Penulis: NURJANNAHTUN NIKMAH

BAB 5 - Small Collision


Pagi itu, cahaya matahari menembus jendela tinggi kelas matematika, memantul di lantai marmer yang bersih dan membentuk bayangan lembut di antara meja-meja kayu jati yang tersusun rapi. Aroma buku baru bercampur wangi kayu furnitur yang terawat menambah kesan elegan dan tenang, seolah setiap detail sengaja disiapkan agar suasana tetap terkendali.

 

Murid-murid masuk satu per satu, langkah mereka terdengar jelas tapi tidak menggangu. Suasana kelas tenang, tapi hidup, mengalir dengan ritme halus yang nyaman untuk memulai hari.

 

Kemudian guru wanita dengan rambut kuncir kuda dan kacamata minus hitam masuk dengan langkah mantap, sambil menutup pintu perlahan di belakangnya. Suara pintu ditutup terdengar jelas, tidak keras, tapi cukup untuk menarik perhatian setiap murid. "Hari ini, kalian akan mengerjakan tugas kelompok, seperti yang sudah saya sampaikan minggu lalu. Saya harap setiap kelompok bekerja serius dan menyelesaikan sesuai standar yang telah ditetapkan. Tidak ada toleransi untuk ketidakteraturan," ujarnya sambil menatap seluruh kelas.

 

Beberapa murid mengangguk, sebagian lain membuka buku catatan, dan beberapa memeriksa laptop. Bisikan ringan terdengar, tapi masih dalam nada rendah.

 

Guru melangkah ke papan tulis dan menuliskan daftar kelompok. "Kalian sudah terbagi kecuali beberapa pasangan terakhir, yang akan saya umumkan sekarang," kata guru berkacamata minus itu.

 

"Kelompok terakhir, Maeva Alinora, kamu akan bekerja sama dengan Arven Caldreus," suara Bu Chelsea terdengar jelas. Semua mata menoleh ke arah dua insan tersebut yang duduk hampir tegang di kursi masing-masing, beberapa murid mulai berbisik pelan.

 

Arven menunduk sebentar kemudian menoleh menatap Maeva, lalu mengangguk sopan. Maeva menatapnya balik, menahan senyum tipis, lalu menunduk menata buku catatannya.

 

Seorang teman berambut bob yang duduk disebelah Maeva berbisik pelan sambil mencodongkan sedikit tubuhnya kearah Maeva, "Wah Va, katanya dia itu nggak terlalu suka ngobrol sama cewek, kamu yakin bisa make sure sama dia?"

 

Maeva hanya mengangkat bahu, suaranya menjawab pelan, "Kita lihat saja nanti, Ren."

 

"Oke deh, kalau begitu aku ke meja Ardanu dulu ya, sekelompok sama tuh anak rese soalnya." kata Renata dengan sedikit guratan kesal di wajah sambil bangkit menuju meja yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk.

 

"Iya Ren,"

 

Kemudian para murid pun berdiri segera, mencari pasangan kelompoknya masing-masing, begitu juga Arven yang melangkah ke arah meja Maeva.

 

Arven duduk berhadapan dengan Maeva setelah menarik bangku milik Renata, sambil menata buku dan laptopnya dengan rapi, lalu menatap Maeva sebentar sebelum fokus ke catatan.

 

Tidak ada kata panjang, tidak ada basa-basi, hanya anggukan singkat, cukup sebagai salam bagi keduanya.

 

Suasana kelas tetap calm tapi hidup, aroma buku, cahaya pagi, dan ritme murid-murid yang tertata rapi membuat suasana nyaman namun serius.

 

Bu Chelsea berjalan di antara meja, sesekali menegur pelan jika ada yang terlalu berisik. "Fokus pada tugas kalian. Kelompok yang rapi dan tepat waktu akan mendapat nilai tambahan. Jangan sia-siakan kesempatan ini."

 

Maeva menatap papan tulis, menarik napas pelan, dan mulai menyusun catatan. Arven membuka buku referensi dengan cermat, menyiapkan diagram dan catatan tambahan.

 

Saat tugas dimulai, suasana menjadi canggung. Maeva menatap Arven sebentar, merasa gugup. "Jadi... bagian pertama ini aku yang tulis, atau kamu?" tanyanya pelan, dengan nada bersahaja tapi penuh pertimbangan.

 

Arven mencondongkan tubuh ke arah kertas. "Jika saya boleh menyarankan, mari kita mulai dengan membagi konsep dulu. Saya bisa membuat diagram, sementara kamu menulis penjelasan." Suara Arven tenang tapi tegas, memberi Maeva sedikit rasa aman.

