Sore hari di sekolah itu selalu membawa suasana yang berbeda. Matahari condong rendah, menyusup di sela gedung putih yang menjulang, menimbulkan kilau keemasan di halaman yang mulai lengang. Suara siswa siswi yang tadi memenuhi udara perlahan mereda menjadi bisik-bisik yang terbawa angin.
Maeva keluar dari kelas dengan langkah perlahan, memeluk buku catatannya di dada. Rambut sebahunya tertiup lembut. Hari ini terasa panjang baginya-bukan karena pelajaran, tetapi karena pikirannya masih tersangkut pada kerja kelompok yang sudah mereka lakukan.
Interaksi pertamanya dengan Arven. Jujur saja, ia masih memikirkan nada suara laki-laki itu yang tenang, sedikit datar, tapi tidak kasar.
Ia berjalan menuruni tangga, berniat pulang lebih awal. Namun ia berhenti sesaat di depan deretan loker luar kelas. Ada seseorang berdiri di sana, menunduk sambil mengecek isi tasnya seperti sedang memastikan tidak ada yang tertinggal.
Lelaki itu mengenakan hoodie hitam dengan lengan sedikit tergulung yang menenggelamkan seragam sekolah yang lelaki itu pakai, dasinya dilepas longgar, dengan cahaya matahari sore yang jatuh di bahunya, membuat warna rambut coklat gelapnya tampak lebih terang. Ia terlihat dingin seperti biasanya, menjaga jarak, tidak menoleh pada siapa pun.
Maeva sempat ragu untuk melewatinya begitu saja. Namun langkahnya terpaut ketika pikirannya mengingat satu hal kecil,
Revisi kerja kelompok.
Ia menarik napas, menyiapkan diri, ia tidak ingin terlihat kikuk, meskipun sebenarnya ia memang begitu.
"Arven?" panggilnya pelan.
Arven mengangkat kepala secara refleks, mata hazel yang tajam namun tidak sepenuhnya dingin itu menoleh ke arahnya. Sejenak, tidak ada yang bergerak. Mereka sama-sama terdiam, seperti sedang menentukan apakah percakapan ini perlu dilanjutkan atau cukup berhenti di tatapan pertama.
"Ya?" jawabnya pelan. Suaranya rendah tetapi jernih.
Maeva meremas buku catatannya tanpa sadar. "Aku mau memastikan soal revisi tugas tadi. Guru meminta kita menambah dua poin di bagian analisis, kan?"
Arven mengangguk kecil. "Iya. Bagian itu saya yang kerjakan. Nanti malam saya kirim ke kamu setelah selesai."
"O-oh... ya. Tidak apa-apa? Maksudku, semoga tidak mengganggu jadwalmu."
"Tidak." Jawab Arven cepat, tetapi tidak terdengar tidak sopan. Hanya singkat, efisien.
Maeva mengangguk pelan. "Baik, terima kasih."
Sunyi kembali jatuh di antara mereka setelahnya.
Hanya terdengar suara sepatu beberapa murid yang lewat. Dan jauh di lapangan, suara gawang voli yang dipindahkan. Sore itu terasa seperti menahan napas. Maeva tidak tahu harus membahas apa lagi. Rasanya aneh untuk sekadar berlalu setelah memanggilnya, tapi ia juga tidak menemukan topik tambahan yang masuk akal.
Arven yang justru lebih dulu membuka suara.
"Kamu pulang sekarang?" tanyanya. Kalimat itu terdengar ragu, seperti bukan kalimat yang biasa ia tanyakan pada seseorang.
Maeva sedikit terkejut. "Iya. Biasanya aku pulang jam segini kalau tidak ada kegiatan."
"Begitu."
Arven kembali menutup ritsleting tasnya, gerakannya tenang dan rapi.
Ada sesuatu di sorot mata Arven, seperti lelaki itu ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak yakin harus bagaimana. Maeva menyadari itu dan entah kenapa, ia merasa jantungnya berdegup lebih cepat.
Setelah beberapa detik, Arven menatap jam di pergelangannya. Ekspresinya berubah sangat tipis, ada jeda, seolah alarm kecil berbunyi di kepalanya.
"Saya harus pulang sekarang," ucapnya tiba-tiba.
Maeva mengangguk. "Oh. Baik."
Arven tampak tergesa. Ia memanggul tasnya dengan cepat, tapi gerakannya tetap terkontrol. Bukan panik, tapi lebih seperti seseorang yang terbiasa pulang tepat waktu, seakan ada sesuatu yang menunggu, atau seseorang?
