Penulis: Dinda Roihatul Janah

CHAPTER 13 :


Pria itu tersandung keluar dari mobilnya, kepalanya pusing dan pandangannya berbayang. Belum sempat mengatur napas, tiba-tiba sesuatu menerjangnya.

 

Makhluk itu bergeming di atasnya, rahangnya menganga dengan air liur menetes dari giginya. Mata yang sepenuhnya putih dan kulit menguning menjawab semua pertanyaan dalam kepala pria itu.

 

Zombie.

 

DOR! DOR!

 

Darah menyembur, kepala makhluk itu meledak akibat tembakan bertubi-tubi. Pria berseragam tentara mendekat dengan napas terengah-engah.

 

"Kamu, cepat kemari!"

 

Zayn nyaris tak bisa berdiri, tapi dengan sisa tenaga, ia menyeret tubuhnya menuju sang penyelamat. "Apa yang terjadi?" Suaranya bergetar.

 

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Pergilah ke orang itu, dia akan membawamu ke truk!" Pria berseragam menunjuk sekelompok tentara yang sibuk menuntun warga melewati satu-satunya jalan, yaitu pembatas jalan di tengah; karena di sisi lain dipenuhi mobil yang ditinggalkan, dan di sisi lainnya lagi terdapat rongsokan mobil yang masih tercium bau terbakar..

 

Namun, Pria itu tidak bergerak.

 

"Tidak... Victoria menungguku," bisiknya. Ia berbalik, berusaha kembali ke arah kekacauan. Namun, sepasang tangan kasar menarik kerahnya.

 

"Apa yang kamu lakukan!?"

 

Pandangannya kabur. Dunia berputar. Napasnya pendek dan berat. Lalu, gelap.

 

Seminggu berlalu begitu saja. Langit-langit putih menyambutnya. Rasa nyeri menusuk kepalanya, sementara bau antiseptik memenuhi udara. la berusaha bangkit, tapi tubuhnya lemas. Saat itulah, suara seseorang memecah keheningan.

 

"Zayn? Kamu sudah bangun?"

 

Zayn menoleh dan melihat pria berumur yang mengenakan jas dokter berdiri di samping ranjangnya. Wajah itu begitu familiar.

 

"Paman...?"

 

Pamannya Victoria

 

Seiring waktu, ia mengetahui segalanya. Bagaimana Porto Marina dan kota-kota lainnya telah jatuh. Bagaimana dunia yang ia kenal telah berubah menjadi neraka. Zona merah, mereka menyebutnya -tempat di mana kehidupan sudah tidak ada lagi.

 

Porto Marina masuk ke dalamnya.

 

Zayn berdiri di depan kaca, tangannya mengepal. Rasa bersalah menghantamnya. Ia telah gagal. Ia telah meninggalkan Victoria, tidak menepati janjinya yang mau menjemput wanita itu. Dengan amarah yang membara, ia meninju kaca itu. Retakan menyebar, pecahannya menancap di kulitnya, tapi ia tidak peduli. Darah mengalir. tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan luka di hatinya.

 

"Victoria... maafkan aku."

 

Namun, penyesalan tidak akan mengubah apa pun.

 

Sejak saat itu, Zayn hanya memiliki satu tujuan. Kembali. Bagaimanapun caranya.

 

Dengan bantuan sang paman, Zayn dapat masuk ke dalam keanggotaan militer. Ia hanya menjalani pelatihan selama tiga bulan dan tanpa perizinan pergi meninggalkan pangkalan dan seorang diri ke Porto Marina yang sudah dilarang untuk dikunjungi.

 

Pria berumur itu menatap Zayn dengan sorot serius. "Kamu benar-benar yakin? Bagaimana jika Victoria sudah mati?"

 

"Victoria masih bertahan, Paman. Dia wanita kuat yang pernah aku tahu." Sang paman menghela napasnya. Ia tak bisa mengubah pikiran Zayn. Sekalipun ia juga cemas dengan nasib Victoria, tapi kemungkinan keponakannya masih bertahan itu kecil, sebaiknya ia mempertahankan Zayn. Namun, Zayn selalu keras kepala kala menyangkut Victoria. Dengan kuasa yang ada, sang paman membantu Zayn kurang lebih memberikan transportasi berupa helikopter menuju Porto Marina.

 

"Aku menitipkan Victoria padamu, Zayn."

