Penulis: Dinda Roihatul Janah

CHAPTER 01 : Victoria


Langit menjadi cerah setelah pagi tadi mendung. Angin berhembus sejuk, dedaunan yang kini sudah berwarna kekuning-kuningan itu jatuh diterpa angin membuatnya melayang dan gugur sembarang arah. Hari itu sudah memasuki musim gugur. 

 

Hari yang nyaman untuk sekedar berjalan-jalan bersama peliharaan kesayangan, atau duduk dan diam menikmati suasana yang nyaman dengan secangkir teh yang hangat. Namun, semua hal menyenangkan itu tidak dapat wanita itu lakukan saat ini. Peliharaan ia tidak ada, duduk dan minum teh tidak bisa. Sebab, ia sedang membanting tulang untuk membuat rumah idamannya. 

 

Wanita berambut cokelat susu bergelombang itu meletakkan sebuah kardus yang diangkat ke dalam sebuah ruangan yang penuh akan barang-barang. Keringat telah membasahi wajahnya, tapi itu tidak sia-sia karena tadi adalah barang terakhir. Ia mengelap pelipisnya dan tersenyum bangga. 

 

"Akhirnya selesai juga." Sang wanita meregangkan badannya. Ia keluar dari ruangan itu, menutup dan mengunci pintunya. Karena itu bukan ruangan penting, hanya gudang dari barang-barang pemilik rumah sebelumnya. Ia berjalan lunglai untuk duduk di atas sofa empuk di ruang tamu yang menjelma juga jadi ruang santai. "Nyamannya," keluhnya sambil memejamkan matanya. Tangannya meraba ke meja kaca di sebelah, untuk mengambil kaca kecil dan mulai memperhatikan wajahnya, sesekali berpose karena menurutnya ia yang sedang berkeringat ini masih menawan seperti orang baru selesai mandi. 

 

Biasa, wanita tidak bisa lepas dari kaca.

 

 "Siapa wanita cantik ini, hm? Apa? Namanya Victoria? Namanya juga cantik seperti orangnya," ucapnya ke diri sendiri dengan senyuman centil. Monolog yang membuat merinding siapa saja yang mendengarnya, termasuk seorang pria yang sudah berdiri tidak jauh dari Victoria berada.

 

. "Narsisnya dikurangi, bikin merinding saja." Victoria tersentak dan segera mencari tahu siapa orang yang tiba-tiba bersuara itu. 

 

"Ck, kamu rupanya, Zayn."

 

 Zayn menganggukkan kepalanya pelan, ia sedang mengambil air minum. Victoria dapat melihatnya karena dapurnya masih satu ruangan. Zayn yang membawa dua gelas air duduk di salah satu sofa. "Sudah selesai mereka?" tanya Victoria sekalian mengambil segelas air yang telah dibawa Zayn. 

 

"Sudah. Mereka juga sudah pulang," jawabnya. 'Mereka' yang dimaksud Victoria adalah agen pindahan rumah yang sedang mengurus halaman rumahnya. "Aku masih bingung untuk apa kamu membangun lahan kebun? Kamu melihat cacing saja sudah lari," ungkap Zayn selama ini menahan diri untuk tidak bertanya saat ia disuruh oleh Victoria mengawasi agen pindahan rumah yang bekerja. 

 

Victoria menyesap airnya dan tersenyum. "Hanya iseng." Zayn memutar bola matanya malas. Tidak mengerti dengan jalan pikir temannya itu, membuat hal tidak penting di rumahnya sendiri. Pemborosan uang seperti banyak uang saja. Sayangnya, Victoria memang banyak uang.

 

Victoria terkikik geli, ia tahu jalan pikir Zayn yang sedang mencemoohnya karena pemborosan uang. "Bukan pakai uangmu juga, jadi tidak usah julid begitu." Victoria meletakkan gelas yang tadi sudah ia minum dan bersandar. Sebelah kakinya diangkat untuk ditumpangkan ke paha lainnya. Tersenyum sambil mengibaskan rambutnya.

 

"Aku ini kaya." 

 

"Aku tidak meragukan itu, tapi hal-hal yang kamu isi dalam rumahmu itu sangat tidak berguna." 