 

Maeva mengangguk, menulis perlahan, sambil sesekali menatap Arven yang terlihat fokus menyusun diagram. Keheningan itu canggung, tapi tidak memalukan. Setiap gerakan mereka seolah menyesuaikan ritme satu sama lain. Sesekali Arven menunjuk sesuatu di diagram.

 

"Kamu bisa menambahkan contoh di sini, agar lebih jelas," ucap lelaki itu, suaranya rendah tapi jelas.

 

Maeva mengangguk sembari tetap menulis. "Iya, aku coba," jawabnya pelan. Suasana tetap tenang dan sunyi karna semua murid mulai terlalu fokus pada pekerjaan mereka. Hanya terdengar suara pena diatas kertas, gesekan kursi, dan lembaran kertas yang dibalik.

 

Jam berlalu, mereka mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Maeva merasakan sesuatu yang aneh di dada, rasa nyaman yang sebelumnya jarang ia rasakan. Arven juga mulai menyesuaikan dirinya, tetap pendiam tapi sedikit lebih mudah menatap Maeva, memberi komentar singkat tapi membantu.

 

Seorang teman di kelompok lain menoleh, bisik ringan tapi tidak terlalu terdengar, "Eh, mereka kelihatan rapi dan serius banget ya."

 

"Mereka baru pertama kali dipasangkan, tapi kayaknya klik," sahut temannya sambil tersenyum.

 

Maeva menulis cepat, sesekali melihat diagram Arven, mencoba memahami logikanya. Arven sesekali menatap catatan Maeva, memberi sedikit koreksi. "Bagus, tapi di sini sebaiknya gunakan istilah yang lebih spesifik," ucapnya singkat.

 

Maeva mengangguk. "Oke, aku ubah," katanya, tangannya bergerak cepat menulis. Suasana canggung itu berubah menjadi ritme halus, kerja sama mereka pelan tapi nyata, interaksi diam yang terasa penuh makna.

 

Setelah hampir satu jam, tugas selesai. Maeva menutup buku catatannya, menarik napas lega. "Kita sudah hampir selesai. Besok tinggal revisi sedikit, kan?"

 

Arven menunduk, matanya menatap catatan terakhir. "Iya, revisi kecil saja."

 

Ketika bel istirahat berbunyi, Maeva menutup tasnya dan menatap ke jendela kelas yang menghadap taman. Ia menarik napas pelan, merasakan campuran lega dan rasa ingin tahu terhadap Arven yang kini masih berada didepannya.

 

"Terima kasih atas bantuan hari ini," ucap Maeva pelan, matanya menatap Arven sebentar dengan senyum.

 

Arven yang semula menatap buku, kini mendongak menatap gadis berambut sebahu itu. "Sama-sama." jawabnya singkat, tersenyum tipis, sangat tipis di bibirnya. Kemudian lelaki itu berdiri, mengemasi barangnya dan kembali ke mejanya semula.

 

Para murid pun keluar untuk pergi ke kantin, seketika ruangan itu menjadi berisik karna suara-suara yang saling mendorong agar satu sama lain memberi jalan keluar. berbondong-bondong

 

"Cepetan ah! Keburu nasi kuning depan gerbang habis woi!" Teriak Ardanu yang semakin menambah kebisingan. Keberadaan cowok itu sungguh seperti jangkrik di tengah malam.

 

"Sabar titisan Wali Songo!" semprot yang lainnya kesal.

 

Siang itu, di lantai 15 gedung pencakar langit yang menampung kantor pusat perusahaan properti Atmadibrata, suasana terasa sibuk dan tegang. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul di lantai marmer yang mengkilap, memantulkan bayangan furnitur kayu gelap dan rak-rak berisi dokumen.

 

Suara ketukan keyboard, printer, dan telepon membentuk ritme sibuk yang khas bagi kantor perusahaan kelas atas.

 

Anindira Larasati, duduk di balik meja kerjanya yang luas, dikelilingi blueprint proyek terbaru, laptop yang menyala, dan dokumen-dokumen penting. Tangannya bergerak cekatan, menandatangani kontrak, mengecek laporan keuangan, sekaligus membalas email dari investor. Tidak ada satu gerakan pun yang terbuang.

 

Setiap detik dihitung, setiap keputusan dipertimbangkan.

 

Atmadibrata Aditya, suaminya, masuk membawa setumpuk dokumen, mengenakan jas rapi khas pengacara senior. Ia menaruh dokumen itu di meja bundar samping Anindira, menatap istrinya sebentar.

 

Mereka sudah terbiasa bekerja berdampingan, meski kata-kata jarang terlontar.

