Rumah Maheswara selalu tampak megah dari luar, pilar-pilar tinggi, halaman luas, hening yang terlalu sempurna. Namun menjelang pukul satu dini hari, kemegahan itu berubah menjadi kesunyian yang menelan apa pun yang hidup di dalamnya.
Hanya satu kamar yang masih menyala.
Kamar Arven.
Lampu belajar kecil menerangi kertas-kertas yang tertata rapi di meja. Semua bersih, semua tersusun, semua mengikuti pola yang ia biasakan sejak kecil. Tidak ada ruang untuk berantakan. Tidak ada ruang untuk salah.
Di layar laptopnya, halaman tugas sejarah terbuka separuh. Arven mengetik tanpa suara, hanya bunyi lembut dari keyboard yang memecah keheningan malam.
Ia mengusap ujung alisnya. Matanya sayu tapi tetap fokus. Jam tidur bukan bagian dari hidupnya, belajar sampai larut adalah kebiasaan yang terlanjur menempel sejak dulu.
"Kemampuan tidak muncul dari istirahat berlebihan, Arven." Kata-kata lama ayahnya terus melekat.
Kadang ia benci mengingatnya, tapi tubuhnya sudah terbiasa mengikuti.
Ponselnya bergetar pelan di samping laptop.
Ia menoleh. Nama yang muncul di notifikasi membuat jarinya berhenti. Arven meraih ponselnya, dan menatap sejenak layar itu, sebelum menekan pesan dan pergi ke ruang percakapan.
'Kamu udah tidur?'
Arven tidak langsung membalas. Jam segini... kenapa gadis masih bangun?
'Belum. Saya masih belajar.'
Balasan dari Maeva muncul cukup cepat,
'Jam segini?'
Arven menarik napas kecil,
'Saya terbiasa begini.'
ama tidak ada balasan masuk. Ia bahkan sempat mengira Maeva sudah tertidur. Tapi kemudian muncul lagi,
'Kamu nggak capek? Ini udah malam banget.'
Pertanyaan sederhana, namun anehnya terasa menusuk. Tak ada yang pernah benar-benar bertanya begitu pada Arven.
Ia membalas,
'Capek itu wajar.'
Sebaris jeda, lalu balasan muncul.
'Kamu keras banget sama diri kamu sendiri, kelihatan nya.'
Arven menegang, bukan karena
marah, tapi karena ketikan itu rasanya terlalu tepat.
Ia mengetik dingin,
"Saya tidak butuh penilaian."
Ia tidak bermaksud kasar, tapi kalimat itu keluar otomatis-refleks bertahan.
Maeva membalas setelah beberapa menit hening,
'Maaf aku cuma khawatir.'
Arven menutup mata sejenak.
Khawatir?
Tentang dirinya?
Padahal mereka baru kenal beberapa
hari?
Ia menggenggam ponsel lebih kencang. Kalimat Maeva membuat dinding tipis yang selalu ia bangun terasa retak kecil.
Ia menurunkan nada tulisannya,
'Kamu tidak perlu khawatir, saya
baik-baik saja.'
Padahal ia tidak baik-baik saja. Ia tahu itu.
Tapi ia juga tahu tidak ada gunanya mengatakan yang sebaliknya. Arven meletakkan ponselnya kembali di samping laptop. Kali ini kepalanya terasa begitu pusing.
Pukul 02.49
Ia kembali menatap layar laptop. Matanya mulai perih, tapi pikirannya memaksa tubuhnya untuk tetap bergerak.
Di luar kamar, suara langkah pelan lewat-salah satu pembantu yang memastikan pintu depan terkunci.
Ketukan lembut muncul di pintu.
"Mas Arven?" suara itu lirih. Bi Rani, yang sejak Arven kecil tinggal di rumah ini.
"Ya bi?"
"Mas belum tidur?" Suaranya bernada cemas, tapi hati-hati. Semua orang di rumah ini belajar untuk bicara padanya seperti berjalan di atas kaca.