 

"Apanya yang tidak berguna? Panel surya? Kalau semisal listrik mati, aku tidak akan kesusahan di siang hari. Kebun itu juga untuk mempercantik halaman, daripada kosong, kan. Tidak ada yang tahu jika tiba-tiba saja aku pindah profesi jadi tukang kebun. Lalu ruangan penuh makanan itu untuk tempat syuting dan investasi." Sekali lagi Victoria mengibaskan rambutnya dengan narsis "Kamu tahu sendiri, apa yang muncul di videoku itu laku besar dan akhirnya aku diberi sponsor." Dari semua penjelasan panjang itu, Zayn hanya mampu mendengarkan tanpa menanggapi. 

 

Sifat alami Victoria yang narsis dan menyombongkan diri sudah menjadi makanan sehari-hari Zayn. Semua yang dikatakan oleh wanita itu memang benar adanya. Victoria memasang panel surya di rumahnya, membuat kebun dan memesan banyak sekali pupuk dan benih lengkap dengan peralatannya. Kemudian ruangan syuting yang sebenarnya lebih seperti tiruan supermarket, itu karena Victoria hobi makan saja, ia malas keluar rumah untuk membeli jajan. Tapi jika ada yang bertanya apa tujuannya membuat semua itu, Victoria hanya akan menjawab, "Iseng saja, kok."

 

Zayn mengambil remot TV di atas meja dan menyalakannya, tidak ingin menanggapi omongan Victoria. Victoria mencibir. "Aku ingin nonton film." Zayn tidak peduli dan membuka siaran berita. 

 

"Berita terkini, orang-orang yang bertingkah aneh dan agresif di Kota Grand semakin menjadi-jadi. Pihak rumah sakit kewalahan menangani para korban yang terus berdatangan, juga sama bertingkah agresif hingga menyerang tenaga medis. Kini, pasukan militer ditugaskan untuk mengamankan warga yang ada. Diduga semua ini terjadi karena obat-obatan, tetapi belum ada bukti yang pasti. Pihak polisi terus menyelidiki kasus ini. Akibat dari kekacauan yang terjadi, pemerintah setempat mengambil tindakan untuk mengevakuasi para penduduk dan turis yang ada di Kota Grand. Evakuasi terus berjalan dan sudah empat kapal dan tiga penerbangan yang berlabuh di Kota Porto Marina sebagai tempat evakuasi sementara. Dihimbau kepada masyarakat Kota Grand untuk karantina mandiri. Sekian."

 

Suara penyiar wanita dengan lugas melakukan pekerjaannya. Berita itu menampilkan situasi asli dengan blur wajah, orang-orang menyerang dengan cepat siapa saja yang berada di depan mereka. Tidak peduli dengan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Situasi di rumah sakit Kota Grand yang kacau, juga evakuasi penduduk dan turis diamankan. 

 

"Woah, bukankah itu mengerikan?" Victoria bergidik ngeri. Kekacauan itu terasa nyata tidak dibuat-buat. "Pantas saja dua hari ini banyak sekali orang, di sini jadi tempat evakuasi sementara rupanya." 

 

"Kamu baru tahu?" Victoria menganggukkan kepalanya. 

 

"Bahkan aku baru tahu ada kekacauan di Kota Grand. Padahal aku ingin liburan ke sana minggu depan, katanya banyak kupu-kupu di sana," ucap Victoria menghela napasnya. Kabarnya, kota itu tiba-tiba saja dikerumuni banyak kupu-kupu di manapun itu hingga menghebohkan dunia maya, menarik banyak turis pergi ke sana. 

 

"Bahkan jika tidak terjadi situasi itu, kamu juga tidak bisa ke sana sembarangan," ungkap Zayn seolah khatam dengan berita terbaru. 

 

"Kenapa begitu?" tanya Victoria penasaran. 

 

"Penduduk di Kota Grand lagi banyak yang sakit karena asap yang muncul di gunung sebulan yang lalu. Pemerintah di sana melakukan karantina sementara dan menutup tempat wisata. Walaupun sudah reda, tapi himbauan itu masih ada." Victoria membulatkan mulutnya. 

 

"Dasar maniak berita," ucap Victoria mencibir, walau dalam hati kagum Zayn mengetahui banyak hal, karena Victoria sendiri jarang mengikuti fenomena yang terjadi di dunia. Zayn menjitak dahi Victoria pelan. 

 

"Aku pulang dulu." Zayn berdiri dan segera berjalan pergi sambil melambaikan tangannya pelan tanpa menghadap ke Victoria. Tetap saja Victoria melambaikan tangannya juga. Selepas kepergian temannya itu, Victoria memutuskan membersihkan dirinya. 

