Penulis: NURJANNAHTUN NIKMAH

BAB 10 - Holding The Light


Arven POV

 

Rumah itu sudah memasuki jam-jam paling sunyi ketika aku melangkah keluar dari kamar mandi. Uap lembap masih menempel di kulit, dan aroma sabun mint masih melekat di tangan. Lampu-lampu koridor telah diredupkan, menyisakan cahaya kuning pucat yang hanya cukup untuk menunjukkan arah. Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul sebelas lewat delapan menit. Terlambat... tetapi aku sudah terbiasa dengan jadwal seperti ini.

 

Aku berjalan menuju dapur. Lantai marmer memantulkan suara langkah kecilku, memecah kesunyian yang nyaris mutlak. Di ruang makan, hanya satu lampu gantung yang menyala-cukup untuk menerangi meja panjang yang tampak terlalu besar bila hanya ada seorang di rumah.

 

Di ujung meja, beberapa buku pelajaran masih terbuka. Aku memang meninggalkannya di sini setelah makan malam. Rasanya lebih nyaman belajar di ruang makan daripada di kamar. Mungkin karena kamar terlalu sunyi; terlalu banyak ruang untuk pikiran liar yang tidak ingin kuhadapi.

 

Aku menarik kursi, duduk, lalu membuka catatan yang terbuka di depan mata. Kertas itu penuh dengan garis stabilo dan catatan kecil di pinggir halaman, pertanda aku terus mempelajari materi yang sama berulang-ulang. Entah untuk nilai, atau untuk sekadar menahan diri agar tetap sibuk... aku tidak yakin.

 

Tanganku bergerak otomatis membuka halaman berikutnya, tetapi pikiranku justru tidak berada di situ.

 

Pikiranku berjalan ke arah lain.

 

Ke arah orang lain.

 

Maeva.

 

Namanya bahkan membuat dadaku terasa sedikit tegang, seperti ada sesuatu yang merambat naik perlahan dari dada ke leher. Bukan perasaan yang terlalu besar, tidak meledak, tapi tetap terasa jelas. Hangat yang asing.

 

Sore tadi tepat sebelum kami pulang -dia sempat menatapku lama, dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Seolah dia ingin menanyakan sesuatu, tetapi memilih untuk tidak memaksakannya. Meski begitu, dia tetap berkata, "Kalau kamu mau cerita, aku dengar." Kalimat sederhana, tetapi cukup untuk menggema berjam-jam di kepalaku tanpa henti.

 

Aku menutup buku pelan, menarik napas. Kepalaku berputar pada kata-kata itu. Tidak banyak orang menawari tempat aman tanpa embel-embel. Tidak ada di rumah ini. Tidak sejak lama.

 

Ketika aku hendak kembali membaca, suara langkah yang sangat pelan terdengar dari arah belakang. Aku mengangkat kepala.

 

Seorang wanita berkemeja putih dan rok hitam muncul di koridor. Itu Bu Rani.

 

"Mas Arven belum tidur?" tanyanya pelan, berusaha tidak menimbulkan suara keras.

 

"Belum, bu. Saya hanya menyelesaikan sedikit catatan," jawabku dengan suara yang kutahan agar tidak memecah sunyi.

 

Bu Rani tersenyum tipis, meletakkan gelas bersih di dapur, lalu mendekat sedikit. "Kalau mas butuh apa-apa nanti panggil saja, Saya belum tidur."

 

Aku mengangguk. "Iya. makasih bu."

 

Bu Rani pergi lagi, langkahnya hampir tidak terdengar. Aku memperhatikan punggungnya sebentar sebelum kembali menurunkan pandangan ke buku. Kehadiran orang dewasa yang tidak membentak... entah kenapa terasa seperti hal yang tidak seharusnya melegakan, tetapi tetap saja melegakan.

 

Rumah ini besar. Terlalu besar. Setiap langkah menggaung. Setiap suara menjadi bayangan. Dan setiap ketenangan selalu terasa seperti ketenangan sebelum badai.

 

Setelah lima belas menit mencoba membaca dan gagal fokus total, aku menyerah. Mungkin pikiranku memang tidak ingin menetap malam ini. Aku meraih ponsel yang tergeletak di samping buku. Layarnya gelap, tidak ada notifikasi.

 

Aku membuka chat terakhir. Maeva.