 

Maka di sinilah ia berada, di Kota Porto Marina yang disebut sebagai Kota Mati Kedua, penuh dengan zombie. Namun, tidak seperti yang dikatakan, Porto Marina terasa sepi dengan sedikit zombie yang muncul. Zayn tidak terlalu memikirkannya dan fokus pergi ke rumah Victoria.

 

Tangannya mengepal dengan perasaan sesak ketika ia sudah berdiri di depan gerbang rumah Victoria. Kondisi rumah itu tampak tidak terurus. Cat pagar luarnya kusam dan beberapa noda hitam yang mengering.

 

"Victoria, tolong bertahanlah..." bisiknya sebelum kemudian masuk ke dalam. Seketika jejak kehidupan terasa oleh Zayn, apalagi halaman rumah itu tiba-tiba saja dipenuhi bajakan tanah untuk berkebun.

 

"Kebun itu juga untuk mempercantik halaman, daripada kosong, kan. Tidak ada yang tahu jika tiba-tiba saja aku pindah profesi jadi tukang kebun."

 

Zayn seketika terkekeh mengingat ucapan Victoria dulu. Sudut bibirnya sedikit terangkat dan perasaan senang menggerogoti perasaan cemas yang selama ini membayanginya.

 

"Syukurlah, kamu bertahan hidup dengan baik." Ia membuka pintu rumah itu, tapi bukannya bertemu dengan teman tersayangnya, ia malah mendapati todongan senjata api oleh seorang pria tua yang menatapnya tajam dan curiga.

 

"Siapa kamu!?" tandasnya tak memberikan waktu untuk Zayn terkejut.

 

Zayn pun seketika mengeluarkan senjatanya juga. Mereka saling menodong.

 

"Siapa anda!? Di mana pemilik rumah ini?" Zayn sudah siap menarik pelatuk, jika saja pria tua itu tidak segera menurunkan senjatanya dan menatap bingung Zayn.

 

"Kamu siapanya Victor?" tanyanya.

 

🍁🍁🍁

 

"Zayn ..." ucapnya dengan gemetar. Victoria menutup mulutnya tidak percaya, ia terduduk lemas di kursi. Matanya terasa panas dan air mata lolos begitu saja. Perasaan sesak menggerayanginya. Ini bukanlah perasaan menyakitkan, tapi kelegaan amat dalam.

 

"Kakek yakin itu benar-benar Zayn?" tanya Victoria memastikan. Kakek Sulvan mengangguk.

 

"Iya, aku sudah memastikannya dengan mencocokkan wajah anak itu dengan foto yang ada di rumahmu."

 

"L-lalu di mana Zayn sekarang?"

 

Kakek Sulvan menghela napasnya. "Aku tidak menyangka kamu akan kembali. Aku mengatakan padanya bahwa kamu melakukan perjalanan dan mengira-ngira masih di Kota Terra atau tidak sudah di Kota Reve. Jadi pria itu menyusulmu," ucap Kakek Sulvan menerangkan. "Kalian sepertinya berselisih."

 

Victoria menutup matanya sejenak. "Tidak apa. Setidaknya sekarang aku tahu bahwa dia masih hidup, itu lebih baik." Victoria mengusap kedua. matanya yang berair, wajahnya menerbitkan senyum tenang.

 

Hatinya lega.

 

🍁🍁🍁

 

"Wah, ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama!" Cellio menatap ponselnya yang sudah lama mati daya, kini kembali berfungsi. Victoria terkekeh kecil melihat tingkah laku Cellio. Laki-laki bermata lentik itu menatap penuh melas dan senyum lucu pada Victoria. "Kak Victoria, bolehkah kita berfoto bersama?"

 

"Tentu, kenapa tidak." Tak butuh waktu lama Victoria mengabulkannya. Cellio mendekati Victoria dengan gugup, pipinya memerah dan ia sedikit tidak fokus menatap kamera, bergaya kaku. Victoria sudah siap dengan posenya. Namun, melihat Cellio yang gugup sendiri membuat Victoria gemas.

 

"Kenapa kamu gugup begitu, santai saja. Kamu mau foto pertamamu denganku kaku begitu?" Victoria mengibaskan rambutnya anggun dan tersenyum menawan membuat Cellio seketika terpesona hingga tidak berkedip. "Kapan lagi kamu bisa foto dengan orang semempesona aku. Ayo mulai pose." Victoria sengaja mendekat sampai pipi mereka bersentuhan. Cellio meledak dalam pikirannya.

 

Cekrek!

 

Mereka mengambil beberapa foto. Cellio menutup mulutnya tak percaya. "Kak Victoria, kamu cantik sekali!!! Mati sekarang pun aku rela!" ucap Cellio menggebu-gebu-mode penggemarnya aktif. Victoria tertawa kecil, merasa tersanjung.