 

🍁🍁🍁

 

Victoria bersenandung mengikuti irama lagu yang diputar di ponselnya sambil mempersiapkan alat-alat yang akan merekam dirinya. Sore ini Victoria akan melakukan siaran langsung tentang rumah barunya. Bekerja banting tulang walau dalam rumah, Victoria adalah seorang YoTuber. Kontennya tentang makanan, entah itu review atau ASMR. Namun, kontennya juga tidak jarang menjelma menjadi 'daily in my life' seperti sekarang yang ia lakukan. 

 

Sudah hampir lima tahun Victoria merintis karir, saat ini ia sudah menjadi public figure terkenal dengan pengikut 19 jutaan. Kontennya laris manis mengundang pundi-pundi uang. Victoria tidak bohong kalau ada barang yang muncul di videonya, barang itu akan terjual banyak hingga akhirnya Victoria disponsori. 

 

Itulah mengapa Victoria suka-suka menghamburkan uangnya. Toh, untuk diri sendiri juga, katanya. 

 

Lagunya habis dan kini lanjut ke antrian berikutnya yang ternyata adalah sebuah iklan. "Sudah berumur 24 tahun, tapi belum melihat benang merahmu? Atau takut terseret jalan yang salah karena belum melihat benang merahmu? Bergabunglah dengan Red String Behavior, untuk mempersiapkan dirimu bertemu takdir benang merahmu! Di sini kalian akan difasilitasi banyak hal, membantumu untuk lebih siap membangun hubungan romantis dengan pasanganmu kelak. Sudah tersebar di seluruh kota! Program ini resmi dari pemerintah dan dibiayai penuh, bahkan kalian juga akan dibantu secara gratis untuk dipertemukan dengan pasanganmu! Tunggu apalagi, ayo daftar sekarang!" 

 

"Ugh, derita bukan premium." Victoria memutar matanya malas. Benang merah adalah sebuah legenda nyata hingga sekarang. Entah kapan mulai munculnya tetapi sejak kecil Victoria sudah diberitahukan tentang keberadaan benang merah yang akan menunjukkan siapa jodoh kita dan di mana dia berada. Ayah ibunya adalah contoh nyata benang merah di kehidupannya. 

 

Ketika kedua pasangan sudah menyentuh usia 24 tahun, maka benang merah mereka akan terikat di jari kelingkingnya dan hanya bisa dilihat oleh pasangan itu saja. Jika salah satunya lebih tua, benang merah tidak akan terlihat sebelum pasangan mereka yang lebih muda menginjak usia 24 tahun. 

 

Begitulah aturannya. Mutlak. 

 

Memang terdengar romantis, tetapi untuk Victoria tidak. Mereka akan jatuh cinta seperti orang gila, mengorbankan banyak hal. Jika perasaan itu sudah berlabuh ke orang lain, tetapi benang merahnya muncul, perasaan yang ada itu akan sirna dan membuat luka. 

 

Victoria segera mematikan putaran lagunya karena kamera ponselnya yang khusus untuk siaran langsung sudah merekamnya. Victoria menampilkan senyumannya yang paling indah, melambaikan tangannya ke kamera. 

 

"Halo kalian semua! Ayo-ayo aku nunggu kalian, loh." Victoria menunggu sebentar para penontonnya bermunculan. Kolom komentar terus bergerak layaknya arus sungai. "Absen? Haha, baiklah kita absen dulu." Victoria menyebutkan nama-nama akun yang kini terus mengetik 'hadir' atau menggunakan emoji. "Jadi aku sudah pindah ke rumah baru, yeay! Aku streaming saja ya, soalnya lagi malas mengedit aesthetic. Tapi tanpa diedit rumahku sudah cantik sih, seperti pemiliknya," ucap Victoria sambil berputar pelan, menyorot singkat dalam rumahnya. Tidak lupa narsis sedikit. 

 

Victoria membacakan salah satu komentar yang menarik perhatiannya. "Oh, 'Bukannya Zayn yang biasanya akan mengedit ya?' Iya memang, tapi orangnyalagi cemberut terus karena dua hari ini aku suruh buat jadi mandor memperhatikan pekerjaan orang yang mengurus rumahku, hahahah!" Victoria terkikik geli, ingat betapa masamnya wajah Zayn karena ia harus memperhatikan pekerjaan orang lain. 

