Penulis: NURJANNAHTUN NIKMAH

BAB 9 - Untold


Maeva POV

 

Setelah keluar dari toko buku sore tadi, aku masih merasakan aroma kertas baru menempel di ujung jariku. tas kecil yang aku bawa terasa sedikit lebih berat karena dua buku yang baru kubeli. Bukan karena benar-benar butuh, tapi lebih karena aku ingin punya sesuatu yang bisa menenangkan kepala setelah hari yang panjang.

 

Supir keluarga mengantar aku pulang seperti biasa. mobil berjalan pelan melewati jalan komplek, memantulkan cahaya jingga dari lampu-lampu taman yang sudah menyala. aku menatap keluar jendela, memperhatikan daun-daun yang tertiup angin. entah kenapa, pikiranku kembali ke Arven.

 

Wajahnya ketika tersenyum pelan di depan gerbang sekolah tadi masih terbayang. Senyum itu sederhana, tapi jujur. Seperti sesuatu yang jarang ia izinkan keluar.

 

Begitu mobil berhenti di halaman rumah, aku turun sambil mengucapkan terima kasih singkat pada supir. Udara sore berubah jadi lebih dingin ketika aku masuk ke dalam rumah. ruang tengah masih sepi karena ibu belum pulang dari kantornya.

 

Aku langsung naik ke lantai dua, membuka pintu kamar pelan. kamar itu terasa hangat-warna merah muda pada dindingnya membuat suasana selalu tampak tenang. aku meletakkan tas di samping meja belajar, lalu duduk sambil membuka buku yang baru kubeli. Tapi mataku hanya membaca dua baris sebelum pikiranku kembali beralih.

 

ke Arven lagi.

 

Akhirnya aku menyerah. Aku mengambil ponsel dari meja dan membuka chat yang terakhir kami tukar.

 

lalu aku mengetik:

 

1

 

me:

 

> Sudah makan malam?

 

Tak sampai lima menit, balasan masuk.

 

Arven:

 

> Sudah. kamu?

 

Aku mengangguk kecil, walaupun dia tentu tidak bisa melihat.

 

me:

 

> Sudah juga. Ada tugas lain lagi?

 

Arven:

 

> Tidak. sudah selesai semua kemarin.

 

Aku tersenyum kecil. Setidaknya di bagian itu, jadwalnya tidak seberantakan sebelumnya.

 

Aku baru akan menutup ponsel ketika namaku muncul lagi di layar.

 

arven:

 

> Maeva.

 

Aku berhenti. jarang sekali ia memanggilku begitu, dengan nada yang terasa lebih hati-hati.

 

me:

 

> Ya?

 

Balasan tidak datang secepat tadi. Titik "sedang mengetik..." muncul lama sekali, sampai aku sempat berpikir ia mungkin mengurungkan niatnya.

 

Lalu akhirnya satu pesan masuk.

 

Arven:

 

> Kamu pernah merasa seperti... lelah sekali?

 

Dadaku menghangat dan mengencang secara bersamaan. Pertanyaan itu terlalu jujur. Terlalu membuka. Seolah ia sedang berdiri di ambang pintu yang selama ini ia jaga rapat-rapat.

 

Aku duduk lebih tegak, menaruh buku di pangkuan.

 

me:

 

> Lelah karena apa?

 

Butuh waktu cukup lama sebelum ia kembali membalas.

 

Arven:

 

> Entahlah. Rasanya seperti ingin diam. Istirahat dari semuanya sebentar.

 

Aku bisa merasakan sesuatu di balik kalimat itu. Bukan sekadar lelah karena sekolah atau tugas. Tapi ada beban lain, sesuatu yang ia sembunyikan, tapi beratnya tetap tampak dari tiap kata yang ia pilih.

 

Aku mengetik dengan pelan, takut salah. Tanpa sadar aku menggigit pelan bibir bawahku saat jemariku mulai menari diatas keyboard.

 

me:

 

> Kalau kamu mau cerita, aku dengar. Tidak harus sekarang... tapi aku ada di sini.

 

lama lagi. lebih lama dari sebelumnya. Tapi aku menunggu. Aku tidak ingin membuatnya merasa dipojokkan.

 

Setelah beberapa menit, akhirnya ia membalas.

 

Arven:

 

> tidak apa-apa, Maeva. Aku hanya terlalu banyak berpikir, maaf.

 

Aku menggeleng kecil, padahal ia jelas tidak bisa melihatku. Kenapa dia selalu merasa perlu minta maaf?

 

me:

 

> Tidak perlu minta maaf, serius...

 

kamu tidak perlu.

 

Lagi-lagi aku menunggu. Aku bisa merasakan ia ingin bicara sesuatu, tapi menahan dirinya sendiri. Dan tiba-tiba, satu pesan pendek muncul, tanpa aku ketahui apa alasan dibalik pesan itu.

 

Arven:

 

> Terima kasih.

 

Aku menarik napas perlahan.

 

bukan karena kata itu istimewa, tapi karena aku tahu, untuk arven, kalimat sesederhana itu tidak pernah keluar tanpa alasan.

 

Ia tidak terbiasa berterima kasih.

 

setidaknya bukan dengan tulus seperti ini.

 

Malam itu terasa seperti langkah kecil. sangat kecil, tapi nyata.

 

Seakan ada pintu yang terbuka sedikit di dalam dirinya masih gelap, masih penuh hal yang ia sembunyikan, tapi untuk pertama kalinya, aku melihat ada celah.

 

Dan aku berharap ia akan menunjukkan sisanya suatu hari nanti.

 

Aku menutup ponsel, mematikan lampu, lalu berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Tetapi di kepalaku, yang terulang hanya satu hal.

 

Suara arven yang tidak benar-benar aku dengar, tapi bisa aku rasakan dari caranya menulis, "aku lelah."

 

Sesuatu seakan memberitahuku bahwa itu bukan sekadar kalimat lewat. Tapi aku juga bingung.

 

Dan entah kenapa, aku merasa bab selanjutnya dalam hidup arven... tidak akan semudah tawa kecil kami di gerbang sekolah hari itu.

 

Dan Arven.. Dia.. Adalah teka-teki, sesuatu yang masih berusaha kupecahkan.