Penulis: NURJANNAHTUN NIKMAH

BAB 8 - The Quiet Laughter


Langit sore berubah ungu keemasan ketika jam pelajaran terakhir berakhir. Halaman sekolah sudah mulai kosong, hanya tersisa beberapa murid yang menunggu jemputan atau sekadar duduk di bangku taman. Maeva berjalan pelan menyusuri lorong sambil merapikan seragamnya yang kusut karena seharian duduk.

 

Hari itu terasa berat, bukan karena tugas, tapi karena pikirannya masih berkelana ke pertengkaran kecil dengan ibunya semalam. Ia butuh udara. Butuh suasana yang lebih sunyi dari rumahnya.

 

Ketika ia keluar dari gedung sekolah, angin sore membuat beberapa helai rambutnya terangkat. Ia baru hendak menuruni tangga ketika suara langkah muncul dari belakangnya.

 

Tenang. Teratur. Sedikit berat.

 

Ia menoleh, dan matanya langsung menangkap siluet seseorang.

 

Ransel yang di selempangkan santai di bahu, rambut yang sedikit acak-acakan karena angin, dan ekspresi yang tetap dingin seperti biasa. Tapi ada sesuatu di mata itu, entah lelah, entah kosong, yang membuat Maeva tanpa sadar memperlambat langkahnya.

 

"Kamu belum pulang?" tanya Maeva pelan.

 

Arven berhenti di anak tangga dua tingkat di atasnya. "Belum. Saya menunggu jalanan agak sepi."

 

Maeva mengangguk kecil. Kemudian bertanya, "Kamu pulang sendiri?" basa basi yang sangat basi sejujurnya. Karna ia sendiri sudah tau jawabannya. Tapi entahlah, hanya pertanyaan itu yang terlintas di benaknya sekarang.

 

Arven mengangguk. "Iya." Jawabannya singkat, tapi tidak memotong.

 

Mereka sama-sama turun. Arven menjaga jarak satu langkah di belakang, tapi perhatiannya tetap ke arah Maeva sesekali-bukan menatap, lebih seperti memastikan ia tidak menghalangi.

 

Saat tiba di halaman, angin mengibaskan dedaunan dari pohon kenari tua di samping lapangan. Maeva memegang perutnya yang tiba-tiba merasa kosong.

 

"Hm... aku lapar," gumamnya.

 

Arven menoleh cepat, refleks. "Kamu belum makan?"

 

Maeva tertawa ringan. "Sudah, tapi lapar lagi."

 

Tepat saat itu, penjual cilok lewat di depan gerbang. Aroma gurihnya langsung memukul hidung Maeva. Ia mendekati gerobak tanpa pikir panjang.

 

Melihat itu, Arven sempat ragu. Ia mengikuti Maeva dengan langkah kecil, seperti seseorang yang tidak tahu harus pergi atau menetap.

 

"Kamu suka cilok?" Arven bertanya saat melihat raut Maeva yang terlihat senang.

 

Maeva menatapnya sambil tersenyum. "Suka banget, kamu mau?"

 

Arven menatap cilok, lalu Maeva, lalu cilok lagi. "Saya tidak terbiasa makan jajanan seperti itu."

 

"Hah? kenapa?"

 

"Entah. Bukan selera saya."

 

Maeva mengangkat alis, menyeringai kecil. "Berarti belum pernah nyoba."

 

Arven tidak menjawab. Gestur kecil di wajahnya sudah cukup, ia tidak bisa menyangkal itu.

 

Tapi satu lagi yang membuatnya diam. Yaitu ekspresi Maeva yang menurutnya sangat jarang ia lihat dari wajah gadis itu, dan ia tidak menyangka Maeva akan menunjukkan raut seperti itu dihadapannya.

 

"Lucu." batin Arven.

 

"Bang, dua tusuk ya!" Maeva memesan tanpa menunggu Arven setuju.

 

Arven refleks mendekat setengah langkah. "Maeva. Saya tidak pesan-"

 

"Iyaa, aku yang pesenin," katanya sambil memberikan uang ke tangan abang cilok.

 

Arven diam. Tapi ia menerima satu tusuk cilok yang disodorkan Maeva, seperti menerima surat penting.

 

"Cobain," kata Maeva.

 

Arven mencoba menggigit sedikit. Ia mengunyah pelan, seolah sedang menilai kualitas makanan kelas bintang lima.

 

Maeva menahan tawa.

 

Arven menelan, lalu tidak menyangka dirinya sendiri mengangguk kecil. "Tidak buruk."

 

"Iya kan? Bilang aja enak."

 

"Saya tidak bilang begitu."

 

"Tapi muka kamu kayak yang lagi nikmatin makanan terenak sedunia."

 

"Itu berlebihan," jawab Arven tanpa ekspresi. Tapi telinganya sedikit memerah.

 

Maeva langsung tertawa, bukan tawa keras, tapi tawa lembut yang mengalir begitu natural sampai Arven menundukkan kepalanya sedikit, seolah malu ketahuan bahwa ia menyukai suara itu.

