Penulis: Dinda Roihatul Janah

CHAPTER 02 : MAYAT HIDUP


Victoria turun dari tangga dengan tergesa-gesa. Perasaan takut mendominasi dirinya. Tangannya gemetar hingga tak sengaja terlepas dari pegangan tangga dan jatuh terduduk, memekik. Ponsel yang ia pegang terlempar cukup jauh ke belakang. 

 

"Akh!" Pekikan Victoria mengundang makhluk-makhluk yang ada di luar, erangan nyaring terdengar dan gerbangnya diserang memaksa masuk. Mereka bahkan membenturkan kepala mereka tak wajar. Victoria pucat pasi, kepalanya kosong tidak terpikirkan apapun, tapi satu hal yang pasti: Victoria bersyukur ia sudah mengunci gerbangnya. 

 

Jantungnya berdegup kencang, peluh keringat membasahi pelipisnya. Banyaknya suara teriakan yang muncul dari segala arah, disusul suara ledakan menimbulkan kepulan asap hitam yang bercampur pada langit merah kejinggaan seolah di luar sana menghadapi kekacauan yang sangat besar. Padahal Kota Porto Marina terkenal dengan kedamaiannya, tetapi hari ini berbeda. 

 

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Victoria memijit pelipisnya yang berdenyut. "Tawuran? Tapi mereka bahkan tidak bawa senjata, dan ...." Meneguk ludah, pemandangan yang ia lihat tadi bukan sesuatu yang wajar. Luka-luka yang tertangkap pada pandangannya bukanlah serangan tangan kosong semata. Orang-orang itu seolah sedang memakan manusia. 

 

"N-nona Victoria!" Suara seseorang yang memanggilnya agak nyaring, membuat atensi makhluk-makhluk di luar itu semakin tertarik. Victoria sempat berpikir jika orang-orang tidak wajar itu sensitif terhadap suara, sebab saat manik cokelat gelapnya bertemu dengan bola mata putih itu, orang itu seakan buta. Hanya saat Victoria memekik, keberadaannya pun diketahui. Namun, hal itu hanya pemikirannya semata. 

 

Orang itu mendekat untuk membantu Victoria. Wanita itu ingat bahwa ia sempat menarik tukang paket masuk ke rumahnya. "Anda baik-baik saja?" tanyanya dengan cemas, tampaknya ia terkejut karena Victoria terlihat ketakutan dan terjatuh.

 

Victoria hanya mengangguk sebagai jawaban. "Memangnya apa yang anda lihat di sana?" Laki-laki itu penasaran. Ia belum mengetahui apa yang terjadi karena terlanjur ditarik membuat kacamatanya terjatuh. Ia sibuk mencari kacamatanya yang untungnya tidak pecah. 

 

Victoria membisu, ingin menjawab tapi dirinya juga tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Merasa ada yang tidak beres, laki-laki berjaket merah kurir itu berjalan menuju depan gerbang, semakin mendekat ia merasa ada sesuatu yang menakutkan. Victoria terbelalak dan segera pergi menahan laki-laki yang ingin membuka gerbang rumahnya itu. 

 

Victoria tahu betul, jika mereka membuka gerbang itu, maka akan terjadi sesuatu yang mengerikan. "Jangan dibuka. Kalau kamu mau melihat apa yang terjadi, lihatlah di atas," ucap Victoria menunjuk tangga portabel yang masih menjulang kokoh. 

 

Laki-laki itu meneguk ludah, ia pun menuruti perkataan Victoria hanya untuk mendapati pemandangan mengerikan, di mana jalanan depan banyak tergenang oleh warna merah, motor yang ia pakai sudah terjatuh karena empat orang berkulit kuning pucat dengan banyak luka-luka segar berkumpul bersikap tidak wajar. Sisanya berjalan terseok-seok di sekitaran dengan air liur menetes dari mulut terhias darah.

 

Ia meneguk ludahnya gugup kala matanya mendapati orang-orang dikejar oleh makhluk aneh itu. Tertangkap. Dicabik. 