 

"Tentu saja. Aku ini definisi kecantikan sempurna. Bahkan sekelas idola dunia juga iri denganku."

 

"Idolaku memang terbaik! Aku mencintaimu Kak Victoria!" Cellio bersorak.

 

Cellio sangat mencintai Victoria!

 

"Kamu lucu sekali Cel. Sini kemarikan ponselmu." Cellio dengan gemetar memberikan ponselnya. Ia menutup mulutnya menahan pekikan saat Victoria mulai berfoto menggunakan ponselnya.

 

Victoria mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya dan berkedip lucu. "Nah, sekarang kamu resmi punya koleksi eksklusif Victoria yang tidak ternilai harganya!"

 

Kakek Sulvan yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara penggemar dan idola itu dibuat merinding.

 

"Aih, sudah bagus beberapa hari ini aku tidak mendengar narsisnya anak itu, sekarang kupingku tercemar lagi, ditambah sekarang ada penggemarnya." Kakek Sulvan memalingkan wajahnya dan fokus memperhatikan anak laki-laki yang duduk di depannya sedang makan dengan mulut belepotan.

 

"Makanlah dengan tenang," ucap Kakek Sulvan hendak membersihkan mulut Rey, tapi Si Kecil tiba-tiba saja menghindar ketakutan seolah refleks. yang sering dilakukannya. Kakek Sulvan merasa ada sesuatu yang tidak beres.

 

"Nak, kenapa kamu bisa di toilet itu?" tanya Kakek Sulvan dengan suara lembut. Ia sudah diceritakan Victoria bagaimana kondisi Rey. Rey mulai berpikir, menerawang kejadian masa lalu.

 

"Ma-ma membawa ke situ. Ayah mengerikan, tidur. Mama ... takut." Rey berucap dengan terbata-bata dan kata yang tidak beraturan tapi masih bisa dipahami.

 

"Memangnya ayahmu kenapa?" tanya Kakek Sulvan lebih lanjut. Rey tidak takut untuk menceritakan seolah ia tidak mengetahui bahwa apa yang diceritakannya mengerikan.

 

"Ayah suka mukul, tapi... sekarang suka gigit. Ayah luka dan bau. Mama mukul, Ayah gigit." Kakek Sulvan memejamkan matanya, ia mengerti kurang lebih situasi Rey.

 

Kekerasan rumah tangga menjadi keseharian Rey dan ibunya. Saat wabah terjadi, ayahnya berubah menjadi zombie dan tampaknya mereka terkurung bersama cukup lama hingga ayahnya mengeluarkan bau busuk. Ibunya mencoba melawan dan berhasil tapi dirinya terkena gigitan. Tidak ingin Rey terluka, ibunya membawanya ke tempat yang aman dan mengurung Rey dalam toilet.

 

"Jadi ... zombie waktu itu ibunya Rey?" Victoria sedari tadi menyimak akhirnya bersuara. Hatinya mencelos, mengingat bagaimana ia membunuh Ibu Rey yang sudah menjadi zombie. Victoria segera memeluk Rey yang kebingungan.

 

"Rey... maafkan aku."

 

Rey tidak mengerti, tapi sedikit mengangguk seolah mengerti. "Tidak apa. Kakak cantik membuka. Aku -keluar."

 

🍁🍁🍁

 

Neo berdiri diam. Dengan pencahayaan remang-remang dari luar, sorotnya masih menangkap sosok yang akrab baginya.

 

Sosok yang ia perjuangkan untuk ditemui bagaimanapun caranya. Namun, sulit bagi Neo untuk bertemu ketika ia sudah tahu apa yang terjadi, padahal mereka berdekatan beda rumah. Neo membutuhkan waktu dua hari untuk menenangkan pikirannya yang berkecamuk.

 

"Ayah...." Neo berbisik, tapi suaranya tenggelam dalam dinginnya udara.

 

Makhluk itu cukup tenang sebelumnya, tapi ketika suara masuk ke indra pendengarannya yang sensitif, makhluk itu mulai merintih dan meronta. Neo menelan ludah, perih di tenggorokan. Bau busuk menusuk hidungnya.

 

Empat bulan berlalu dan beginilah hasilnya. Neo sempat tertawa. Angan-angan kembalinya ke kampung halaman bertemu keluarga yang masih selamat kini hanya sebuah harapan yang hangus terbakar realita.