 

Mereka lalu kembali berjalan melewati jalan kecil di samping taman sekolah, sambil masih memakan cilok masing-masing.

 

Tidak ada yang terburu-buru.

 

Tidak ada tekanan untuk mengobrol.

 

Suasana sunyi, tapi sunyi kali ini... itu hangat.

 

Ketika mereka melewati bangku batu dekat taman, Maeva duduk sebentar. Arven berdiri di samping, tidak ikut duduk, tapi tidak pergi juga.

 

"Capek?" tanya Arven.

 

"Sedikit." Maeva menyandarkan kepala sebentar ke belakang. "Hari ini banyak pikiran."

 

Arven menatapnya sebentar. "Tentang rumah?" balas Arven hanya menebak, dalam hati ia merutuki dirinya, kenapa juga ia menebak hal privasi seperti itu kepada gadis yang baru beberapa hari ia kenal ini. Rasanya sungguh kurang sopan.

 

Maeva mengerjap. Ia tidak menyangka Arven akan menanyakan hal itu.

 

"Iya," jawab Maeva jujur, yang membuat Arven cukup kaget.

 

Pasalnya jika ia perhatikan, sungguh ia menebak, bahwa kehidupan Maeva itu, pasti sangat cemara. Berbanding terbalik dengan dirinya yang begitu berantakan.

 

Cukup lama jeda diantara mereka berdua sampai Arven kembali membuka suara. "Saya tidak tahu apa-apa," kata Arven lirih, "Tapi saya harap kamu kuat."

 

Maeva terdiam.

 

kata-kata itu, datang dari seorang Arven-terasa jauh lebih menyentuh daripada jika diucapkan siapa pun.

 

Maeva menatapnya. "Makasih ya."

 

Arven mengangguk singkat, tiba-tiba ia merasa canggung. "Hm."

 

Hening kembali mengisi jarak keduanya, tapi kali ini bukan hening yang kikuk. Lebih seperti dua orang yang mulai nyaman hanya dengan keberadaan masing-masing.

 

Ketika langit semakin gelap, Arven mengecek jam.

 

"Saya pulang dulu. Jalanannya semakin gelap."

 

"iya, kamu hati-hati," ujar Maeva.

 

Arven berjalan dua langkah, lalu berhenti.

 

Ia menoleh "Soal tugas tadi, terimakasih sudah membantu saya mengerjakan bagian satu."

 

Maeva berkedip kaget. "Oh ya, sama-sama."

 

Arven menunduk sebentar, suaranya lebih rendah, "Kalau kamu butuh bantuan tugas... saya bisa coba bantu."

 

Maeva tersenyum lebar. "Beneran?"

 

"Selama saya mampu," jawab Arven cepat, sedikit gugup.

 

Maeva berdiri dari bangku. "Kalau gitu... aku bakal nyari kamu terus buat ngerjain tugas."

 

Arven menatap gadis itu, ekspresinya datar tapi sudut bibirnya sedikit naik.

 

"Jangan berlebihan." Nada itu seperti omelan kecil yang manis.

 

Maeva tertawa lagi dan menggeleng pelan.

 

Arven berbalik menuju motornya, motor hitam besar elegan model terbaru. Tapi sebelum menaikkan helm, ia sempat mengusap tengkuknya pelan. Gestur khas seseorang yang sedang menahan gugup.

 

Maeva melihat itu.

 

Dan ia tersenyum sendirian.

 

"Arven," panggil Maeva tiba-tiba.

 

Arven menoleh cepat.

 

Maeva melambaikan tangan kecil. "Makasih ya buat tadi, aku seneng."

 

Arven terdiam satu detik, dua detik, tiga. Kemudian ia membalas dengan anggukan singkat, "Sama-sama."

 

Ia menyalakan motor, lampunya menyala lembut, dan suara mesinnya terdengar halus. Saat motor itu melesat keluar gerbang, Maeva masih menatap Arven.

 

Bukan karena ia suka. Belum.

 

Tapi ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dada gadis itu, sesuatu yang hangat, dan Maeva tidak menolaknya.

 

Rumah besar keluarga Maheswara malam itu sunyi. Lampu-lampu gantung menyala lembut, tapi suasananya tetap terasa dingin-terlalu rapi, terlalu hening, terlalu seperti museum tempat tidak ada yang benar-benar hidup.

 

Edgar melangkah masuk ke salah satu kamar paling ujung, tempat ayahnya beristirahat. Bau obat pelan menyatu dengan aroma kayu jati.

 

Mahendra bersikeras pulang siang tadi. Alasannya, katanya ia rindu dengan rumah dan bosan dirumah sakit.

 

Mahendra, yang rambutnya sudah sepenuhnya memutih, duduk tegak di kursi panjang dengan selimut menutupi kaki. Usianya sudah lewat tujuh puluh, tapi sorot matanya tetap tajam-tajam dengan cara yang tidak bisa ditolak.

 

"Akhirnya kau datang juga," suara Mahendra ringan, tidak kasar, tidak lembut juga

 

Edgar menarik kursi. "Saya pulang dari kantor lebih cepat hari ini. Dokter bilang papa perlu kontrol tekanan darah."