 

"Kamu terlihat sedikit tegang, Anindira. Ada masalah dengan proyek?" tanya Atmadibrata dengan nada tenang, mencoba menyelami ritme istrinya tanpa mengganggu.

 

Anindira menutup laptop sebentar, menatap suaminya dengan senyum tipis yang elegan. "Bukan apa-apa, hanya beberapa revisi minor yang harus aku selesaikan. Tidak perlu dikhawatirkan."

 

Atmadibrata mengangguk perlahan, menahan rasa ingin bertanya lebih jauh. Ia menyadari ada ketegangan yang samar di wajah istrinya, tapi memilih untuk tidak menimbulkan prasangka atau interogasi. "Baiklah..." balasnya, suaranya menenangkan tapi tetap penuh perhatian.

 

Anindira tersenyum tipis lagi, matanya kembali fokus pada dokumen di depannya. Suasana kantor tetap sibuk, riuh dengan ketukan keyboard, panggilan telepon, dan langkah kaki staf yang berlalu lalang. Namun di dalam hatinya, ada bayangan gelap yang tetap ia tahan rapat-rapat-rahasia yang bisa menghancurkan semuanya jika terbongkar.

 

Tiba-tiba telepon di meja Anindira bergetar. Layar menampilkan nomor asing tanpa nama. Anindira menatapnya, jarinya berhenti sejenak di trackpad, kemudian menekan tombol angkat dengan wajah tetap tenang.

 

"Halo?" suaranya terdengar rendah dan terkendali, profesional.

 

Di ujung sana, suara laki-laki terdengar dingin dan penuh ancaman. "Anindira... lama tidak bertemu. Aku yakin kamu masih ingat aku... Sweety."

 

Sial.

 

Jantung Anindira berdegup lebih cepat, tapi ekspresinya tetap stabil, seolah tidak ada yang bisa mengganggu ketenangan profesionalnya. "Ini tidak relevan."

 

Anindira berdiri dan berjalan masuk ke ruangan kecil yang tersedia tanpa menimbulkan gerak gerik mencurigakan, "Jangan ganggu hidupku. Aku sudah menutup semuanya bertahun-tahun lalu," jawabnya dengan nada dingin tapi terkendali, berusaha mengecilkan suara agar tak terdengar oleh Atmadibrata diluar.

 

"Tidak semudah itu," balas suara itu mengejek. "Aku ingin bagian yang menjadi hakku, atau semua orang di sekitarmu akan membayar."

 

Anindira menekan tombol ended, menarik napas panjang, menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi, lalu lintas kota, dan hiruk-pikuk orang-orang yang bergerak cepat menjadi latar untuk ketenangan yang ia coba pertahankan.

 

Keparat lelaki itu.

 

Atmadibrata menyadari ketegangan di wajah Anindira. Ia mencondongkan tubuh, menatap istrinya sebentar. "Siapa?" tanyanya.

 

Anindira membuka laptopnya pelan, tetap menjaga senyum tipis di wajahnya. "Bukan siapa-siapa, tidak penting," jawabnya singkat, nada yang elegan tapi menahan segala kecemasan

 

Atmadibrata mengangguk perlahan, tetap menahan diri dari rasa ingin bertanya lebih jauh. Ia tahu ada sesuatu yang tidak diungkap, tapi ia menghargai privasi istrinya. Ia kembali menatap dokumen di tangannya, membiarkan Anindira bekerja sambil menahan rasa penasaran yang samar.

 

Anindira menarik napas panjang, matanya menatap kota di luar jendela, memvisualisasikan strategi untuk menghadapi 'pria masalalu' nya tanpa meninggalkan jejak, tanpa mengganggu reputasi perusahaan, dan terutama, tanpa membahayakan keluarga.

 

Telepon bergetar lagi, pesan singkat dari sumber yang sama: "Aku menunggu."

 

Mata Anindira menajam, menahan rasa panik yang ingin muncul. Gedung tinggi, lalu lintas kota, hiruk-pikuk bawah-dunia berjalan normal, namun rahasia itu bisa menghancurkan segalanya. Ia kembali bekerja, mengetik, menandatangani dokumen, mengatur jadwal rapat-setiap gerakan tampak natural dan profesional.

 

Ketika sore merayap dan cahaya mulai memudar, Anindira berdiri, menyesuaikan blazernya, menatap Brahmanta yang masih fokus pada laporan keuangan. Ia tersenyum tipis, elegan, tapi di matanya tersimpan bayangan kekhawatiran. Rahasia itu tetap tersembunyi, dan hari ini ia tetap menjadi pengendali.