 

Walau belum mengerti sepenuhnya terjadi, satu hal yang dia pikirkan adalah keselamatan istri dan anaknya. Tangannya gemetar merogoh saku celana kanannya, mengambil sebuah kunci motor dan menggenggamnya erat. Ia harus keluar. 

 

"Ah, ponselku!" Victoria baru ingat dengan ponsel yang ia gunakan untuk siaran. Benda elektronik itu tergeletak di tanah, untungnya masih berfungsi, siaran langsungnya masih aktif dengan kolom komentar yang dipenuhi akan banyak tanya. 

 

Victoria sempat merekam, menunjukkan kejadian di depan rumahnya, membuat kolom komentar itu menanyakan apakah sedang ada prank atau kerusuhan. Namun, beberapa komentar lain menarik perhatian Victoria. 

 

"Bukankah mereka seperti orang-orang yang ada di Kota Grand?"

 

"Mereka terlihat seperti zombie. Menakutkan." 

 

"DENGARKAN AKU TEMAN-TEMAN, SEKARANG TENGAH TERJADI WABAH. PERCAYA TIDAK PERCAYA SEPERTI WABAH ZOMBIE YANG ADA DI FILM-FILM!" 

 

Komentar dengan huruf capslock tersebut terus muncul seperti spam membuat penonton lain menjadi tidak nyaman dan memaki sang pengirim. Namun, saat Victoria terus menggulirkan layar ponselnya dan semakin ia membaca, komentar lain dengan konteks yang sama menyebutkan bahwa ada wabah atau virus yang membuat seseorang menjadi agresif menyerang dengan menggigit mereka, kemudian menjangkit ke yang lain, kini tengah terjadi di Kota Porto Marina yang sebelumnya telah terjadi di Kota Grand. 

 

Wanita itu membungkam bibirnya yang pucat, jantungnya seakan ingin meledak karena kota tempat tinggalnya itu disebut-sebut. Dengan kenyataan yang ada, Victoria mau tidak mau khawatir dan percaya. 

 

Siaran langsung itu hening tanpa suara dari sang pemilik akun, hanya ditemani dengan suara geraman, teriakan dan suara ambulans membuat siaran langsung yang seharusnya menyenangkan sambil memperkenalkan rumah barunya, kini berubah menjadi suram. 

 

Kolom komentar terus bergulir dengan sendirinya. Wanita berusia 23 tahun itu linglung membuat salah satu komentar yang sempat terbaca oleh Victoria menyuruhnya untuk bersuara karena ia sedang ketakutan. 

 

"Tolong bersuaralah, Kak. Ibuku tiba-tiba bertingkah aneh dan ingin menyerangku, jadi sekarang aku mengunci diriku di kamar dan ibuku terus menggaruk pintu. Suara teriakan dari luar menakutkan, aku tidak ingin mendengarnya." Dengan ketikan yang salah-salah, setidaknya itulah yang dapat dipahami Victoria. 

 

Victoria membuka suaranya. "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, aku bukan orang yang melihat berita sehingga apa yang terjadi di Kota Grand pun aku tidak tahu. Rumahku di Kota Porto Marina dan apa yang terjadi itu nyata." Victoria mengusap wajahnya, setelah itu ia menatap kamera dengan intens. "Apapun itu, tolong tetap tenang dan jaga diri kalian, ya," ucapnya dengan senyum yang tulus. Victoria tahu betapa kacaunya saat ini. Salah satu penontonnya juga mengalami hal mengerikan, tidak menutup kemungkinan yang lain juga merasakannya sekarang jika tinggal di Porto Marina. Victoria penasaran kenapa kurir yang mengantarkan paketnya lama sekali, sehingga ia berbalik dan mendapati bahwa laki-laki itu sudah berada di depan gerbang, suara decitan membuka kunci geser terdengar jelas. Reaksi makhluk-makhluk yang sudah menunggu momen tersebut seketika langsung mendorong gerbangnya. Victoria berlari dengan panik. 

 

"Berhenti!" 

 

Sayang, itu terlambat. 

 

Makhluk itu, atau bisa disebut sebagai zombie mendobrak masuk mendorong laki-laki itu terjatuh. Zombie itu segera menerjang menargetkan leher laki-laki itu jika saja Victoria tidak melemparkan ponsel yang merekam siaran langsungnya itu tepat di wajah mengerikan itu sampai satu gigi terjatuh. Zombie itu terdorong sekaligus menimpa zombie lainnya di belakang, menghambat pergerakan mereka.