"Belum. Saya masih belajar bi."
Bi Rani membuka pintu sedikit, wajahnya tampak lelah tapi penuh perhatian. "Mas, besok sekolah. Tidur dulu, ya? Nanti sakit."
Arven menoleh, "Saya akan tidur setelah selesai, bi."
Bi Rani tahu tidak ada gunanya memaksa. Ia hanya mengangguk pelan. "Kalau butuh apa-apa... Mas panggil saya ya,"
Arven memberikan anggukan tipis, hampir tidak terlihat.
Setelah pintu ditutup, kamar kembali menjadi dunia kecil yang dingin, tapi itulah dunia yang ia kenal.
Arven menyimpan file revisi tambahan lalu mengirimnya ke Maeva. Setelah beberapa menit, Maeva membalas,
'Kamu beneran masih kerja? kamu hebat, beneran gak capek gitu.'
Arven terdiam. Kata itu-hebat-tidak pernah ditujukan kepadanya tanpa nada menuntut.
Ia mengetik,
'Ini hal biasa.'
'Ya, tapi tetep aja, makasih udah kerjain bagiannya.'
Arven memejamkan mata, merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak terbiasa diberi rasa terima kasih tanpa syarat. Ia tidak terbiasa dihargai tanpa harus sempurna dulu.
Ia mengetik pelan,
"Selamat malam, Maeva."
Balasan datang cepat,
'Selamat malam, arven.'
Nama yang ditulis tanpa jarak. Tanpa tekanan. Tanpa rasa takut.
Arven menatap layar itu lama sekali.
Kemudian ia menutup laptop, mematikan lampu belajar, dan berbaring perlahan.
Rumah tetap sunyi. Tapi anehnya-malam terasa tidak sesepi biasanya.
Arven menatap langit-langit kamar. Ada apa dengan nya? Untuk pertama kalinya, dirinya sedikit membuka diri untuk seseorang yang bahkan belum terlalu ia kenal.
Kamar maeva hening. Layar ponselnya baru saja meredup setelah pesan terakhir arven terbaca. hanya ada sisa getaran kecil di dada-semacam rasa bersalah yang samar.
Maeva menarik napas pelan. ia baru ingin mematikan lampu meja belajar ketika-
Tok tok tok!!!
Pintu kamarnya dibuka tanpa menunggu jawaban.
Anindira berdiri di ambang pintu. wajahnya tegang. bahunya kaku. tatapannya menusuk seperti biasa.
"Kamu belum tidur?" suaranya datar, tapi dinginnya terasa sampai tulang. Maeva refleks berdiri. "Aku baru selesai belajar, bu."
"Belajar?" alis ibunya terangkat sinis. "Atau membuang waktu dengan hal yang tidak berguna?"
Maeva menunduk. "Aku-"
"Nilai ulangan ekonomimu turun tiga poin. tiga, maeva." tekan Anindira berjalan masuk sambil melipat tangan. "Kamu pikir itu tidak berarti? kamu pikir itu hal kecil?"
"Itu hanya tiga poin, bu... aku akan perbaiki."
"Hanya?" suara Anindira meninggi, tapi tetap terkontrol. "Kamu bicara seolah kamu punya banyak ruang untuk gagal."
Maeva menggigit bibir. Kata-kata itu mengenai tepat di tempat yang paling sakit.
"Maaf, bu," ucapnya lirih.
"Jangan minta maaf. Buktikan." Anindira menatap meja belajar, melihat buku yang masih terbuka. "Atau memang ini batas kemampuanmu?"
Kalimat itu, terlalu mirip seperti masa kecil maeva. Terlalu sering ia dengar.
Sesuatu di dada maeva retak sedikit.
"Aku sudah berusaha," ucap maeva akhirnya, suaranya nyaris bergetar. "Aku memang tidak sebaik kakak, tapi
"Sebaik Prameswari?" Anindira menatapnya seolah kata itu adalah sebuah penghinaan. "Memangnya kau bisa menyentuh standar kakakmu?"