 

Tetap Anindira Larasati Atmadibrata, wanita yang mampu menyembunyikan kegelapan di balik wajah sempurna dan profesionalismenya yang menakjubkan.

 

Ruangan rumah sakit terasa hening, hanya terdengar denting lembut monitor jantung dan langkah perawat yang sesekali lewat. Cahaya matahari menembus tirai tipis, membentuk garis-garis lembut di lantai keramik putih, seakan menjadi sarat ketegangan.

 

Di ranjang rumah sakit, Mahendra duduk tegak, tubuhnya ringkih namun aura kebijaksanaan tetap terpancar dari setiap geraknya. Wajahnya lembut, mata penuh perhatian, bibirnya menyunggingkan senyum kecil saat melihat anaknya masuk.

 

Edgar berdiri di dekat pintu, jas hitamnya rapi, ekspresinya tegas seperti biasanya. Ia melangkah mendekat, menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit dibaca, lalu melangkah masuk dan duduk di kursi sisi ranjang rumah sakit.

 

"Pah... bagaimana kondisinya hari ini?" Edgar membuka percakapan, nadanya tenang namun tegas.

 

Mahendra menarik napas panjang, suara serak ringan terdengar, namun tetap lembut. "Cukup baik, Edgar. Aku ingin berbicara sedikit... tentang Arven."

 

Edgar menatapnya, alisnya sedikit mengerut. "Arven? Papa ingin bicara soal apa tentang anak itu?"

 

Mahendra terdiam cukup lama sebelum mencondongkan tubuh nya, matanya menatap dalam ke arah Edgar. "Aku tahu kau selalu menekankan standar tinggi padanya. Namun aku ingin kau mempertimbangkan hatinya. Arven adalah pewaris, ya, tapi ia juga seorang anak. Ia tidak seharusnya menanggung seluruh tekanan seorang pewaris sendirian."

 

Edgar menegakkan tubuh, suaranya terdengar keras meski terkontrol. "Pah... dia harus siap. Setiap langkah, setiap keputusan, harus sempurna. Nilainya turun sedikit saja itu tidak cukup. Aku tidak bisa membiarkan perusahaan kita jatuh karena dia kurang memenuhi ekspektasi."

 

Kakek menggeleng perlahan, suaranya lembut namun tegas, seperti angin yang menenangkan badai. "Edgar, angka hanyalah angka. Hati dan jiwa seorang anak jauh lebih penting daripada nilai di atas kertas. Aku tidak ingin kau memaksanya terlalu keras hingga ia kehilangan dirinya sendiri."

 

Edgar menekan bibirnya, napasnya sesaat yang memburu. "Maaf pah tapi aku tidak bisa, tidak bisa membiarkan kelemahan ada. Kita membangun ini bertahun-tahun, pah. Dan aku tidak akan membiarkan Arven gagal hanya karena kelemahannya sendiri."

 

Kakek menghela napas panjang, menatap anaknya dengan mata penuh kasih. "Edgar... kau keras, memang. Tapi kerasmu itu jangan sampai membuatnya menutup hati. Arven butuh kita, bukan hanya tuntutan. Aku ingin kau menjaga hatinya, sebagaimana kau menjaga perusahaan ini."

 

Edgar menunduk sebentar, menahan amarah yang bergejolak. "Aku hanya ingin ia menjadi pewaris yang siap, agar tidak mengecewakan kita. Agar ia tidak mengulang kesalahan yang sama dengan generasi sebelumnya."

 

Kakek menepuk tangan Edgar dengan lembut. "Dan itulah yang akan terjadi jika kau memberinya ruang untuk tumbuh. Jangan biarkan kekerasan atau tuntutan berlebihan merenggut rasa percaya dirinya. Anak itu masih muda, dan hatinya rapuh. Aku ingin kau ingat itu."

 

Edgar menatap jendela sejenak, memikirkan Arven yang duduk di meja belajarnya, mata letih namun tetap menahan segala tekanan. Ia merasakan konflik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, antara tanggung jawab sebagai pewaris dan sebagai ayah.

 

Kakek tersenyum tipis, matanya lembut, menatap anaknya dengan penuh pengertian. "Edgar... aku tahu kau ingin yang terbaik, dan itulah sebabnya aku percaya kau bisa menyeimbangkan keras dan lembut. Arven membutuhkan keduanya. Jangan sampai kau kehilangan dia karena terlalu keras, anakku."

 

Edgar menarik napas panjang, menunduk. Suara hatinya bergejolak, tapi akhirnya ia hanya mengangguk.

 

Ruangan rumah sakit tetap hening, cahaya sore merayap lembut, menutupi dua generasi pria yang saling bertukar pandang itu.