 

Jari-jariku berhenti tepat di atas keyboard. Rasanya bodoh kalau aku memulai percakapan hanya untuk menanyakan apakah dia sudah tidur. Tapi entah kenapa, keinginan itu tetap ada. Kecil, tapi nyata.

 

Akhirnya, aku mengetik.

 

Kamu sudah tidur?

 

Aku menatap layar. Ada detik-detik sunyi yang terasa lebih panjang dari biasanya. Baru kemudian notifikasi muncul.

 

Maeva:

 

Belum. Kenapa?

 

Aku mengehela napas. Pertanyaan itu sangat sederhana, tetapi justru membuatku bingung harus menjawab apa. "Kenapa?" Bahkan aku sendiri tidak tahu alasan pastinya.

 

Aku mengetik,

 

Tidak apa-apa, hanya memastikan.

 

Balasannya datang lebih cepat dari perkiraanku.

 

Maeva:

 

Ada yang kamu pikirkan?

 

Aku menatap ponsel lama sekali.

 

Ada? Ya. Banyak. Terlalu banyak.

 

Tentang suara pintu dibanting. Tentang langkah kaki berat di koridor. Tentang tatapan Edgar yang selalu penuh tekanan.

 

Tapi aku tidak bisa menuliskan itu. Tidak sekarang. Tidak kepada orang yang baru mengenalku beberapa hari.

 

Akhirnya aku menulis sesuatu yang lebih ringan, lebih aman,

 

Hari ini tidak seburuk biasanya.

 

Aku menunggu.

 

Hanya beberapa detik sebelum balasan muncul.

 

Maeva:

 

Bagus kalau begitu, kamu kelihatan lebih tenang tadi.

 

Lebih tenang?

 

Benarkah?

 

Aku memikirkan saat-saat sebelum pulang sekolah, waktu aku meminjamkan pulpen padanya, waktu ia tersenyum kecil karena hal sepele, waktu ia membenarkan tali tas yang nyaris tersangkut di kursi, waktu ia menatapku dan tidak menghakimi apa pun.

 

Sesuatu di dalam dadaku bergerak. Aku mengetik pelan, jujur tanpa kupikir.

 

Mungkin karena... kamu ada di sana.

 

Aku sempat ingin menghapusnya. Terlalu jujur. Terlalu terang. Namun jariku sudah terlanjur menekan tombol kirim.

 

Aku terpaku. Jantungku berdebar.

 

Layar bergerak lagi.

 

Maeva:

 

Oh... Kalau benar begitu, aku senang.

 

Aku memejamkan mata sejenak.

 

Bukan karena malu, tapi karena perasaan itu aneh. Lembut, tapi kuat. Rapuh, tapi nyata. Seperti seseorang menyalakan lampu kecil di dalam ruangan yang selama ini gelap.

 

Tanpa berpikir panjang, aku menulis lagi,

 

Makasih, Maeva.

 

Kamu membuat hari ini lebih ringan.

 

Kalimat itu tidak kubuat puitis, tidak kubuat berlebihan. Hanya apa adanya.

 

Kemudian balasannya muncul,

 

Maeva:

 

Sama-sama, Ven.

 

Aku senang kalau bisa bantu, meskipun sedikit.

 

Aku memandangi layar itu lama sekali.

 

Ada banyak hal yang ingin kukatakan. Banyak luka yang ingin kuletakkan. Banyak ketakutan yang ingin kuakui.

 

Tetapi semuanya berhenti tepat di ujung lidah. Akhirnya aku hanya menulis,

 

Saya tidur dulu. Selamat malam.

 

Maeva:

 

Good night

 

Aku mematikan ponsel, menaruhnya di samping kepala, lalu merebahkan tubuh di kasur. AC menghembuskan udara dingin yang menenangkan, tirai bergetar pelan, dan suara jam dinding terdengar sangat halus. Namun ada sesuatu yang berbeda.

 

Kepalaku tidak seberat biasanya. Dadaku tidak sesesak biasanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku merasa tidak sepenuhnya sendirian di dalam rumah yang terlalu besar ini.

 

Aku menatap langit-langit beberapa detik sebelum kelopak mataku menutup perlahan.

 

Dan sebelum benar-benar terlelap, pikiran terakhir yang muncul justru sebuah pengakuan sederhana, hari ini tidak separah biasanya. Mungkin karena seseorang akhirnya datang, membawa sepotong cahaya kecil ke tempat yang sudah terlalu lama gelap.