Maeva spontan mengangkat kepala, menatap ibunya yang terlihat marah. Ada luka yang menumpuk bertahun-tahun di dadanya, dan malam ini kelewatan penuh.
"Ibu selalu membandingkan aku," ucap maeva, pelan tapi jelas. "Apa tidak lelah?"
Anindira membeku sesaat, ia tidak menyangka anaknya berani menjawab.
"Maeva," Anindira mempersempit matanya, "Jangan mulai."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," suara Maeva pecah. "Aku berusaha, tapi ibu tidak pernah melihat usahaku."
"Karena kamu tidak pernah menunjukkan sesuatu yang pantas dilihat."
Deg.
Ucapan itu, Maeva merasakannya lebih keras daripada sebuah tamparan. Napasnya tersengal, tapi ia menahan air mata mati-matian.
"Ibu tidak tahu apa pun tentang aku," katanya lirih, "Ibu bahkan tidak pernah tanya apakah aku baik-baik saja."
Anindira menghadap penuh ke arah maeva. Suaranya lebih tajam dari sebelumnya. "Karena perasaanmu bukan prioritas. Yang penting adalah masa depanmu. Bukan air matamu."
Maeva memejamkan mata sejenak. itu, selalu begitu.
"Kalau begitu," ucap Maeva, tanpa sadar suaranya meninggi sedikit, "Biarkan aku punya ruang sendiri bu. Aku tidak bisa terus begini."
Anindira tersenyum miring. senyum yang bukan bahagia-lebih seperti kemenangan.
"Kamu ini mulai melawan, ya?"
Maeva menelan ludah.
"Aku hanya ingin ibu berhenti memperlakukan aku seolah aku selalu salah."
"Karena selama ini kamu memang begitu!"
Kata itu memukul tepat di inti dirinya. Maeva kehilangan kendalinya sepersekian detik.
"Aku memang tidak sempurna seperti kakak!" kalimat itu keluar lebih keras dari yang ia bayangkan. Tidak berteriak... tapi lebih tinggi dari nada biasanya.
Dan itu cukup membuat Anindira benar-benar marah.
Plak!
"JANGAN BANDINGKAN DIRIMU DENGAN PRAMESWARI!" suara Anindira meninggi dengan dingin. "Kamu bahkan tidak mendekati standarnya! Kamu ini terlalu lembek, terlalu emosional, terlalu... mengecewakan."
Maeva tertegun, pipinya terasa panas akibat tamparan Anindira, dunia di sekitarnya terasa runtuh sesaat. Nafas Maeva hampir tersengal, mati-matian ia menahan isak tangisnya.
"Baik," ucap Maeva akhirnya, suaranya gemetar tetapi ia mencoba berdiri tegak. "Kalau memang begitu pandangan ibu, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Hening beberapa saat sebelum Anindira mendekat dua langkah, menatap maeva dari atas ke bawah. "Rapikan dirimu. Dan jangan menangis malam-malam seperti anak kecil."
Begitu kata terakhir Anindira sebelum berjalan keluar dengan sisa-sisa amarah.
Kejadian itu seperti tusukan dari dalam.
Ketika pintu ditutup, ketika suara langkah ibunya menjauh, Maeva jatuh duduk di tepi kasur. Napasnya patah-patah. ia menggenggam lengannya sendiri, kuat, terlalu kuat.
Hingga kuku-kukunya menekan kulit sampai memerah.
Bukan luka fisik, bukan pula sesuatu yang bisa dilihat siapapun. Tetapi cukup untuk membuatnya menahan diri untuk tetap diam agar tidak menangis keras-keras.
Ia menutup mulut dengan telapak tangan.
Kenapa harus seperti ini...? Kenapa aku tidak pernah cukup...?
Di luar pintu, rumah sudah senyap seperti biasa. Tapi di dalam dadanya, ia menangis, begitu keras, hingga dadanya terasa akan remuk.