"Maaf, saya tidak bisa bicara lebih lama," tambahnya singkat.
Maeva menggeleng pelan. "Tidak apa-apa kok,"
Arven tidak menjelaskannya, tentu saja. Ia tidak pernah menjelaskan apa pun tentang dirinya. Tetapi Maeva sempat melihat bagaimana rahangnya mengeras sesaat-refleks yang tidak sadar ia lakukan setiap kali ada sesuatu terkait rumahnya.
"Aku akan tunggu revisinya malam ini. Jika sempat," kata Maeva lagi, suaranya lembut.
"Baik, saya kirim," jawab Arven.
Mereka sama-sama diam lagi.
Angin sore lewat, membawa aroma rumput basah dari lapangan. Di antara senyap, Maeva memperhatikan Arven menepis rambutnya yang jatuh sedikit ke dahi. Laki-laki itu tampak gelisah, seperti berdiri di dua tempat, tubuhnya ada di sekolah, tetapi pikirannya berada di tempat lain yang tidak bisa dijamah siapa pun.
Maeva tersadar saat Arven melangkah mundur sedikit.
"Sampai besok," katanya.
Ucapan sederhana, tapi terasa seperti jembatan kecil antara dua dunia yang belum benar-benar bersentuhan.
Maeva mengangguk. "Ya, kamu bisa pulang duluan Arven." tanpa Maeva sadari ada nada khawatir disana yang muncul tanpa sebab, dan Arven menyadarinya.
Arven sempat menatapnya sekali lagi sebelum berbalik. Tatapan yang singkat-namun cukup lama untuk membuat Maeva mendadak merasakan sesuatu yang tak ia pahami.
Lalu Arven pergi.
Langkahnya cepat, hampir terburu. Ia menyusuri koridor yang mulai kosong, turun tangga, dan menghilang di balik tikungan menuju parkiran. Maeva masih diam di tempatnya, tidak tahu kenapa matanya mengikuti punggung laki-laki itu sampai hilang sepenuhnya.
Ia baru sadar sedang menggenggam buku catatannya terlalu kuat. Ponsel di kantung seragamnya bergetar, dengan cepat ia rogoh untuk melihat siapa disana.
'Non, saya sudah didepan gerbang'
Begitu isi pesan yang terdapat di beranda ponselnya. Maeva melirik jam, ia terlambat 19 menit dari jam biasanya. Kemudian ia berjalan segera menuju gerbang dan pulang tanpa membalas pesan supirnya itu.
Di sisi lain sekolah, Arven berhenti cukup lama, menyandarkan punggungnya ke dinding gedung belakang, menarik napas dalam-dalam, seakan menstabilkan dirinya.
Ia menutup mata sesaat.
"Saya harus pulang sekarang." batin nya.
Bukan karena pekerjaan rumah. Bukan karena siapa pun menunggu.
Tetapi karena ia tahu Edgar tidak suka ketika ia pulang lewat dari jam tertentu.
Waktu sudah lewat beberapa menit dari biasanya, dan itu sudah cukup membuat jantungnya terasa seperti diseret ke bawah.
Ia membuka mata lagi, tatapan hazelnya lebih tajam, lebih waspada.
Langkahnya melanjutkan perjalanan ke area parkir dengan keheningan yang hanya ia sendiri yang bisa mendengar keheningan yang dipenuhi perhitungan, seberapa cepat ia harus pulang untuk menghindari kemarahan ayahnya.
Namun ada sesuatu lain di benaknya, sesuatu yang mengganggu dengan cara yang tidak ia mengerti.
Sementara itu, di gerbang sekolah, Maeva berhenti sebentar sebelum masuk ke mobil. Suara sopirnya memanggil pelan, tetapi ia masih memikirkan satu kalimat, satu ekspresi, satu tatapan singkat.
"Langsung pulang, non?" tanya supir Maeva, barangkali anak majikan nya itu ingin singgah ke toko buku, seperti yang biasa Maeva lakukan. Maeva hanya balas dengan gelengan pelan dan senyum kecil, lalu masuk ke mobil.
Saat ia mematikan mesin motornya di garasi, suara knalpot terakhir menggema pelan, lalu hilang.
Arven turun dari motor lalu menghela napas panjang. Lengan hoodie nya masih sedikit kusut akibat menarik tas seharian. Ia sempat menatap pintu rumah beberapa detik.
Ada rasa segan. Ada rasa takut yang tidak mau ia akui.
Kemudian ia masuk.
