai. Darah mengucur di kepalanya, pegangan pada setir melemah dan terjatuh. Matanya terus berkedip pelan, pandangannya buram sampai akhirnya tertutup sempurna.
Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Zayn yang terpajang, menampilkan sebuah pesan dari Victoria yang mengirim pesan suara, membalas pesan Zayn sebelumnya.
🍁🍁🍁
"Kamu memang selalu bisa diandalkan, Zayn! Akan kutraktir nanti!" Itu adalah isi dari pesan suara Victoria yang senang karena teman baiknya itu sebentar lagi akan sampai.
"Aku tidak akan mentraktirmu kalau waktu ini sudah menyentuh jam 8, sungguh!" Victoria melototi layar kunci ponselnya yang menampilkan jelas jam 07.58 malam. Dua menit lagi menyentuh angka berikutnya, jam 08.00.
Alisnya mengkerut, ia berjalan bolak balik dengan cemas tidak memperhatikan jalan sehingga jari kaki kelingkingnya terpantuk kaki meja membuat sebuah benda yang merupakan remot TV terjatuh tepat di atas kakinya.
"AKH!" Victoria mengaduh kesakitan dan segera berjongkok untuk mengusap kakinya. Nyeri dari jari dan atas kakinya tidak terkira melengkapi perasaan campur aduknya sendiri. Ah, ia ingin menangis. Belum sempat menitikkan air mata, ia segera dihampiri oleh Jimin yang baru saja mengambil air untuk minum, sehingga air matanya masuk kembali, malu karena tertangkap basah menangisi kaki. Sayangnya, Jimin sempat melihatnya.
"Anda tidak apa-apa?"
"Apa aku terlihat baik-baik saja!?"
Victoria dengan mandiri berdiri. Ia tahu bahwa saat ini dirinya sensi sendiri, tapi sungguh situasi saat ini membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Victoria sekali lagi mengamati layar kunci ponselnya dan sekarang angka di sana menunjukkan pukul 08.00 yang menandakan bahwa sudah tiga jam berlalu semenjak ia menelepon Zayn dan menunggunya datang.
Kini hari sudah gelap, teriakan dan suara-suara lainnya sudah tidak terdengar lagi, tetapi suara geraman terus terdengar seperti gonggongan serigala membuat malam itu terasa mencekam.
Victoria sangat berharap akan kedatangan Zayn dan membawanya pergi dari situasi tidak jelas ini. Namun, harapan itu perlahan sirna digantikan rasa khawatir yang sangat besar untuk teman baiknya itu.
Semua pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya. Apakah terjadi sesuatu terhadap Zayn? Apa Zayn terhalang sesuatu di perjalanan? Atau Zayn kini sudah bernasib sama seperti yang ia lihat di depan rumahnya itu? Namun, Victoria masih mencoba berpikir baik-baik sembari menunggu dan menunggu. Zayn bukanlah orang yang ingkar janji, dan ia tahu itu.
Victoria terus berjalan mondar-mandir dengan risau, tak sengaja kakinya menekan salah satu tombol remot TV yang menimpanya tadi menampilkan siaran berita.
"Situasi terkini, manusia yang terjangkit terus bertambah dan kini wabah tersebut sudah menyerang sebagian besar penduduk Kota Terra dan kota setempat lainnya. Karenanya, pemerintah Kota Reve memberikan instruksi untuk membawa bongkahan batu besar untuk menutupi jalan. Selanjutnya, pihak militer membagi tiga kategori untuk menyebut tempat-tempat yang sudah terinfeksi, yaitu zona merah sebagai tempat yang sudah banyak yang terinfeksi dan tidak terselamatkan, zona kuning sebagai tempat yang masih sebagian terinfeksi, dan zona hijau sebagai tempat yang belum terinfeksi dan aman. Data saat ini menunjukkan bahwa Kota Grand dan Kota Porto Marina telah menjadi zona merah. Sedangkan-"
"... Apa maksudnya ini?" Victoria menutup mulutnya tidak percaya. Kota tempatnya saat ini sudah masuk menjadi zona merah yang dikatakan tidak terselamatkan. Bukankah itu artinya tidak akan ada bantuan yang akan datang? Dan artinya Zayn pun punya kemungkinan tidak terselamatkan karena situasi yang parah di luar.
Jimin yang juga menyaksikan berita itu terpaku terdiam. Perasaan cemas tidak dapat terelakkan untuk istri dan anaknya. Jimin ingin pergi memastikan keselamatan mereka, tapi tidak ada jaminan jika dia keluar masih selamat.
"Aku bisa gila kalau seperti ini." Victoria duduk di sofa dengan marah. Ia mencari kontak Zayn dan meneleponnya untuk kesekian kalinya. Hasilnya tetap sama, berdering tetapi tidak diangkat membuat Victoria menggigit bibirnya sampai luka.
Jimin yang melihat itu hanya bisa diam. Ia tahu bahwa Victoria kini menunggu seseorang, tapi sampai sekarang belum datang. Wajar jika Victoria saat ini tidak sabaran, terlebih ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada temannya yang akan menjemputnya itu.
Jimin pun berada di situasi yang sama, ia juga tidak sabaran jika saja tidak ada benang merah. Walaupun warnanya menunjukkan jarak yang jauh-merah tua- tapi istrinya masih hidup di tengah situasi mengerikan ini bersama anak mereka yang masih kecil. Jimin meyakinkan diri bahwa keluarganya akan baik-baik saja.
"Ah, lupakan! Terserahmu mau datang malam ini, besok, atau besoknya lagi, sebulan, enam bulan, setahun, aku tidak akan berharap padamu lagi!"
Jimin tersentak mendengar teriakan Victoria yang memenuhi seisi rumah kepada ponselnya mengirim pesan suara. Jimin takut-takut kalau makhluk yang di luar mendengar karena katanya sensitif terhadap suara.
Victoria mengomel panjang lebar sampai napasnya habis karena isak tangis. Ia diam dengan badan yang naik turun. Keheningan itu bercampur dengan malam yang mengerikan, membuat kesan yang tidak nyaman. Namun, terasa biru.
"Kamu boleh tidak datang, tapi... jangan sampai ada sesuatu yang terjadi padamu, Zayn." Victoria menekan tombol kirim. Ia menatap nanar pesannya yang masuk tapi tidak terbaca.
BERSAMBUNG.