 

Laki-laki itu berteriak ketakutan dan merayap mundur, memberi Victoria kesempatan dengan cepat menutup gerbang rumahnya dan menguncinya semula. Suara ribut dari besi yang bersentuhan membuat para zombie lainnya mulai berdatangan. Gerbang itu didorong dengan paksa. Beban yang banyak membuat gerbang itu goyang. Victoria langsung memasang badannya, menahan gerbang rumahnya runtuh. 

 

Tubuhnya menahan dengan sekuat tenaga, tapi ia tidak bisa bertahan lama. Wanita itu dengan panik mencoba memutar otak, mengedarkan matanya hingga tertarik pada mobil putih yang ia punya terparkir di samping kiri. Ia mendapatkan ide. Victoria menatap laki-laki yang terduduk takut dengan tajam. "Kamu! Siapa namamu!?" 

 

Laki-laki itu tersentak dan menjawab dengan gagap, "J-Jimin!" 

 

"HAH!" 

 

Jika saja Victoria tidak memiliki refleks yang cukup saat ini, niscaya Victoria sudah terdorong ke depan karena terkejut dengan nama artis terkenal dari belahan dunia itu. Entah itu serius atau tidak, belum waktunya untuk memikirkan. 

 

"Jimin! Tahan gerbang ini! Cepat!" perintahnya. 

 

Laki-laki itu segera bangun dengan linglung. Ia memasang badan dengan penuh tenaga. Victoria yang sudah tergantikan segera berlari masuk ke rumahnya untuk mengambil kunci mobil yang tergantung di dekat pintu masuk. Victoria berlari dan masuk ke dalam mobil. 

 

Dengan jantung yang bergedup kencang ia menyalakan mobilnya dan segera menginjak gas dengan kecepatan penuh.

 

Jimin panik bukan main ketika mobil Victoria melaju ke arahnya. Victoria berteriak mengeluarkan kepalanya. "MENJAUH!"

 

Laki-laki itu segera berlari kencang sampai kakinya tegang. Victoria semakin melajukan mobilnya. Gerbang itu sudah rentan, satu dorongan lagi gerbangnya akan runtuh jika saja Victoria tidak menginjak rem secara mendadak tepat di depan gerbang rumahnya mepet hingga sisi kanannya lecet sempurna. Sebagai penyetir, Victoria tidak bisa menghindari rem paksa itu sehingga kepalanya terpukul di depan, membuat darah mengucur sedikit demi sedikit di pelipisnya. 

 

Namun, Victoria masih sadarkan diri. Ia segera mematikan mobilnya. Dapat ia lihat gerbangnya sudah rusak dan celah dari gerbangnya itu memunculkan satu tangan yang kini menjulur dengan sangat agresif, seolah semakin terpancing-darah. 

 

Victoria meneguk ludah, jantungnya masih belum bisa tenang. Tak bisa terpikirkan olehnya jika rencana mendadak ini tidak berhasil. Zombie itu akan masuk dan menjadikannya seperti korban sebelumnya. 

 

Victoria pergi ke luar dari pintu penumpang. Saat ia menginjak permukaan, lututnya tidak bisa dikendalikan hingga Victoria terduduk. Jimin yang merupakan penyebab kejadian mematikan itu mendekat khawatir. Wajahnya tegang dan murung, lantas menyesali perbuatan spontannya itu. "Maaf... Maafkan saya." 

 

Victoria ingin marah, ingin meluapkan kekesalannya, tetapi ia sudah tidak cukup tenaga. Ketika merasa kakinya sudah bisa berjalan, Victoria pergi untuk masuk ke dalam rumahnya. "Ikuti aku," ucap Victoria tanpa menoleh. 

 

Jimin dengan patuh menuruti perintah Victoria. Mereka meninggalkan kumpulan zombie yang ada di depan gerbang dengan diam-diam berharap makhluk mengerikan itu segera pergi. 