 

Sebagai seorang yang perfeksionis, Zayn sering kali menegur seolah tidak boleh ada sedikitpun kekurangan. Makanya Victoria menyerahkan pekerjaan itu pada Zayn. 

 

Banyak komentar yang mengasihani Zayn, terlebih juga pada para pekerja, mereka tahu betapa telitinya pria itu. Zayn menjadi salah satu daya tarik situs YoTub Victoria, pria tampan kulkas penuh gulali adalah sebutannya, penggemar Zayn pun terbentuk. 

 

Zayn dijuluki sebagai gulali karena semir rambutnya berwarna ungu cerah yang berkilau dan kulkas karena manik merahnya yang tajam, terlebih sifatnya mendukung sekali. 

 

Tidak jarang Victoria diserang oleh penggemar Zayn. Seperti saat ini, menyebut Victoria merepotkan Zayn dengan kata-kata buruk. Victoria menanggapi dengan baik, tidak tersinggung sama sekali bahkan membawa suasana yang asyik sehingga tidak terdengar seperti Victoria dicemooh. 

"Mulai dari ruang tamu dulu ya kita, nanti ke dapur, terus tempat laundry sama-" 

 

TING TONG! 

 

Suara bel terdengar. Victoria menatap bingung kameranya sampai ia mendengar teriakan, "Paket!" 

 

"Ada paket. Aku bukain dulu ya." Victoria segera keluar dari rumah dan membuka gerbang rumahnya. Seorang pria dengan senyuman cerah menyambut Victoria, di sampingnya terdapat motor yang terparkir. Di tangannya sudah ada sebuah kotak besar. 

 

Victoria membawa ponselnya dengan hati-hati supaya wajah orang lain tidak tertangkap. "Dengan Nona Victoria?" tanyanya masih dengan senyuman. 

Sebagai kurir paket ia terlihat ramah. 

Victoria segera berpikir untuk memberikan bintang lima nanti. "Tanda tangan di sini dulu, ya." 

 

Victoria segera menandatangani kertas itu yang merupakan tanda bahwa Victoria sudah menerima paket. "Terima kasih ya, Pak," ucapnya hendak mengambil kotak itu. 

 

"AAAA! TOLONG AKU!" 

 

Mereka berdua sama-sama terkejut dengan teriakan itu. Arah pandangan mereka serempak ke kiri, menampilkan seseorang tengah berlari diikuti gerombolan orang yang terlihat menyeramkan. Seketika Victoria merasakan firasat yang tidak enak. Victoria refleks menarik pria itu untuk masuk dan mengunci gerbangnya. 

 

"TOLONG! SIAPAPUN TOLONG AKU!" Orang itu berteriak dan berlari dengan khidmat. Kakinya bergerak dengan tergesa-gesa menjadi tidak seimbang dan malah membuatnya tersandung kakinya sendiri. Orang itu terjatuh. Namun, orang-orang yang mengejarnya tidak berhenti dan agresif mendekatinya. Orang itu mundur ketakutan, tangannya gemetar. 

 

"Ja-jangan mendekat! JANGAN MENDEKAT-AAGHH!!!" 

 

Victoria dapat mendengar geraman yang bersahutan tepat di depan gerbangnya, suara kesakitan seolah dianiaya tanpa ampun. 

 

"Itu lagi tawuran atau gimana, sih?" Ia kebingungan dengan apa yang terjadi. Hal-hal mengerikan memenuhi otaknya, membuatnya gemetar. Namun, rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia mengambil tangga portabel bekas dari merenovasi rumah. 

 

Victoria melihat dari atas pagar rumahnya. Matanya terbelalak dan refleks menutup mulutnya menahan pekikan. Gerombolan orang dengan compang-camping dihiasi noda merah. Orang yang berlari sebelumnya sudah tak berdaya, matanya melotot merah ingin keluar, pipinya berlubang bekas gigitan, tubuhnya terkoyak-koyak tidak jelas. 

 

Salah satunya bergerak dengan aneh, kepalanya bengkok dengan leher yang berdarah, mendongak dan membuat sang wanita dapat melihat jelas perawakan mengerikan yang membuatnya mual. Mata mereka bertemu. 

 

Bersamaan dengan itu, suara teriak ketakutan bersahutan ke sana kemari tanpa ampun. 

 

Hari itu, sebuah kota menjadi kota mati. 

 

BERSAMBUNG.