"Selamat malam, mas Arven," sapa seorang asisten paruh baya, Bi Rani, dengan sedikit membungkuk. Suaranya lembut seperti sapaan rutin yang sudah ia ucapkan puluhan kali.
Arven mengangguk dan tersenyum kecil. "Malam, bi."
Dari arah dapur, asisten lain yang lebih muda, Tika, muncul sambil membawa gelas air, "Mas, tadi Pak Edgar sudah pulang."
Arven mengangguk lagi. "Baik."
Tidak ada perubahan di raut wajahnya, namun tangan yang memegang tas sedikit menegang. Ia berusaha menahan reaksi.
Suara TV terdengar dari ruang keluarga berita malam. Arven bisa menebak siapa yang menontonnya tanpa perlu melihat. Ia masuk ke ruang makan lebih dulu, sebenarnya hanya alibinya untuk menghindari Edgar.
Makan malamnya sudah disiapkan rapi. Nasi, sup bening, sayur, dan ayam kecap yang biasanya ia sukai. Tapi malam ini, rasanya semua makanan itu terlihat hambar.
Ia duduk.
Sepuluh detik berlalu.
Lalu muncul suara berat nan dingin yang membuat udara seolah turun derajat dibelakangnya.
"Kamu baru pulang."
Edgar muncul dari arah ruang keluarga, mengenakan kemeja hitam rapi. Garis ekspresi di wajahnya tajam, tapi lebih mirip kesal yang lewat disamarkan oleh sikap dingin.
"Saya ada kerja kelompok, Ayah." Nada Arven datar.
"Jam segini?"
"Iya."
Edgar tidak menatapnya lama, hanya sekilas, itu cukup membuat Arven merasakan dinginnya. "Nilaimu minggu ini turun dua angka. Kamu tahu konsekuensinya."
Arven menahan napas sepersekian detik. "Saya tahu."
"Bagus." pria itu tersenyum licik lalu berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan tekanan yang seperti menempel di dinding.
Tika mendekat sedikit ragu. "Mas... mau mbak hangatin supnya?"
"Tidak perlu mbak, saya makan seperti ini saja." Arven mencoba tersenyum kecil.
Setelah beberapa sendok, ia menaruh garpu. "Mbak, saya naik dulu." panggil Arven pada Tika yang sedang berjalan kearahnya.
Tika mengangguk pelan. "Baik, Mas. Mau mbak buatkan teh atau susu Mas nantinya?"
Arven menggeleng diselingi senyum pepsodent yang tiba-tiba, "Tidak usah mbak, terimakasih."
Tika kembali mengangguk dengan senyum gemas terhadap anak majikan nya itu. "Yowes,"
Arven kemudian melangkah ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Tidak ada foto keluarga yang terpajang disana, kecuali foto yang ia simpan diam-diam di nakas sebelah kasurnya.
Hanya sunyi.
Ia duduk di kursi belajar, menyalakan lampu belajar. Di sana, revisi kerja kelompok yang tadi ia janjikan ke Maeva masih belum ia sentuh.
Maeva.
Nama itu membuat dadanya terasa aneh.
Arven memutar kursi, menyandarkan kepala ke belakang. Ia menutup mata sebentar. Wajah Maeva yang sore tadi muncul-diam, rapi, tapi ada semacam kegugupan lembut yang sulit dijelaskan.
Mereka berdiri sama-sama awkward. Bicara soal revisi. Dan kalimat terakhir Maeva yang seharusnya biasa saja, justru mengenai sisi rapuhnya.
"Kamu bisa pulang duluan, Arven." kata Maeva dengan nada suara tersirat khawatir itu masih berputar di kepalanya, padahal Arven tidak pernah menceritakan apapun ke gadis itu tentang dirinya, dan mereka baru saja kenal, kenapa gadis itu khawatir? Atau Arven yang terlalu terlihat?
Biasa.
Tapi pedih.
Kalimat itu mengena karena dua hal,
Yang pertama, Maeva tidak tahu apa-apa tentang rumah Arven, tapi ia bisa menebak takutnya, dan itu membuat Arven merasa terlihat.
Yang kedua, Arven tidak suka terlihat. Itu membuatnya marah pada dirinya sendiri.
Arven mendesah, menepuk pelan dahinya. "Fokus."
Ia membuka laptop, mengetik revisi. Suara di kamar hanya ketikan keyboard, lampu meja, dan suara ayah yang kadang lewat di lorong sambil berbicara entah pada siapa. Setelah selesai, ia menatap file itu lama. Ia harus mengirimnya ke Maeva.