 

Mahendra tertawa kecil, "Aku tua, Edgar, bukan rapuh. Kau tidak perlu memperlakukanku seperti pasien yang menunggu ajal."

 

Edgar menahan diri. Ayahnya memang selalu begitu, keras, tak pernah puas, dan tidak pernah salah.

 

"Ini bukan soal papa tua atau tidak," ucap Edgar pelan. "Ini kesehatan."

 

Mahendra menatapnya lama, lalu melemparkan pandangan ke arah jendela yang gelap. "Lalu bagaimana kesehatan anakmu? Sudah kau lihat dia hari ini?"

 

Edgar diam. Rahangnya mengeras.

 

Mahendra melanjutkan, suaranya berubah dingin, tapi menyimpan sesuatu mirip penyesalan yang tidak mau ia akui.

 

"Sudah kah kau memperhatikan kondisinya?"

 

"Saya mengurusinya, tenang saja." balas Edgar cepat.

 

"Dengan cara menyuruhnya diam setiap kali dia punya perasaan?" Mahendra mencondongkan badan. "Kau mengulang hal yang sama persis seperti yang dulu kulakukan padamu."

 

Edgar langsung membuang pandangan, tidak suka mendengar itu, "Papa tidak tahu apa yang saya lakukan," katanya pendek. Suaranya pelan, tapi penuh pertahanan.

 

Mahendra tampak menahan emosi.

 

"Tentu aku tahu. Aku melihatnya di mata anak itu. Mata seorang yang terbiasa tidak ditanya, tidak dipeluk, tidak dipercaya."

 

Edgar mengepalkan jemarinya. "Papa tidak berhak bicara soal pelukan. Pah."

 

Mahendra terdiam sejenak.

 

"Kau tahu kenapa anakmu pelan-pelan mati dari dalam?" suara Mahendra merendah. "Karena ibunya pergi, dan karena kau tidak pernah memberi ruang bagi dia untuk tumbuh."

 

Edgar menegang.

 

"Ini bukan soal ibunya," balas Edgar dingin. Suaranya rendah, bergetar oleh marah yang ditahan. "Jangan bawa-bawa dia."

 

"Tentu saja soal dia," potong Mahendra tajam. "Semenjak perempuan itu pergi, kau memperlakukan Arven seolah kepergiannya adalah kesalahan anak itu."

 

Edgar memukul meja ringan-cukup keras untuk menunjukkan ia kehilangan kendali.

 

"Jangan bahas wanita di depanku!"

 

Mahendra memandang putranya lama.

 

"Sampai kapan kau mau menyangkal Edgar? Istrimu yang meninggalkan rumah itu bukan kesalah Arven. Itu salah kalian berdua. Kau dengan egomu, dia dengan..."

 

Mahendra terhenti.

 

Edgar menatapnya tajam, "Dengan apa?"

 

Mahendra bersandar. Pandangannya jatuh ke lantai kayu.

 

"Dengan rahasianya."

 

Sunyi.

 

Hening.

 

Sesunyi kuburan keluarga.

 

Edgar memicingkan mata. "Rahasia apa yang bahkan tidak bisa papa sebut itu?"

 

Mahendra menghela napas panjang. Raut wajahnya mendadak tampak lebih tua.

 

"Itu... rahasia yang membuat keluarga ini mulai retak sejak lama."

 

Edgar menahan napas. Dan seperti selalu, ketika pembicaraan menyentuh masa lalu-Mahendra mengakhiri.

 

"Terlalu banyak yang perlu kau ketahui, Edgar. Tapi malam ini bukan waktunya."

 

"Pah." Edgar mencondongkan badan. "Bicara." tekan pria itu.

 

Mahendra menatap putranya lama. "Aku hanya ingin mengatakan satu hal, jangan jadikan anakmu korban dari masa lalu yang seharusnya hanya milikmu."

 

Udara menjadi dingin. Dingin sampai ke tulang.

 

Edgar berdiri, "Arven baik-baik saja." suaranya datar.

 

Mahendra memejamkan mata, seolah lebih sakit mendengar kalimat itu dibanding mendengar penyakit di tubuhnya sendiri.

 

"Tidak, Edgar..." Suaranya parau. "Tidak ada anak yang baik-baik saja kalau rumahnya dipenuhi luka."

 

Edgar terdiam, tak membantah, tapi tidak juga mengiyakan. Saat ia melangkah keluar kamar, Mahendra memanggilnya pelan,

 

"Dan Edgar... kalau kau terus menolak mengakui apa yang terjadi antara kau dan ibunya Arven dulu..."

 

Mahendra membuka mata, sorotnya menusuk, "Kau akan kehilangan Arven. Sama seperti kau kehilangan wanita itu."

 

Pintu di tutup keras.

 

Mahendra terdiam sendirian di dalam kamar besar itu, menggenggam selimutnya erat.

 

"Arven, cucuku..." gumamnya hampir tak terdengar. "Anak itu tidak pantas mewarisi dosa orang tuanya."

 

Lampu kamar redup. Dan rumah besar Maheswara kembali tenggelam dalam hening yang menyakitkan.