 

Neo menarik napas dengan susah payah. "Ayah maaf karena aku lama." Neo mencoba menarik sudut bibirnya yang tertekuk, tersenyum.

 

Tangannya dengan gemetar terangkat, mengarahkan sebuah pistol ke kepala sang ayah.

 

Membantu sang ayah bertemu dengan istri dan anaknya ibunya dan adiknya.

 

Mengakhiri segalanya.

 

🍁🍁🍁

 

Dua hari berlalu, udara sejuk menerpa wajah Victoria. Wanita itu memejamkan mata merasakan sensasi pertengahan musim semi yang menenangkan.

 

'Rumah memang tempat terbaik~'

 

Rumahnya terlindungi dari segala kesialan di dunia yang hancur, seolah seluruh keberuntungan Victoria terinvestasi banyak hanya untuk rumah ini; listrik, air, persediaan makanan, gudang senjata. Jika Victoria keluar, semua kepusingan akan menerjangnya, mengingat bagaimana beberapa hari sebelumnya ia melewatkan banyak hal.

 

Entah bagaimana perjalanan selanjutnya, karena tampaknya tujuannya masih jauh dalam genggaman. Benang merahnya masih berwarna sama, seolah pasangannya yang tidak diketahui keberadaannya bahkan tidak repot-repot mencarinya. Victoria tertunduk sendu.

 

Seseorang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya, surai biru malam itu bergerak diterpa angin, manik hitamnya lurus menatap langit pagi yang kian terang.

 

"Terima kasih," ucapnya tiba-tiba.

 

Victoria mengangguk pelan. "Jimin pasti senang karena sudah bertemu denganmu. Ibu dan adikmu juga." Kata-kata Victoria berhembus lembut layaknya melodi ringan. Neo tersenyum, hanya kelegaan yang tersisa.

 

Victoria tenggelam dalam pikirannya, mengingat pemakaman yang mereka lakukan untuk Jimin, istri, dan anak keduanya. Neo mengerjakannya seorang diri. Pergi ke ujung Kota Porto Marina menemui ibu dan adiknya yang sudah berubah menjadi zombie, dan terakhir menemui ayahnya.

 

Rasa bersalah akan Jimin masih menghantuinya, tapi tidak membuatnya terpuruk lagi. Pada dasarnya, penyesalan memang tidak bisa dihilangkan. Namun, bagaimana caranya ikhlas menerima adalah jalan yang damai.

 

Kehadiran Neo adalah bentuk penerimaannya. "Aku juga terima kasih, Neo." Neo menatap Victoria bingung, wanita itu hanya tersenyum.

 

Tiba-tiba saja kakinya ditabrak dan dipeluk. Victoria mendapati Rey yang menempel padanya. Victoria mengusap kepala Si Kecil dengan lembut.

 

"Rey, jadilah anak baik, ya? Menurutlah dengan Kakek." Victoria berjongkok untuk sejajar menatap Rey. "Kamu aman di sini."

 

Rey mendengarkan dengan patuh. Senyuman menenangkan Victoria mengingatkannya pada ingatan terakhir tentang ibunya yang terasa berat, tapi tergantikan semenjak bertemu Victoria, rasanya ringan.

 

Mereka pun berpisah. Kakek Sulvan merawat Rey. Victoria, Neo, dan Cellio melanjutkan perjalanan mereka yang kini mempunyai tujuan baru, Kota Reve.

 

🍁🍁🍁

 

Di tengah jalan yang begitu lenggang tetapi terbengkalai, suara kunyah terdengar nyaring, disertai suara daging yang dikoyak dan tulang yang remuk. Makhluk itu berukuran lebih besar berlutut, mencabik-cabik tubuh sesamanya-zombie. Tubuh berlemak berbalut kulit kasar penuh luka terbuka. Tangannya yang besar menggenggam kepala zombie lain, menghancurkannya seperti buah dengan mudah sebelum memasukkannya ke dalam mulut memakannya. Bau busuk yang lebih ekstrim menguar dari satu zombie itu, membuat siapapun mual menciumnya.

 

Victoria menelan ludah, tubuhnya menegang. Neo menggenggam erat senjatanya, sementara Cellio menahan napas, matanya membelalak tak percaya. Mereka tidak pernah membayangkan zombie bisa berevolusi menjadi monster yang memangsa kaumnya sendiri.

 

Apa yang mereka saksikan bukanlah sekedar mimpi buruk, melainkan sebuah kenyataan, yang membuat semuanya lebih buruk.

 

BERSAMBUNG.