 

🍁🍁🍁

 

Zombie? Mayat hidup pemakan manusia yang ada di dalam cerita bertema bertahan hidup, menjadi kenyataan? Wanita bermanik cokelat itu tidak ingin mengakui hal tersebut, tapi kejadian yang baru saja ia alami menamparnya dengan keras. Terlebih saat ia mencari-cari informasi di dunia maya, banyak sekali yang ia temukan, Kota Grand yang disebut-sebut awal mula dan Kota Porto Marina yang lagi kacau menjadi trending nomor satu dan dua. 

 

Victoria menggerakkan kakinya bolak-balik sambil menggigit kuku jarinya, rasa cemas terus menghantuinya. Satu tangannya yang lain tengah menempelkan benda persegi ke telinganya. Victoria mencoba menghubungi orang-orang. Victoria bingung dari mana semua ini bermula, tapi itu bukan hal penting yang harus ia pikirkan sekarang. 

 

Suara operator terdengar, menandakan kesekian kalinya teleponnya tidak diangkat. Nomor kontak yang Victoria punya terbilang sedikit, yang kini hanya empat nomor yang fokus ia hubungi, pamannya, Zayn, dan dua teman perempuannya. Memang ponselnya ini khusus untuk orang terdekat, kontak-kontak lain ada di ponsel yang Victoria gunakan untuk siaran langsung, ponsel itu khusus untuk kerjaannya yang kini sudah ia lempar beberapa menit yang lalu. 

 

"Kenapa tidak ada yang mengangkat, sih?" Victoria mengerutkan keningnya kesal, sekali lagi ia memencet tombol menelepon Zayn. Harapan terakhirnya hanyalah pria itu, sebab Victoria baru ingat ia lupa menyimpan nomor terbaru pamannya, dan menghubungi dua teman perempuannya itu menunjukkan kata 'memanggil.' Menghubungi polisi dan pihak berwajib lainnya tidak diangkat, sekali diangkat langsung terputus. Kini, hanya Zayn yang berdering. 

 

"Halo." 

 

"Zayn! Oh astaga akhirnya kamu mengangkatnya juga!" Victoria bersyukur sekali dalam hati. Zayn yang berada dalam mobilnya hanya mengerutkan kening mendengar suara Victoria yang tampak senang. Zayn melihat Victoria sudah meneleponnya dua puluhan lebih.

 

Ponselku tadi ketinggalan di mobil. Aku sekalian mampir ke rumah Nenek," ucap Zayn mengatakan yang sebenarnya. Ia baru saja masuk ke dalam mobil setelah berkunjung ke rumah neneknya yang memang sejalur. 

 

"Apa itu artinya di sana belum terjadi kekacauan" 

 

"Kekacauan?" 

 

"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Sekarang di kota kacau sekali. Di depan rumahku terjadi tawuran tapi penontonku bilang itu zombie!" 

 

"Zombie? Kamu serius bercanda seperti itu?" 

 

"Aku tidak bercanda!" 

 

"Dan aku tidak percaya." Zayn pun menjalankan mobilnya menuju pulang. Victoria memijit kepalanya yang sakit. Tidak heran jika Zayn tidak percaya, karena Victoria tipe-tipe pencari sensasi untuk kontennya, dan Zayn sering menjadi korban. Zayn yang mengetahui kalau hari ini Victoria melakukan siaran langsung lantas tidak ambil pusing atas ucapan melantur untuk kontennya. 1 

 

"Baiklah, kamu lebih percaya berita, kan. Coba kamu lihat berita saat ini!" 

 

Victoria segera mengalihkan panggilan suara ke panggilan video. Ia membagikan layarnya dan mencari liputan berita yang sebelumnya sudah ia temukan di dunia maya. Zayn menanggapi dengan santai sebelum kemudian banting setir pada jalanan yang entah kenapa hanya satu sisi yang padat, ke Kota Porto Marina. 

 

"Tunggu aku." 

 

Victoria dapat melihat wajah serius dari Zayn membuat Victoria seketika bernapas lega, walau agak kesal karena Zayn lebih percaya berita daripada omongannya. 

 

"Datanglah dengan cepat, Zayn."

 

BERSAMBUNG.