Benar, itu bagian dari kerja kelompok bukan, tapi tangannya sempat berhenti di atas layar.
Ia merasa bodoh.
Kenapa ragu?
Itu hanya mengirim file.
Akhirnya ia mengambil ponselnya. Saat ia membuka kontak Maeva, jantungnya entah kenapa berdetak dua kali lebih keras.
Ia mengetik.
Maeva A.
Ini revisinya. Sudah saya perbaiki bagian argumen.
File
Ia ragu dua detik.
Lalu kirim.
Belum lima belas detik, Maeva membalas.
Maeva A.
Makasih Arven, kamu cepet juga.
Arven mengetik balasan, hapus, ketik lagi,
hapus lagi. Hingga akhirnya ia kirim kalimat paling aman.
Biasa saja.
Benar-benar dingin. Bahkan ia sendiri merasa tidak sopan.
Maeva membalas,
Ooh. Baik kalau begitu, makasih banyak. Kamu hati-hati, ya.
Arven menatap kalimat itu lama. Sangat lama.
Hati-hati? Untuk apa?
Tidak ada yang pernah bilang begitu padanya dengan tulus sejak lama.
Ia hendak membalas. Ingin mengetik "kamu juga", atau setidaknya "terima kasih".
Tapi suara pintu kamar ayahnya terbuka keras.
Brak!!!
Arven refleks memasukkan ponsel ke saku, napasnya terputus sepersekian detik.
Itu refleks yang sudah tertanam sejak kecil, ketakutan yang terlalu dalam.
Langkah kaki ayahnya terdengar.
Tidak menuju kamarnya. Tapi tetap saja, suara itu membuat tengkuknya menegang.
Di layar, pesan Maeva masih terbuka. Arven mengetik balasan cepat-cepat sebelum ia berubah pikiran.
Kirim.
Selamat malam.
Ia menutup ponsel, melepas napas perlahan lalu menutup laptopnya dan mematikannya. Ia memilih untuk pergi tidur sekarang, kepalanya dari pagi sempat berdenyut nyeri setelah kemarin malam begadang menyelesaikan latihan soal matematika untuk Olimpiadenya bulan depan.
Baru 12 menit ia merebahkan badan, ketukan di pintu dengan cepat mencuri kesadarannya.
"Mas.." suara lembut itu, meski merasa malas untuk bangun, Arven tak kuasa mengabaikannya.
"Iya bi, kenapa?" Tanya Arven ketika melihat Bi Rani berdiri didepan pintu kamar sambil membawa nampan berisi secangkir susu hangat dan semangkuk bubur ayam.
"Boleh bibi masuk?"
Arven mengangguk dan mempersilahkan wanita paruh baya itu masuk kekamarnya dan memilih untuk mengekori wanita itu dibelakang saat bi Rani meletakkan nampannya di atas nakas.
"Tika bilang Mas makannya sedikit sekali, hanya beberapa sendok, ayamnya juga tidak dihabiskan."
Arven duduk di tepi kasur dan menatap wanita itu dengan senyum. "Arven cuma capek sedikit bi, mau langsung cepat istirahat saja."
Bi Rani mengangguk walau tidak percaya sepenuhnya, "Mas terlambat pulang, tidak dipanggil bapak ke ruang kerja?" tanya bi Rani lagi sambil mengelus pucuk kepala Arven dengan lembut.
Senyum Arven perlahan memudar, ia lupa, tadi Edgar sempat mengatakan konsekuensi, tapi pria itu tidak memanggilnya dari tadi. Apa pria itu lupa?
"Tidak bi, tapi ayah tadi sempat lewat didepan kamar saya, dia sedang menelfon dengan seseorang kalau tidak salah, tapi tidak mengetuk atau apapun."
Bi Rani menghela nafas, lega. Setidaknya untuk malam ini, anak majikannya itu tidak akan mendapatkan hukuman apapun. "Yowes, nanti makanannya dihabiskan jangan disisa. Mau bibi temani makan atau nda usah?" tanya bi Rani.
Arven menggeleng.
"Yasudah bibi kebawah, barangkali Tika atau wening yang akan naik mengambil piring kotornya."
Arven mengangguk lagi, lelaki itu tanpa sadar memejamkan mata, menikmati usapan tangan hangat bi Rani dikepalanya.
"Bibi turun, selamat malam, setelah makan langsung Istirahat ya?"
Arven tanpa sadar tertawa kecil, cerewet sekali asisten rumah yang satu ini, tapi Arven menemukan kenyamanan disana.
"Iyaaaa bi,"